Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
SAH


__ADS_3

🍒Byan


"Saya terima nikah dan kawinnya, Asmara Arsytanti .........."


"Sah??"


"SAHHH!!!!!" Semua saksi, bahkan tamu yang hadir berteriak mengucap kata 'SAH' pada pernikahan kami.


Hanya selang tiga hari, aku melakukan lamaran pada Asmara. Hari ini, aku sudah sah menjadi suaminya. Memilikinya seutuhnya.


Seolah mimpi yang menjadi nyata, aku dan Mara kini telah bersanding dipelaminan.


Yah, pernikahan kami hanya dilakukan sederhana saja. Ini semua karena permintaan Mara yang tak menginginkan pesta mewah sebuah pernikahan.


Padahal, aku sudah susah payah merayunya. Ingin menjadikan Mara bidadari tercantik di dunia meski hanya sehari saja. Tetapi, Mara berkehendak lain. Ia tetap bersikeras ingin pernikahan sesederhana mungkin. Meski aku memiliki banyak uang untuk membuat pesta mewah.


"Mara, kamu cantik sekali," bisikku padanya. Meski memakai riasan sederhana, aura kecantikan Mara sangat terpancar.


Cantik sekali.


"Baru sadar, Mas?" jawab Mara sembari menatapku dengan mata yang kian membola.


Aku terkikik geli, "bukan begitu, aku hanya memuji istriku saat ini." Jelasku.


"Memuji? Jangan bilang ada maunya!" Mara mencibir, merasa tak yakin dengan apa yang baru saja aku katakan.


"Jika ditanya ada maunya atau tidak, tentu saja mauku banyak!!!" Ucapku menggodanya.


Namun bukannya dijawab, aku malah mendapat cubitan pedas pada bagian perutku. Padahal jas tebal sudah aku pakai, namun cubitan tangan Mara bisa menembusnya.


"Aw!!!" Tetiakku kesakitan.


"Jangan macam-macam!" Ancam Mara, kembali membelalakkan matanya.


Lucu sekali.


Sembari memandanginya, aku hanya bisa mengusap-usap bagian tubuhku yang sakit akibat cubitan istriku yang terkesan garang ini.


Seperti mimpi, tapi inilah kenyataannya.


Seorang wanita yang dulu sempat kusia-siakan, kusakiti berulang kali namun tetap sabar menghadapi sikapku. Kini, ia telah menjadi milikku.


Milikku seutuhnya.


Aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan lagi mengecewakannya. Aku akan membahagiakan dirinya, separuh hidupku.


"Byan!!!!"


Seseorang menyadarkan lamunanku, mengganggu otakku yang kini tengah berfikir keras.


"I-iya??"

__ADS_1


Ternyata Umi datang bersama Star, bidadari kecilku.


"Ada apa, Umi? " Tanyaku.


"Jangan melamun, masih banyak tamu!" Ucap Umi mengingatkan.


Aku hanya meringis, menggaruk tengkuk leherku beberapa kali.


"Papa melamunkan apa?" Kini berganti Star yang bertanya.


Pertanyaan yang tak harus aku jawab, karena itu merupakan rahasiaku.


"Rahasia," jawabku sedikit berbisik.


Kemudian aku memilih pergi meninggalkan Star dan Mara do pelaminan menuju ke beberapa tamu yang tengah bercakap-cakap dengan Abi.


Daripada aku terus bersanding dengan Mara, membuat jiwaku seolah terus bergetar, sekaan ingin meruntuhkan bumi ini.


Hiruk-pikuk tamu yang berdatangan secara bergantian mulai memudar, meski mengundang beberapa rekan bisnis dan beberapa sanak keluarga saja, acara pernikahanku yang sederhana ini ternyata cukup melelahkan.


Apalagi ketika aku melihat Mara yang kini tengah lelah dengan mata sayunya karena terus kedatangan tamu. Aku merasa iba, dan memintanya untuk segera beristirahat.


Pukul sepuluh malam, acara pun resmi diakhiri. Hampir seluruh tamu sudah meninggalkan tempat, hanya tersisa keluarga inti saja.


Karena pernikahanku ini di gelar di rumah Mara, Umi dan Abi pun harus pulang bersama Star yang sudah tidur digendongan pengasuhnya.


"Umi dan Abi pulang dulu," pamit Abi malik.


"Tolong, titip Byan, ya?" Bubuhnya.


"Iya, Abi." Mara hanya menjawab singkat disertai senyum manis penutup rasa lelahnya.


"Kalau Byan macam-macam, kamu langsung hubungi Umi!" Kali ini berganti Umi yang berpesan.


"Umi, apa-apaan, sih?" Rutukku. Merasa tak terima karena Umi seolah menyudutkanku.


"Kalau kamu macam-macam sama Mara, awas!!!" Umi Andryani mengacungkan kepalan tangannya kehadapanku. Membuatku merasa sedikit tertekan karena takut akan ancamannya.


Mara malah terkikik melihatku seperti ini. Seakan ia bahagia jika aku terzolimi oleh ibuku sendiri.


"Suami di zolimi malah senang!" Rutukku.


Namun Mara enggan menjawab, ia malah terus terkikik dan meninggalkanku sendiri setelah usai berpamitan dengan Abi dan Umi.


"Byan, istirahatlah dulu," Ibu mertuaku pun bersuara.


Aku menutup gerbang depan, kemudian ikut masuk ke dalam, "ibu juga istirahat, sudah malam,"


Ibu tersenyum, "sudah, biar ini Ibu yang membereskan. Lebih baik kamu segera membersihkan diri,"


Aku pun mengangguk, menuruti perintah Ibu mertuaku dan berjalan menuju ke kamar. Dimana kamar Mara berada.

__ADS_1


Tok! tok!


Aku mengetuk pintu beberapa kali, namun tak kunjung dibukakan oleh si pemilik kamar.


"Mara, apa kamu ada di dalam?" Tanyaku sedikit berteriak.


Aku pun memilih memutar knop pintu ketika tak juga mendapat jawaban. Ternyata pintu pun tak terkunci.


Aku lihat kamar masih kosong, tak ada seseorang pun di dalamnya.


"Apa mungkin Mara sedang mandi??" Aku bermonolog dalam hati.


Benar saja, suara percikan air dari kamar mandi pun terdengar oleh telingaku meski sedikit samar-samar.


Aku mengendurkan dasi yang terasa mencekik, mendudukkan bokong ini pada pinggiran ranjang. Sayangnya, mataku malah terkantuk-kantuk saat melihat bantal berwarna Pink di atas ranjang.


Sepertinya mataku kali ini butuh istirahat. Karena sejak kemarin, aku hanya tidur beberapa jam saja.


Sembari menunggu Mara selesai mandi, lebih baik aku merebahkan tubuh ini sejenak. Lumayan, bisa mengurangi rasa kantukku saat ini.


Baru saja aku ingin memejamkan mata, aku sudah mendengar suara langkah kaki Mara. Dengan cepat aku pun memejamkan mata ini.


Namun, sepertinya mataku tak akan fokus terpejam. Karena indra penciumanku saat ini malah menghirup aroma wangi yang ditimbulkan oleh tubuh Mara sejak keluar dari kamar mandi.


"Mas, Byan??" Mara terdengar terkejut. Sepertinya ia belum mengetahui jika aku telah berada di kamarnya.


"Mas, kamu tidur??" Tanya Mara.


Namun aku tak menjawabnya. Meski tangan Mara terasa mengayun di depan wajahku, aku tetap tak membuka mata. Padahal, semerbak aroma wangi dari tubuhnya semakin menyengat. Membuat gai-rahku naik turun.


Apa yang aku lakukan?? Mengapa aku malah seperti orang yang sedang berpura-pura?


Aku merasa Mara sudah sedikit menjauh dari ranjang. Karena penasaran, aku pun memilih membuka sebelah mataku untuk memastikan kemana ia berada.


Ternyata Mara menuju ke sudut kamar, dimana lemari pakaiannya berada. Tak sampai di situ, apa yang Mara perbuat kali ini sangat tak pantas untuk kulihat.


Handuk berwarna hijau olive yang membalut setengah tubuhnya kini terlepas, menampilkan keseluruhan lakukan tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Hingga mataku yang tadinya hanya terbuka sebelah kiri saja, kini keduanya membola sempurna. Meski pun pertunjukan ini bisa aku lihat dari sisi samping saja.


Aku bisa melihat jelas bagaimana caranya ia memakai b-ra dan juga C-D yang berwarna senada. Keduanya berwarna cokelat susu, sangat pas di padukan dengan warna kulit sawo matangnya.


Eum, aku hanya bisa menelan ludah. Tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena, mataku saat ini sedang menikmati pertunjukannya.


Ketika aku melihat Mara mengambil sebuah dress berwarna pink, dengan corak kartun hello kitty, aku merasa itu tak cocok untuknya.


Hingga saat ia akan memakai dress itu, aku dengan cepat menghentikannya.


"Jangan di pakai!!!" Ucapku dengan suara yang sedikit keras.


Mata Mara membelalak, mulutnya pun menganga menatap ke arahku. Saat itu pula, pertunjukan yang tengah kenikmatan harus usai.


"Mm...mas Byan!!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2