
Setelah aku melihat kedatangan Mas Byan saat itu, hatiku begitu sakit rasanya. Apalagi ketika mengetahui jika keluarga Mas Byan adalah penyebab dari kehancuran keluargaku, meski aku belum menggali sepenuhnya informasi itu.
Bisa-bisanya Mas Byan datang ke rumah dan mengatakan dengan santai jika ia sedang mencariku. Jarak yang ia tempuh itu bukan dekat, tapi ia harus menempuh perjalanan panjang hingga ratusan kilo meter.
Aku tidak mengerti jalan pikiran Mas Byan, jika aku menjadi dirinya aku tak akan mungkin bertindak seperti ini dan menghabiskan banyak uang dan tenaga saja. Sangat merugikan bagiku.
Dari awal kedatangannya yang tak diketahui, ia sudah berdebat dengan Steven. Bahkan perdebatan mereka berdua membuat kepalaku semakin terasa nyeri dan berdenyut.
Mungkin Mas Byan lelah, karena aku tak juga meladeni pertanyaannya. Hingga ia terus saja nekat dan mendekat ke arahku hanya untuk mendapatkan jawaban yang keluar dari mulutku sendiri.
"Mara, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Mas Byan masih tak ingin menyerah. Ia pun kembali mendorong Steven dan kembali mendekat ke arah ku. Namun, aku tetap bungkam dan tak mengatakan hal apapun. Bahkan, mataku pun tak berani menatap kearahnya.
"Ck!" Steven berdecak kesal. Ia pun kembali menarik tubuh Mas Byan agar menjauh dariku.
"Mara, bicaralah," pinta Byan memohon. Bahkan permohonan yang terdengar dari mulutnya itu membuatku menjadi serba salah. Bahkan situasi ini seakan menjebakku untuk menyiksa orang lain.
"Dasar pria tak tahu diri, sudah menyakiti Mara dan keluarganya tapi kau masih berani mendekatinya!"
Bughh!!
Setelah memaki Mas Byan, Steven pun memukulnya. Aku sungguh tak menginginkan hal ini terjadi, Steven bertindak diluar batasannya.
Ketika Steven memukul wajah Mas Byan dengan keras, hatiku terasa semakin terpukul. Bagaimana tidak? Aku tidak bisa membelanya sama sekali. Bahkan mulutku ini terasa kelu hanya untuk mengatakan 'jangan' terhadap Steven agar ia menghentikan aksi pukul-memukulnya itu.
Parahnya lagi, Mas Byan tak membalas pukulan dari Steven. Hal itu semakin membuat hatiku ini bertambah sakit, bersalah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Kutatap wajah lesu dan pucat itu, ternyata sudut bibir Mas Byan pun telah mengeluarkan darah segar. Ingin aku berteriak sekuat mungkin, tapi itu hanya terjadi didalam sanubariku saja. Aku tak memiliki keberanian lagi mendekatinya setelah aku meninggalkannya kemarin tanpa pamit, tanpa alasan jelas.
Aku malu, tapi aku juga sakit hati karena kehancuran keluargaku selama puluhan tahun akibat perbuatan keluarga Mas Byan. Belum lagi aku memikirkan Ibu, perasaannya kini pasti semakin hancur. Bahkan Ibu lah yang paling hancur di sini.
Pertikaian kecil pun terjadi, Steven memancingku untuk menjelaskan semua penyebab yang mungkin belum Mas Byan ketahui. Entah ia pura-pura tak tahu atau memang ia belum mengetahui hal ini. Aku masih bingung, sekaligus syok memikirkan semua yang terjadi pada kehidupanku. Hingga aku mendengar Mas Byan mengatakan suatu hal dengan suara seraknya.
"Mara, aku akan mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Tapi sungguh, aku tidak mengetahui skandal yang kau maksud," terdengar nafas Mas Byan begitu berat. Bahkan suaranya itu seolah tertahan ditenggorokan dan nyaris tak terdengar.
"Jika ini ada hubungannya dengan keluargaku, maka aku akan bertanggung jawab, Mara,"
Terdengar berat, bahkan aku tak mampu lagi menopang tubuhku ini agar tetap berdiri. Setelah Mas Byan keluar dengan langkah cepat, entah dia mau kemana aku tidak tahu.
Tubuhku pun ambruk di atas lantai. Air mata yang tadi aku bendung, kini akhirnya tumpah ruah. Sungguh, pura-pura tegar, pura-pura kuat, itu memang teramat sulit. Apalagi ini kulakukan di depan orang yang amat kucintai.
"Mara," Steven menghampiriku, ia membantuku berdiri dari lantai dimana tubuhku telah terkulai lemas dan tak berdaya. Ia menuntunku dengan pelan menuju ke sofa ruang tamu.
Entah ucapan ini adalah sebuah penenang dari Steven, yang jelas semua memang ada benarnya. Jika aku tidak segera mengatakan hal ini pada Mas Byan, mungkin masalah itu tidak akan selesai-selesai.
Aku hanya pasrah, apa yang akan terjadi kedepannya nanti. Meski begitu, aku tidak akan bisa membenci keluarga Mas Byan. Namun Ibu dan Randy adalah alasan yang sedang menjadi kekhawatiranku saat ini.
"Mara, jangan terlalu dipikirkan," lagi-lagi Steven mencoba menenangkanku. Ucapannya terdengar lirih sembari mengusap pelan pundakku. Aku tak menyukai segala bentuk sentuhan Steven, hingga aku pun mengelak agar tangannya itu tak lagi mendarat di pundakku.
"Steve, bisakah kau tinggalkan aku sendiri?"
Aku meminta Steven untuk pergi dari rumahku. Karena aku memang butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan fikiranku yang kacau-balau ini. Kehadiran Steve juga amat menggangguku. Apalagi ketika mengingat perlakuannya padaku ketika ia membawaku ke pulau Jeju, di Seoul.
__ADS_1
Namun yang lebih utama saat ini bukanlah masalah Steven. Aku mencoba memaafkan semua tindakan konyolnya itu. Aku juga akan melupakan dan menganggap jika tidak pernah terjadi apapun. Tetapi, karena kejadian itu aku ingin lebih menjaga jarak dengan Steven dan tak ingin lebih akrab lagi.
"Mara, aku ..."
"Steve, tinggalkan aku sendiri!" Ucapku tegas memotong perkataan Steven yang belum juga selesai.
Sungguh, aku sangat berharap Steve tak lagi menggangguku. Aku butuh ketenangan saat ini, tanpa satu gangguan pun.
"Baiklah, tapi aku akan kembali lagi," Steve bangkit dari duduknya. Ia menatap ke arahku, dan menatap wajahku dengan lekat. Aku merasa aneh terhadap tindakan Steven kali ini.
Steven melayangkan tangannya hingga menyentuh wajahku yang masih basah akibat tetesan air mata. Ia mencoba menggerak-gerakkan tangannya, mungkin bermaksud menyeka sisa air mata itu. Namun, aku segera menepis tangannya. Lagi-lagi sentuhan Steven sangat membuatku tak merasa nyaman. Aku sangat tak menyukai aksinya itu.
"Kau tak perlu datang kembali," tak ingin banyak bicara, akhirnya aku yang memilih bangkit dari dudukku dan memintanya untuk segera pergi.
Aku bisa melihat gurat kekecewaan yang terpancar dari wajah Steven. Ia mungkin ingin marah terhadapku, atau mungkin ia begitu kecewa atas tindakanku ini. Tetapi sudahlah, aku tak ingin terlalu memikirkan bagaimana perasaannya sekarang. Aku hanya ingin tak ada orang mana pun yang menggangguku, karena sekali lagi aku hanya ingin tenang saat ini.
"Kau jahat, Mara,"
Bukankah kata-kata yang Steven lontarkan ini amat serius? Bahkan terdengar sadis, seolah aku adalah seorang penjahat. Ia mengatakan jika aku jahat. Bahkan kata-kata itu disertai sebuah mimik wajah memerah tanda betapa marahnya dirinya saat ini.
"Aku memang jahat, bahkan lebih dari yang kau kira, Steven."
Mungkin jawabanku ini bisa membuat Steven sadar, jika aku adalah wanita yang benar-benar jahat. Ini akan membuat Steven tidak lagi menggangguku, mudah-mudahan saja.
Steven menghela nafas panjang, ia pun memilih meninggalkanku dan menuju keluar.
__ADS_1
Setelah Steven pergi, aku segera menutup pintu rumah dan menguncinya. Kulangkahkan kakiku menuju ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku yang lelah ini.