
"Ini kan Cake Tante Cantik?" ketika terbangun dari tidurnya pagi ini Star tersenyum sumringah melihat Cake cokelat kesukaannya sudah ada di atas nakas.
"Apa Tante Cantik kemari?" Begitu menyibakkan selimut, Star langsung meraih toples itu menuju ke bawah menemui Omma dan Papanya yang sedang asik menikmati sarapan pagi.
"Star, sudah bangun?" Tanya Andryani yang melihat cucunya sudah berlari dan aktif kembali pagi ini.
Byan pun menoleh ke arah Star saat ini dengan toples dipelukannya membuat ia tersenyum bahagia. "Ternyata Star sebahagia itu,"
"Di mana Tante Cantik?" Mata Star menelusuri setiap sudut rumah, namun ia tak menemukan sosok Mara di sana.
"Tante Cantik?" Andryani membelalakkan matanya kearah Byan. Namun Byan hanya menggedikkan bahunya saja tanda tak mengerti.
"Iya, di mana Omma?" rengek Star.
"Omma tidak melihat Tante Cantik di sini," jawab Andryani.
Byan yang mengetahui jika putrinya itu begitu mengharapkan kehadiran Mara hanya bisa diam dan merasa semakin bersalah. Bersalah karena sempat menghalangi kedekatan diantara mereka. Jika keadaannya seperti ini, ia baru memahami betapa berartinya seorang Asamara bagi Star.
Byan bangun dari tempatnya menghampiri Star, ia mengambil posisi jongkok dengan memegang kedua tangan Star.
"Star, Tante Cantik tidak kemari," ucap Byan dengan lembut. Namun Star menanggapi ucapan itu dengan memanyunkan bibirnya.
"Tante Cantik belum bisa menemui Star, Tante masih sibuk bekerja," lanjut Byan dengan terus memandangi wajah murung Star.
"Papa bohong!" Teriak Star.
"Star, Papa ..."
"Papa bohong," Star merengek hingga menangis mengeluarkan air matanya.
Andryani yang melihat itu pun menjadi semakin pusing. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi sikap manja cucunya itu.
Ia juga merasa semakin kesal pada Byan, karena ulahnya Star jadi bersikap seperti ini.
"Star, setelah Tante tidak sibuk kita akan menemuinya," Byan tidak tahu harus bagaimana menghibur putrinya yang tengah menangis itu, hingga ia memiliki ide untuk menemui Mara.
Star langsung mengusap pipinya, ia memandangi wajah Byan seolah sedang mencari sebuah kejujuran.
"Papa janji?"
Byan menjadi terpanah oleh ucapannya sendiri, bagaimana bisa ia menemui Mara sementara Mara masih tak ingin berbicara padanya saat ini. Namun mau bagaimana lagi semua ia lakukan demi Star. Ia juga ingin agar Star segera sembuh dari sakitnya.
"Papa janji!" Byan pun akhirnya mengucap janji itu.
"Tapi, Star harus makan dan segera sembuh dulu," lanjut Byan disertai rasa bersalahnya. Entah kapan ia akan menemui Mara, yang terpenting Star tenang terlebih dahulu.
Star pun menganggukkan kepalanya, ia tak punya pilihan lain. Demi bertemu dengan Mara, seseorang yang baru saja ia kenal namun mampu membuatnya merasa nyaman.
Byan dan Andryani sedikit lega setelah melihat Star mau makan pagi ini. Semua itu dikarenakan oleh Mara yang membuat dirinya antusias dan lebih semangat untuk sembuh.
"Morning ..." Suara seorang wanita berjalan masuk menghampiri Andryani dengan beberapa tentengan di tangannya.
__ADS_1
"Kessy?" Andryani tersenyum ramah, sepagi ini ia sudah mendapat tamu.
"Hai Tant," Kessy melakukan cium pipi kanan kiri kepada Andryani menunjukkan keakrabannya di depan Byan.
Byan yang melihat hal itu pun merasa geram, ternyata Kessy tak memiliki rasa jera. Meski ia sudah memberi peringatan besar kepadanya tempo hari, Kessy tetap saja datang ke rumahnya.
"Tant, ini ada oleh-oleh dari Mama," Kessy menyerahkan sebuah paper bag yang lumayan besar kepada Andryani.
"Wah, Alhamdulillah. Terimakasih, Kessy," Andryani begitu senang ketika mendapat hadiah dari Ibu Kessy yang tak lain adalah Diana teman sekolahnya.
"Sama-sama Tant, Oh ya ini ada hadiah untuk gadis kecil Tante," Kessy kini mengarah pada kursi yang tengah di duduki oleh Star dan memberikan paper bag sedang padanya. Namun niat baik yang ia lakukan ternyata tak mendapatkan respon baik seperti dugaannya.
Star tak menggubris ucapan Kessy, ia terus melanjutkan sarapan paginya. Kali ini masih sama seperti awal Kessy bertemu dengannya, Star masih saja bersikap acuh padanya.
Byan yang melihat perilaku Star terhadap Kessy pun hanya bisa diam. Menurutnya feeling seorang anak kecil itu memang kuat, ia tahu jika Kessy mendekati dirinya itu tidak setulus Mara.
"Omma, Papa, Star sudah selesai. Star mau ke kamar," Star pun meninggalkan meja makan tak lupa ia pun membawa setoples cake cokelat ditangannya.
Setelah Star pergi, Andryani pun angkat bicara. "Kessy, maaf untuk sikap Star. Tolong dimaklumi karena dia masih sakit," ujar Andryani mengusap pundak Kessy.
"No problem, Tant, anak kecil memang moody," Kessy pun menyunggingkan senyumannya, senyum yang ia paksakan. Karena hatinya begitu kesal mendapat penolakan kedua kalinya dari Star. Tak apa ia gagal mendekati Star hari ini, niatnya kemari adalah untuk membalas perbuatan Byan padanya tempo hari.
"Oh, ya By, ini ada sesuatu untukmu," kali ini paper bag berukuran kecil berwarna hitam ia serahkan di hadapan Byan dengan memasang wajah ramahnya.
Kessy masih bersikap seolah tak terjadi apapun padanya tempo hari atas perbuatan Byan. Ia masih saja bersikap manis seolah tak merasa jera.
"Byan, ucapkan terimakasih. Itu oleh-oleh dari Tante Diana," ucap Andryani menatap Byan dengan sebuah kode mata, ia tak ingin jika Byan mengacuhkan Kessy seperti Star.
"Thanks," Byan menyudahi kegiatan sarapannya.
Mendengar ucapan Byan, hati Kessy menjadi senang. Ia merasa menang karena Byan tak bisa menghindar darinya hari ini.
"Apa aku bilang, tidak akan ada lelaki yang bisa menolakku. Termasuk kamu Fabyan," gumam Kessy dalam hati dengan bangga.
"Thanks untuk Tante Diana," Byan pun pergi meninggalkan meja makan. Karena berlama-lama di sini hanya akn membuatnya semakin kesal melihat tingkah Kessy yang memuakkan.
Baru saja hatinya berbunga-bunga karena merasa menang, kini Byan sudah menjatuhkannya lagi. Hal itu membuat Kessy semakin kesal, namun ia tak mau menyerah. Tujuan utamanya adalah membuat Byan bertekuk lutut pada dirinya.
"Awas kamu, Byan!" Kessy geram dengan menggenggam erat jemari tangannya. Namun ia hanya bisa merutuki Byan dari dalam hati saja.
"Maaf Kessy, Byan itu memang susah orangnya," Andryani memecah ketegangan diantara mereka. Ia mencoba untuk membuat pengertian terhadap Kessy akan sikap Byan padanya barusan.
"Kessy sudah hafal bagaimana sikap Byan, Tant. Aku tidak akan ambil hati, aku tahu Byan adalah pribadi yang baik," puji Kessy pada Byan di hadapan Andryani seolah ia begitu mengenal dekat sosok Byan.
Andryani merasa bangga akan sikap sabar dan pengertian seorang Kessy. Ia tahu jika Kessy adalah wanita yang baik. Niat awalnya adalah membuat Byan dekat dengan Kessy. Namun saat ini kebingungan sedang melanda dirinya, itu semua karena kehadiran Mara di tengah-tengah mereka.
"Kessy, ayo duduk temani Tante sarapan," ajak Andryani pada Kessy.
"Lain kali saja Tant, Kessy harus segera ke kantor pagi ini, tolak Kessy dengan halus.
"Oh, begitu. Apa Kessy naik mobil sendiri atau diantar sopir?" Tanya Andryani.
__ADS_1
"Kessy naik taksi Tant, kebetulan mobil Kessy sedang di bengkel,"
Tak lama dari itu Byan muncul, ia hendak berpamitan pada Uminya untuk pergi ke kantor.
"Umi, Byan ke kantor ..."
"Nah, kebetulan. Sekalian kamu ajak Kessy, ya," Entah ide dari mana, yang jelas Andryani masih ingin kedekatan diantara Byan dan Kessy berjalan. Ia mengenyampingkan masalah Mara, karena Andryani merasa jika Byan begitu membenci Mara meski Star begitu menyukainya. Setidaknya keberadaan Kessy bisa membuat hati Byan menjadi sedikit luluh kepada wanita.
"A-apa?" Mata Byan membola, ia tak menduga jika permintaan Uminya begitu merepotkan dan semakin membuat kekesalan dalam dirinya memuncak.
Kessy tersenyum mendengar saran Andryani, sebenarnya hal ini juga keinginannya. Akalnya tak pernah habis untuk mengerjai seorang Byan.
"Umi, tidak perlu. Aku takut akan merepotkan Byan," Kessy pura-pura menolak saran Andryani.
"Ah, Byan tidak direpotkan. Kamu saja pagi-pagi kemari bisa dan pasti sangat repot. Byan juga pasti bisa hanya mengantar ke kantor. Lagi pula kantor kalian kan searah, bukan begitu Byan?"
Byan hanya memendam kekesalannya di depan Andryani, ia tahu jelas jika ini hanyalah akal-akalan Kessy saja.
"Umi, Byan tidak bisa. Karena pagi ini tidak langsung ke kantor," tolak Byan.
"Ck! Kamu antarkan saja dulu Kessy, Umi tidak enak dengan Tante Diana," ucap Andryani setengah berbisik.
"Tapi Umi-"
"Byan, ayolah ..." Andryani tak menerima penolakan dari Byan. Ia masih saja bersikukuh untuk lebih mendekatkan Byan pada Kessy.
"Ck!" Byan berdecak kesal. Ia pun berjalan menuju ke luar.
"Kessy, hati-hati," ucap Andryani penuh kelembutan.
"Thanks Tant," Kessy pun berjalan mengikuti Byan dari belakang hingga menuju mobilnya yang terparkir di garasi.
"Pak Kurdi," panggil Byan pada sopir yang biasa mengantar anaknya untuk pergi ke sekolah.
"Ya, Tuan," jawab Pak Kurdi yang saat itu tengah mengelap mobil sehabis di cuci.
"Bawa mobil ini!" Byan menyerahkan kunci mobilnya kepada Pak Kurdi.
"Baik Tuan,"
"Antar wanita ini ke tempat di mana semestinya dia berada!" Perintah Byan dengan mata yang menatap tajam kearah Kessy. Tatapan tak suka yang dilontarkan Byan pun membuat Kessy mengerti akan maksudnya.
"A-apa?" Kessy terkejut, ia tidak menyangka jika Byan akan menolaknya kembali dengan memerintahkan seorang sopir untuk mengantarnya.
Sementara Byan mengambil sepeda motor sport berwarna merah miliknya, ia melajukan sepeda motor itu dengan cepat.
"Byan!!!!!!" Teriak Kessy dengan kesal.
🍒 Hai readers setia pembaca karya Othor yang receh ini, terimakasih untuk semua dukungan yang telah kalian berikan. Tanpa kalian, Othor bukanlah apa-apa. Yang pasti dengan dukungan yang kalian berikan itu membuat Othor jadi lebih semangat untuk terus up, up, dan up. Kalianlah sumber semangat Othor!! 😇
Jangan lupa juga untuk mampir ke karya Othor yang lain. Silahkan tinggalkan jejak, Like, Komen, gift dan votenya. 🤗🤗
__ADS_1