Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Ancaman Kessy


__ADS_3

Mara menuju ke parkiran di area rumah sakit, di mana mobilnya berada. Ketika hendak membuka pintu mobil, seseorang tengah mencekal tangannya dengan kuat.


Tubuh Mara terhuyung akibat tarikan kuat dari seseorang yang belum ia lihat wajahnya. Ketika ia mendongak ke atas, ternyata Kessy yang memeperlakukannya seperti ini.


"Kessy?" Mara menatap Kessy tak mengerti. Bisa-bisanya Kessy menariknya hingga terjatuh.


"Ini balasan untukmu," ucap Kessy ketus.


"Balasan?? Apa yang aku lakukan?" Mara berupaya untuk berdiri, ia membersihkan celananya yang kotor dengan menyapu menggunakan tangannya.


"Kau pura-pura lupa??" Kessy membelalakkan matanya, kali ini ia harus memberi pelajaran pada Mara.


"Kessy, aku benar-benar tidak ..."


"Dasar wanita licik! Setelah kau melemparkan botol di kepalaku, sekarang kau tiba-tiba hadir di hadapanku dengan perasaan tak bersalah?" Kessy pun menjelaskan puncak kemarahannya pada Mara.


"Tunggu, apa kau ..."


"Sekarang kau ingat?? Dasar tidak tahu diri!" Kessy mendorong tubuh Mara, hingga punggungnya mengenai badan mobil.


"Kessy, mengapa kau kasar sekali??" Mara berusaha menenangkan dirinya. Ia juga tak ingin tersulut emosi. Jika ia mau, ia akan melawan. Namun ia tahu, tempat umum seperti ini bukanlah tempat yang cocok untuk berkelahi.


"Ini belum seberapa, untuk wanita jal*ng sepertimu!"


"Apa? Kau menyebutku apa??" Mara semakin tidak mengerti. Ucapan Kessy menurutnya terlalu berlebihan dan sudah melampaui batasannya.


"Jaga ucapanmu itu Kessy!" Mara mulai tak terima jika Kessy menyebutnya dengan sebutan wanita jal*ng.


"Kau fikir aku tidak tahu siapa dirimu? Aku peringatkan padamu, mulai sekarang jauhi Byan dan keluarganya!" Kessy mengeluarkan ancaman untuk Mara.


"Oh, jadi karena hal ini dia begitu marah padaku. Ya Tuhan, ini semua gara-gara Byan. Terlalu banyak masalah yang harus kuhadapi karenanya," Mara hanya bermonolog di dalam hatinya. Ia tak ingin menghabiskan tenaganya hanya untuk meladeni Kessy. Pantas saja Star menyebutnya Monster, ternyata kelakuannya memang sepadan dan berbanding terbalik dengan wajahnya yang cantik.


"Jika kau masih mendekati Byan, aku tidak akan segan-segan untuk memberi pelajaran padamu!" Ancam Kessy lagi.


"Aku tidak takut!" Mara memilih pergi meninggalkan Kessy. Hari ini sudah cukup baginya, banyak hal yang membuatnya begitu lelah. Ia ingin beristirahat menenangkan fikiran dan hatinya yang akhir-akhir ini begitu kacau.


"Kurang ajar!" Kessy berusaha mengejar Mara. Namun terlambat, Mara sudah menutup pintu mobilnya dan mengambil langkah cepat untuk pergi.


"Awas kau! Akan kuberi perhitungan padamu!" Umpat Kessy dengan kesal.


Tanpa ia sadari, ada seseorang yang tengah mengetahui perbuatannya pada Mara. Bahkan, orang itu telah merekam tindakan tak terpujinya itu.

__ADS_1


"Akan ku simpan ini, dasar wanita jahat! Mungkin suatu saat video ini akan membantu," ia pun segera menutup ponselnya dan bergegas pergi sebelum ia ketahuan.


Setelah beberapa menit melakukan perjalanan dari rumah sakit, akhirnya Mara pun tiba di rumahnya. Ia terkejut mendapati Randy sudah ada di rumah. Biasanya ia tek pernah bertemu dengan adiknya itu.


"Kak Mara?" panggil Randy yang baru saja melihat Mara kembali dari luar sesiang ini.


"Randy? Sudah pulang?" Tanya Mara pada adiknya yang kini menghampiri dengan menyalami tangannya.


"Sudah," jawab Randy singkat dengan mata yang terus mengarah pada layar televisi dan duduk kembali ke sofa.


"Mara, apa olahraganya membuatmu sedikit lebih baik?" Kamila melihat wajah Mara lebih baik siang ini daripada tadi pagi.


"Ya, Bu. Mara lelah sekali," Mara menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Kakak, aku tadi sempat melihatmu. Siapa anak perempuan yang bersamamu itu?"


Pertanyaan Randy membuat Mara terkejut. Ia tak tahu jika Randy melihatnya bersama Star. Apa yang harus ia katakan pada Ibunya, Mara sungguh bingung dibuatnya.


"Benarkah??"


"Aku tadi memanggilmu, tapi kau tak mendengar teriakanku, kak!" Jawab Randy dengan wajah yang terlihat kesal.


"Randy, apa kamu tidak salah lihat?" Sambung Kamila.


"Tidak mungkin, Bu. Randy yakin itu kak Mara. Bahkan anak perempuan itu memakai seragam sekolah," jelas Randy pada Ibunya.


Mara tidak tahu harus menjelaskan hal ini pada Ibunya dan Randy dari mana. Ia mencoba lebih berfikir lagi untuk mencari alasan yang tepat.


"Ada hal yang mendesak, hingga kakak di minta untuk menjemput anak dari teman kakak,"


"Siapa teman kakak itu? Aku tidak pernah melihat kak Mara berteman dengan siapapun kecuali Om Steve,"


"Randy, kak Mara punya banyak teman di luar sana," jelas Mara pada Randy.


"Tetapi mengapa hanya Om Steve yang pernah datang ke rumah?" Tanya Randy lagi.


"Bu, Mara mandi dulu. Mara harus pergi bekerja setelah ini," Mara tak ingin meladeni banyak pertanyaan Randy. Ia pun memilih pergi menuju ke kamarnya.


Kamila hanya menanggapi Mara dengan senyjm serta anggukan kepala. Ia yakin betul jika ada suatu hal yang tengah disembunyikan oleh anaknya itu.


Mara masuk ke dalam kamarnya, ia menutup dan mengunci pintu. Ia sandarkan tubuhnya di belakang pintu dengan posisi kepala yang mendongak ke atas. Kata pengampunan terus saja ia lantunkan, berharap Tuhan akan mengampuni kesalahan yang telah ia sembunyikan selama ini.

__ADS_1


"Maafkan aku, Bu. Aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya," ujar Mara merasa kecewa pada dirinya sendiri karena masih menutupi masalahnya dengan Byan pada Ibunya.


"Benar kata orang, jika kita sekali berbohong maka kita akan membutuhkan kebohongan-kebohongan yang lain. Ya Tuhan, sampai kapan aku harus membohongi keluargaku sendiri??"


Dari mana Mara akan menceritakan dan jujur pada Ibunya tentang masalah yang sebenarnya? Akankah Mara terus menutupi hal sebesar ini ia terus-menerus?? Apakah ia harus terus berbohong pada keluarganya sendiri?


Banyak sekali beban yang harus Mara singkirkan dari dalam hati dan fikirannya. Kepalanya kini mulai berdenyut, merasakan pusing. Ia pun memilih untuk pergi ke kamar Mandi. Setelah itu, ia harus pergi ke toko meski jam sudah menunjukkan pukul satu siang.


...****************...


Di tempat yang berbeda, Byan kembali ke ruang rawatnya. Ia kembali beristirahat di atas brankar, sementara Star dimintanya untuk pulang ke rumah bersama Sumi.


Setelah Star kembali ke rumah, Andryani bergantian menemani Byan di rumah sakit. Ia juga meminta Kessy untuk pulang beristirahat karena sejak awal Byan di rawat, Kessy terus saja menemani Byan.


"Kessy, pulanglah kau pasti lelah," pinta Andryani.


"Tant, jika ada apa-apa tolong hubungi aku," tak hentinya Kessy mencari perhatian dari Andryani yang kini sudah ia anggap sebagai calon mertuanya itu.


"Maaf, Tante selalu merepotkanmu," Andryani mengusap pelan pundak Kessy.


"Aku tidak merasa direpotkan, beginilah caraku menjaga keluarga, Tant," ujar Kessy dengan nada bicara yang begitu lembut dan sopan di depan Andryani.


Entah apa maksud Kessy sebenarnya, namun yang Byan tangkap dari perkataannya itu Kessy ingin menjadi bagian dari keluarga Malik.


Byan merasa muak atas topeng yang dipakai oleh Kessy di depan Uminya. Ingin sekali ia memberi pelajaran pada Kessy, namun ia tak ingin bertindak salah di hadapan Uminya. Ia yakin, Uminya itu akan mengetahui motif dan niat Kessy yang sebenarnya.


Byan memilih memejamkan matanya, karena malam ini ia meminta kepada dokter untuk di pulangkan ke rumah.


"By, aku pulang. Cepatlah sembuh," Kessy menghampiri Byan yang kini telah terbaring dan memejamkan matanya. Namun, hal tak terduga dilakukan oleh Kessy.


Cup!


Kessy mengecup puncak kepala Byan. Ia merasa senang bisa melakukan hal yang diinginkannya ketika Byan terpejam. Suatu keberhasilan untuknya kali ini. Namun, suatu kesialan yang dialami oleh Byan.


Andryani menatap tak percaya, Kessy melakukan hal itu pada Byan. Ia menilai, jika ini adalah salah satu bentuk rasa sayangnya terhadap Byan.


"Sial!! Sepertinya aku harus mandi kembang tujuh rupa!" Umpat Byan di dalam hatinya merutuki kelakuan Kessy.


🍒 Selamat siang readers, terimakasih untuk semua dukungan kalian sama Othor selama ini. Othor makin semangat untuk Up terus!


Jangan lupa tinggalin jejak²nya buat Karya receh Othor yang satu ini. Like, komen, gift dan votenya..

__ADS_1


__ADS_2