Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 102 : Ada yang ingin bertemu denganmu


__ADS_3

Mungkin inilah pertama kalinya, Vera tampak buruk.


"Kamu lebih kurus dari terakhir yang aku tahu," ucap Rico seraya menghela napas. Vera mengangguk samar.


"Bagaimana keadaan Nami? Bagaimana dengan perutnya? Apa keduanya tidak apa-apa?" tanya Vera memastikan.


"Keduanya baik meskipun akhirnya Nami melahirkan secara prematur karena pendarahan," jelas Rico yang mendapat informasi ini dari Yugi.


"Be-benarkah?"


"Ya." Rico mengangguk.


"Syukurlah."


"Tindakan mu juga tepat Vera. Mengakui kesalahan dan tidak berusaha menutup-nutupi adalah tindakan yang tepat."


Berbeda dengan cara pandang Rico selama pisah dengan Vera. Setelah mendengar bahwa Vera mengaku salah ketika polisi menangkap mereka, Rico lebih menghormati perempuan ini. Pengakuan salah itu rupanya membawa dampak besar bagi Rico.

__ADS_1


"Oh, aku tahu itu. Aku tahu. Aku mengerti. Kejadian itu terus menghantuiku. Aku merasa terus di buru rasa takut. Rasanya kepalaku mau meledak mengingat kejadian itu terus berputar dalam kepalaku.” Vera menceritakan dengan mata takut. Ada rasa iba yang melanda Rico.


"Maaf," kata Rico membuat Vera terkejut. Kepalanya mendongak menatap Rico dengan tertegun. Mungkin ini pertama kalinya Rico meminta maaf padanya. "Karena aku, kamu menjadi seperti ini."


"M-mas Rico tidak perlu meminta maaf," ujar Vera kembali menunduk.


"Mungkin aku juga merasa bersalah karena tidak membelamu, tapi perlu kamu ketahui, aku tidak membela mu bukan karena benci, tapi lebih karena ingin kamu menjadi baik. Mungkin dengan sedikit hukuman seperti ini, kamu akan sadar," ujar Rico.


"Ya, aku mengerti," sahut Vera lirih.


"Sebentar. Ada yang ingin bertemu dengan mu, Vera," ujar Rico seraya beranjak dari kursinya.


Siapa yang ingin bertemu denganku? Apa itu Nami? Yugi? terka Vera mencari tahu siapa yang akan dia temui sebentar lagi.


Dari kursinya Vera melihat pria itu berjalan mendekat ke pintu. Lalu mengetuk pelan, seperti memberi kode pada seseorang di luar pintu. Tak lama muncul seorang perempuan paruh baya dari pintu.


Siapa itu? Vera tidak mengerti. Dia sama sekali tidak mengenal perempuan paruh baya itu sama sekali. Namun perhatian mulai teralihkan dari perempuan itu ketika ia melihat sesuatu yang di serahkan pada Rico. Lalu perempuan itu kembali keluar.

__ADS_1


Setelah menerima itu, Rico mendekat padanya. Mata Vera melebar. Itu adalah bayi yang tengah membuka mata dalam gendongan Rico. Dia anaknya.


"Dia yang ingin bertemu dengan mu." Rico menunjukkan bayi itu pada Vera.


"M-mas ..." lirih Vera haru melihat bayi itu. Tak terasa matanya berkaca-kaca. Rico menyerahkan bayi itu pada Vera. Tangan Vera menerima bayi itu dan menatapinya takjub. "Dia ... Dia ... Anak kita?" tanya Vera.


"Ya. Kamu tidak mungkin lupa kan?" kelakar Rico dengan tatap mata sedih.


"Tidak. Tidak mungkin aku lupa. Oh anakku." Vera memeluk dan mengecup kening dan pipi bayi lucu juga menggemaskan itu. "Maafkan Mama sayang ..." Vera bercucuran air mata. Rico ikut berkaca-kaca melihatnya.


"Ingatlah selalu untuk kembali dalam keadaan baik, Vera. Karena ada seseorang yang menunggumu kembali. Dia. Dia anakmu yang aku yakin pasti sedang menunggu mamanya kembali dalam keadaan yang lebih baik dari sekarang," ujar Rico.


"Maafkan aku Mas. Maafkan aku." Vera memeluk anaknya seraya menangis. Rasa sesal dan juga sedih melebur jadi satu.


...____...


__ADS_1


 


__ADS_2