
Ceklek!
"Papa, Tante,"
"Star?"
Begitu Star membuka pintu, Byan merasa terganggu. Belum sempat ia puas menggoda Mara, kini telah diusik kembali oleh kehadiran Star.
Begitu pula dengan Mara. Kehadiran Star saat ini sangat tidak tepat. Namun Star juga menjadi penyelamat baginya karena bisa bebas dari perasaan nyaman yang telah Byan berikan.
"Papa dan Tante sedang apa?" Star bertanya dengan wajah polos.
"Star, Tante ingin mandi. Star tunggu di sini, ya?" Pinta Mara dengan perasaan gugupnya.
Ini adalah kesempatan baik baginya untuk melepaskan diri dari Byan. Hingga ia pun segera beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar mandi.
Melihat Mara lolos begitu saja, Byan pun tak memiliki cara yang lain lagi. Kali ini rencananya tak berhasil, alias gagal total.
"Papa, ayo keluar!"
"Hah?? Untuk apa, Star?" Byan masih tak mengerti dengan permintaan Star untuk keluar dari kamarnya sendiri.
"Pa, biarkan Star yang menunggu Tante cantik. Papa boleh keluar, sekarang!" Usirnya dengan menunjukkan Byan arah pintu keluar.
"Oke."
Byan pun akhirnya keluar dari kamarnya sendiri dengan wajah lesu.
Satu malam sudah Mara berada di Seoul. Hal ini membuatnya tak enak hati jika terus bersama keluarga Byan. Merasa menjadi pengganggu, bahkan ia merasa Byan lebih memperhatikannya daripada Star.
Secara kebetulan, ada urusan pekerjaan yang mendesak hingga mengharuskan dirinya untuk segera pulang.
"Umi, siang ini aku akan kembali ke Jakarta," ucap Mara.
Andryani menghentikan aksi memasaknya dan mematikan kompor setelah mendengar ucapan Mara barusan.
"Kenapa terburu-buru, Mara?" Tanyanya heran.
"Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan, Umi," jelasnya.
"Sayang sekali, padahal sore ini Byan akan mengajak kita untuk liburan bersama,"
"Maaf, Umi. Selamat menikmati liburannya," jawab Mara dengan senyuman getir.
Sebenarnya hatinya ingin tetap lebih lama berada di sini. Tetapi keadaan sedang tak berpihak dengannya. Yang ia fikirkan adalah, jarak antara dirinya dan Byan kini tak bisa dekat lagi. Bahkan entah kapan mereka bisa bertemu dan berada sedekat sekarang.
"Sudah pesan tiket pesawat?"
"Sudah, Umi. Jam sepuluh aku harus berangkat." jawab Mara.
"Yah, sayang sekali. Apa kamu tidak lelah, Mara? Baru saja kemarin kita naik pesawat, sekarang mau naik lagi?" Andryani bertanya keheranan.
"Tidak, Umi."
__ADS_1
Mara hanya menjawab singkat. Tak ingin terlalu banyak basa-basi dengan mantan mertuanya ini. Meski sekarang Andryani terlihat sangat menyayangi dan mau menerima kehadirannya.
"Umi telepon Byan, agar mengantarmu ke bandara ..."
"Tidak, Umi. Mara sudah memesan taksi," tolaknya.
"Tante mau ke mana? Mengapa memesan taksi?" Star tiba-tiba datang menghampiri Mara dan Andryani setelah selesai bermain di kamar.
"Star, Tante harus kembali ke Jakarta,"
"Mengapa secepat itu?" Tanya Star dengan wajah muram.
Mara tak menjelaskan apapun. Baginya Star masih terlalu kecil untuk mengetahui semua kegiatannya yang hanya berlaku bagi orang dewasa. AsmaraIa lebih memilih untuk mengajak Star kembali bermain boneka dan rumah-rumahan barbie di kamar Byan.
...****************...
"Papa pulang!"
Byan masuk kedalam unit apartemen dengan wajah sumringah. Hari ini ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dan hasilnya, ia bisa pulang sesiang ini untuk berkumpul bersama keluarganya.
Namun sayang, ketika baru saja masuk ia malah disambut dengan wajah muram oleh Star dan Andryani.
"Loh, kenapa, sayang?" Byan menghampiri Star yang tengah duduk di sofa.
Star hanya menggelengkan kepala, tak berbicara apapun.
"Umi??" Tanya Byan pada Andryani meminta penjelasan.
"Mara pulang? Pulang kemana?" Tanya Byan tak mengerti.
"Dia punya rumah, Byan! Jelas pulang ke rumahnya," jawab Andryani kesal.
"Ke rumahnya? Di mana, Umi?" Byan masih belum paham.
"Ya ampun, pantas saja Mara cepat pulang. Ternyata kamu ini pria yang masih tidak peka. Tidak bisa memahami wanita. Padahal hidup selalu dikelilingi wanita!" Andyani malah mengomeli Byan.
"Umi, ada apa sebenarnya? Byan hanya bertanya di mana rumah Mara? Mengapa menjadi rumit?" Byan menggaruk tengkuknya. Menghadapi wanita ternyata serumit ini.
"Bukankah kamu pernah ke rumah Mara, kenapa masih bertanya?"
Sejenak Byan berfikir. Memutar otak cerdasnya berharap menemukan jawaban. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam ....
"Jakarta????" Tanyanya dengan membelalalkkan mata.
"Kamu terlalu lama berfikir!" Umpat Andryani yang langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan Byan.
"Umi!" Panggil Byan. Namun sang pemilik nama tak mengindahkan panggilannya.
"Star, apa benar Tante Mara kembali ke Jakarta?" Tanyanya pada Star yang masih memasang wajah muram.
"Ya. Ini semua gara-gara Papa!" Celetuk Star dengan suara yang amat kesal.
"Papa?? Kenapa menyalahkan, Papa?" Byan merasa heran tak mengerti.
__ADS_1
"Papa selalu pergi dengan tante Seksy itu, meninggalkan kami." Ucapnya dengan bibir mengerucut.
"Star, namanya tante Kessy. Bukan tante Seksy." Ralat Byan atas penyebutan nama yang salah oleh Star.
"Sekarang pun Papa membela tante Seksy itu." Star merasa tak terima. Karena sampai saat ini Star pun masih tak menyukai Kessy.
"Bukan begitu, Star. Papa pergi bersama tante Kessy karena urusan pekerjaan." Jelas Byan mencoba memberikan Star pengertian.
"Oke, Star ingin tidur."
Star pun beranjak dari sofa menuju ke dalam kamar, melangkah dengan hentakan keras. Menjadikan lantai berbunyi akibat langkah kakinya.
Sementara Byan menghampiri Andryani di ruang makan yang sedang meminum teh hangat.
"Umi, Byan akan menyusul Mara ke Jakarta," ucapnya, kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Andryani.
"Jangan gila, Byan!" Umpat Andryani masih dengan nada kesal.
"Umi, Byan bahkan sudah gila lebih dulu!" Sergahnya.
"Sejak bagaimana Byan bertahun-tahun hidup dalam kebodohan, menyesali perbuatan Byan dan tak mempercayai Mara. Sejak saat itu Byan sudah menjadi gila!"
Mata Byan sudah memerah, tak berhenti otaknya memikirkan Mara. Perasaan bersalah, bercampur aduk dalam dirinya jika mengingat masalalu. Sekarang, ia tak ingin kehilangan kesempatan kedua kalinya.
"Byan, kamu harus bisa kendalikan diri. Jangan tergesa-gesa. Jika seperti ini, Mara akan semakin menjauhimu!" Andryani hanya memberi saran kepada Byan. Karena ia tahu bagaimana putranya itu hidup dalam kesakitan selama ini. Ia juga tak bisa terlalu keras terhadap Byan seperti dulu.
Sama halnya dengan Byan. Andryani pun sangat merasa bersalah dan menyesali perbuatannya. Maka dari itu, ia juga tak mau kehilangan Mara lagi.
"Jika kamu memang sudah benar-benar mencintai Mara, tunjukkan keseriusanmu. Umi mendukungmu,"
"Umi, Byan sungguh mencintai Mara. Maka dari itu Byan ingin menemuinya sekarang ke Jakarta."
"Tidak sekarang, Byan!" Larang Andryani.
"Kenapa, Umi?" Byan mengerutkan dahinya.
"Beri Mara waktu untuk menenangkan diri. Beri dia ruang untuk berfikir, hingga hatinya benar-benar sudah mantap." Saran Andryani lagi.
"Umi, Byan tidak ingin menunggu lama. Byan ingin melamar Mara. Bahkan saat ini juga!"
"Kamu terlalu bersemangat! Kita harus bahas hal ini dengan Abi lebih dulu, Byan."
"Umi, Abi tidak akan mengizinkan jika Byan ..."
"Cukup Byan! Fokuslah dulu dengan Star, penuhi janjimu dengannya. Masalah Mara, percayakan pada Umi."
Hai Readers, silahkan mampir dan beri dukungan untuk karya recehan Othor yang baru. Jangan lupa mampir ya.......
Terimakasih🍒
SENIOR CANTIK INCARANKU
__ADS_1