Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Terbongkar


__ADS_3

"Star, Star!!" Byan memasuki rumah mencari-cari keberadaan putri kecilnya.


"Byan, ada apa?" Andryani yang melihat Byan tengah gusar itu menjadi khawatir. Dintatapnya penampilan Byan dengan rambut dan baju yang sedikit kacau tak seperti biasanya.


"Di mana Star, Umi?"


"Pertanyaan macam apa itu, jelas saja Star sedang ke sekolah. Ini belum jam pulang," jawab Andryani.


"By, apa ada sesuatu?"


Inilah yang tak Byan sukai, di rumah ini suasananya begitu panas. Apa lagi dengan bertambahnya Kessy yang bisa keluar masuk semaunya. Ia bahkan tak mengerti mengapa Abi dan Uminya membiarkan hal ini terjadi. Sedangkan dirinya yang jelas-jelas anak kandung di rumah ini akan dibuang jauh-jauh ke Papua.


"Umi, aku akan menjemput Star,"


"Byan, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Andryani begitu cemas. Tak seperti biasanya Byan bersikap seperti ini. Dan seharusnya Byan juga masih berada di kantor.


"Jika ingin menjemput Star, aku ikut!" Kessy sudah maju lebih dulu. Ia ingin lebih dekat dengan Byan setelah beberapa hari tak bertemu.


"Diam!!!!" Byan tak amat menyukai tindakan Kessy di saat seperti ini, ia hanya menambah kepala Byan semakin ingin meledak.


"Jaga batasanmu!" Ancam Byan dengan tatapan tajamnya disertai jari telunjuknya tepat di depan wajah Kessy.


"Umi, hiks ..." Kessy merengek pada Andryani ketika Byan membentaknya. Bahkan perasaannya hari ini begitu takut melihat amarah Byan yang meledak-ledak.


"Byan, kamu tidak seharusnya membentak Kessy!" Andryani tak terima atas perlakuan kasar Byan kepada Kessy. Menurutnya Byan sangat keterlaluan memperlakukan wanita seperti ini.


"Bela saja terus, sebenarnya siapa anak di rumah ini? Byan atau dia?" Byan pergi begitu saja. Tak tega sebenarnya ia mengatakan hal ini pada Uminya. Namun ia terlalu terbawa perasaan akibat kekecewaan yang ia terima hari ini dari Abinya. Kecewa karena merasa tak dihargai bahkan tak dianggap.


"Ada apa dengannya?" Andryani mendudukkan tubuhnya lemas di atas sofa. Ia kemudian segera menghubungi Malik via telepon.


"Umi, apa terjadi sesuatu dengan Byan? Mengapa dia berubah menyeramkan?" Tanya Kessy penasaran setelah Andryani menelepon Malik.


"Byan akan dipindah tugaskan ke Papua," ucap Andryani lemas.


"Apa? Bagaimana mungkin Umi? Mengapa Abi memutuskan hal ini?" Banyak sekali pertanyaan yang terlintas dibenak Kessy. Jika Byan pindah ke Papua, bagaimana dengan dirinya? Ia tidak mau tinggal ikut bersama Byan di kota terpencil itu. Bahkan, Kessy dibuat pusing oleh masalah ini.


"Umi juga tidak yakin, mudah-mudahan ini hanya sebuah gertakan untuk Byan agar dia berubah fikiran," Andryani memikirkan nasib keluarganya yang akhir-akhir ini tak harmonis, penuh keributan, tegang, dan suasana rumah menjadi semakin panas.


"Umi, jika boleh tahu apa yang menjadi penyebab dipindah tugasnya Byan?"


"Kessy, ini masalah internal dan sangat privasi bagi keluarga kami. Maaf Umi belum bisa memberitahumu,"


Mendengar penuturan Andryani, ia begitu kesal. Padahal sudah sejauh ini ia mendekatkan diri pada keluarga Malik. Namun hasilnya belum juga terlihat, yang ada Byan semakin menjauh darinya. Namun perusahaan ayahnya sedikit tertolong karena suntikan dana yang Malik berikan. Setidaknya, itu adalah hasil awalnya saja. Untuk hasil akhir, ia masih harus berusaha sekuat tenaga demi mendapatkan Byan seutuhnya.


Siapa yang tidak menginginkan duda tampan seperti Byan? Bahkan temannya pun memimpikan ingin dekat dengan Byan. Setidaknya, posisinya saat ini sudah berada di level teratas dari para teman-temannya itu.


Sementara di lain tempat, Byan menuju ke sekolah Star. Apa yang ia dapatkan? Ternyata Star sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu.


Byan mencoba menghubungi nomor telepon Sumi, dan bersyukur Sumi segera menjawab telepon dari Byan.


"Maaf, Tuan. Kami sedang berada di toko kue milik Mba Mara,"


Byan menutup sambungan telepon sepihak, ia langsung memutar arah mobilnya menuju ke toko kue milik Maran dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai, ternyata Mara tidak ada di toko kue. Karyawannya telah menjelaskan jika hari ini Mara tidak ke toko karena sedang sakit.


Star kecewa, niatnya hari ini ingin bertemu dengan Mara, namun ia tak bisa berjumpa dengan Tante Cantiknya itu. Wajah sedihnya kini dapat terlihat jelas, sebegitu rindunya ia pada Mara.


"Star sungguh ingin menemui Tante Cantik?" Tanya Byan ketika melihat kemurungan di wajah Star.

__ADS_1


Star mengangguk, ia juga sudah mulai meneteskan air bening dari sudut matanya.


"Baiklah, ayo kita temui Tante Cantik," Byan kali ini meminta Sumi dan Pak Kurdi untuk pulang lebih dulu. Ia juga berpesan untuk tidak mengatakan apapun kepada Umi dan Abinya kemana ia pergi bersama Star. Kedua karyawan itu pun menuruti perintah Byan dan segera kembali ke rumah.


Sementara Star dan Byan pun pergi menuju ke rumah di mana Mara berada. Selang beberapa menit, akhirnya mereka pun sampai di tujuan.


Dengan perasan berdebar, Byan berusaha keras melawan rasa takutnya jika nanti akan berhadapan dengan Kamila. Ia yakin Ibu Mara tak akan menerimanya begitu saja untuk masuk ke dalam rumah.


"Papa, apa ini rumah Tante Cantik?" Tanya Star memperhatikan setiap detail rumah bercat silver itu.


"Iya, sayang," jawab Byan masih dengan perasaan takutnya.


"Ayo cepat, tekan bellnya, Pa!" Perintah Star pada Papanya yang sejak tadi hanya mematung di depan pintu gerbang.


Dengan perasan berat, Byan akhirnya menekan bell rumah Mara disertai jemari yang bergetar. Tak lama setelah itu, seseorang pun keluar dan membukakan pintu gerbang.


"Untuk apa kamu datang kemari?" Tatapan tajam dan ketidaksukaan dapat terpancar jelas dari raut wajah Kamila.


"Ibu, maaf aku ..." Byan tak bisa menjawab apapun, bibirnya seakan beku tak bisa berbicara ketika melihat Kamila yang kini berdiri tegak di depannya.


Betapa terkejutnya Kamila mendapati siapa yang datang, ia langsung saja ingin menarik pintu gerbang itu kembali. Namun seorang anak kecil tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Byan dan menambah keterkejutannya.


"Apakah ini nenek?" Wanita kecil itu menatap Kamila penuh kehangatan. Dengan membawa satu keranjang buah yang cukup besar ditangannya.


"Nenek, bolehkah aku bertemu dengan Tante Cantik?" Star memasang senyuman di pipi gembulnya, ia memberikan keranjang buah itu kepada Kamila.


"Nenek, aku dengar Tante Cantik sedang sakit? Boleh aku menemuinya?"


Kamila tidak bisa berkutik, ia merasa gadis kecil itu adalah bintang. Bintang yang kini tumbuh menggemaskan, cantik dan terlihat begitu pintar. Namun perasaannya masih ragu karena fikirannya itu belum terbukti penuh.


"Silahkan masuk sayang, Tante sudah menunggumu di dalam," ucap Kamila penuh kelembutan. Kali ini ia menahan amarahnya terlebih dahulu terhadap Byan karena memandang gadis kecil ini.


Byan merasa lega setelah mendengar apa yang baru saja Kamila ucapkan. Setidaknya Star menyelamatkan dirinya kali ini. Jika ia tak membawa Star, mungkin hari ini ia sudah menjadi bulan-bulanan Kamila.


Byan masuk ke dalam rumah Mara pertama kalinya. Ia menelisik setiap interior rumah yang lumayan besar itu. Kamila pun mempersilahkan tamu yang tak ia harapkan itu duduk dan menunggu di ruang tamu.


"Tunggu di sini," ucapan Kamila terdengar begitu ketus.


"Terimaksih Nek," jawab Star dengan ramah.


Sementara Kamila segera menghampiri Mara di dalam kamarnya. Ia mengetuk pintu Mara kemudian masuk ke dalam kamar begitu saja.


"Mara, ada yang mencarimu di depan!"


"Ibu, siapa yang mencari Mara? Mara tidak merasa memiliki janji dengan siapapun?" Mara kebingungan. Ia menatap lekat wajah Ibunya yang tak biasa. Mara terdiam sejenak, ia berfikir jika kali ini Ibunya itu tengah berhadapan dengan sesuatu.


"Keluarlah, setelah itu jelaskan pada Ibu!"


Melihat gelagat Kamila, Mara merasa curiga. Ia benar-benar bingung dibuatnya. Sesuatu pasti telah terjadi, dan benar dugaannya setelah ia sampai di ruang tamu.


"Ya Tuhan, akhirnya puncak masalah itu datang juga!" Mara menatap Star dan Byan yang tengah menunggunya di ruang tamu. Tubuhnya terasa lemas, entah dari mana ia akan menjelaskan hal ini pada Ibunya nanti.


"Star,"


"Tante Cantik," seperti biasa jika bertemu Mara Star akan berhambur kepelukannya.


Betapa terkejutnya Kamila melihat kedekatan yang terjadi diantara Mara dan gadis kecil itu. Ia menduga, pasti mereka berdua sudah bertemu sejak lama karena mereka terlihat begitu akrab. Namun, Mara tak mengatakan hal ini pada dirinya, entah apa alasannya.

__ADS_1


"Mengapa Mara menyembunyikan hal besar ini dariku?" Kamila tak ingin meributkan hal ini sekarang. Bagaimana pun, Byan adalah tamu yang harus ia terima meski terpaksa. Ia pun mengeluarkan segelas teh hangat dan juga air putih.


"Star, kenalkan ini Ibu ..."


"Star sudah tahu, ini pasti Nenek yang selalu Tante ceritakan,"


Melihat gadis kecil bernama Star itu, Kamila menjadi terharu. Jika benar dia adalah Bintang, sungguh ia ingin sekali memeluk tubuh gembul yang kini ada di depannya.


"Nenek, namaku Bintang Putri Agyan," dengan suara lantang Star memperkenalkan dirinya pada Kamila. Ia meraih tangan kanan Kamila dan meciumnya dengan lembut.


Entah aroma bawang dari mana, hingga seluruh isi ruangan itu menjadi haru dan membuat semua orang dewasa di sana mengeluarkan tetesan air mata.


Kamila tak menunda lagi, ia pun segera memeluk tubuh Star dengan erat. Sungguh amarah yang sudah meluap dari dalam dirinya itu kini padam tiba-tiba saat ia memeluk Star.


Bintang, gadis bayi yang lima tahun lalu ia timang-timang kini sudah tumbuh besar.


"Ternyata kamu tumbuh dengan baik, sayang," Star tak mengerti apa maksud ucapan Kamila. Ia terus saja memeluk tubuh itu dengan penuh kasih sayang.


"Nenek, mengapa menangis?" Melihat Kamila meneteskan air mata, Star menjadi bingung.


Ia juga menatap sekeliling, ternyata Mara dan Byan pun sama halnya dengan Kamila. Mereka pun segera mengusap tetesan air mata itu dari wajah masing-masing.


"Mengapa semua menangis?" Tanya Star heran.


"Star, Tante dan Nenek habis mengiris bawang di dapur. Mungkin karena itu air mata kami keluar," Mara mencari alasan lain untuk menutupi masalah hari ini. Baginya tidak mudah menjelaskan sesuatu pada Star. Ia pasti akan terus berceloteh dan mempertanyakan hal yang ingin ia ketahui tanpa henti.


"Tapi, ada apa dengan Papa? Mengapa Papa juga menangis?"


Byan bingung harus menjawab apa, ia kemudian menemukan sebuah ide yang tiba-tiba terbesar di fikirannya.


"Mungkin Papa terlalu lama menyetir, jadi mata ini memerah."


Star dapat menerima semua alasan dari ketiga orang dewasa itu. Ia pun segera menghampiri Mara kembali.


"Papa bilang, Tante sedang sakit. Apakah kaki Tante terluka?"


Sejenak Mara menatap Byan, kemudian ia bergantian menatap Kamila. Namun Kamila menganggukkan kepalanya, memberikan sebuah kode pada Mara.


"Tante hanya mengalami kecelakaan kecil, Star tidak perlu khawatir."


"Tante, jangan sakit. Kemarin Papa sakit dan terluka di lengannya, sekarang Tante yang terluka di kaki," Star memeluk tubuh Mara dengan erat penuh kekhawatiran. Ia juga terus menatap kaki Mara yang masih di tempel perban kecil dan plester.


"Lengan Mas Byan terluka ternyata sejak saat di rumah sakit?" Mara bertanya-dalam hati. Ia mencoba mengingat-ingat tentang hari itu, Di mana Steven memukul dan menghajar Byan dengan Bringas.


"Star jangan cemas, Tante sudah lebih baik,"


"Apakah kakinya Tante di jahit seperti lengan Papa? Jika iya, Tante tidak boleh banyak bergerak agar lukanya tidak sobek kembali seperti luka Papa,"


"Star, sepertinya Tante sedang lelah. Haruskah kita pulang sekarang?"


Byan tak ingin lebih lama berada di sini. Bukan tak betah, melainkan ia takut jika Star akan membuka semua hal yang telah ia tutupi dari Mara. Selain itu, ia juga takut Kamila akan semakin membencinya. Karena sejak tadi, tatapan aneh terus Kamila berikan untuk Byan.


"Papa, Star ingin menginap di sini menemani Tante Cantik, seperti waktu Star sakit, Tante Cantik selalu menemani Star semalaman,"


Bukan cuma rahasia Byan yang terbongkar, rahasia Mara pun terbongkar oleh Star. Kamila jadi tahu yang sebenarnya, meski Mara dan Byan tak mengatakan apapun.


Namun Kamila lebih baik diam, ia yakin setelah ini Mara akan memberikan penjelasan padanya. Menurutnya, Mara bisa dipercaya. Mengapa Mara menutupi hal besar ini, itu semua pasti ada alasannya.

__ADS_1


__ADS_2