
Yugi tidak menyia-nyiakan wewenang dari Nami untuk menghukum dua orang itu. Hari ini dia bertemu dengan pengacara yang sudah di tunjuk.
"Saya sudah mempelajari berkas yang dikirim ke kantor saya. Saya akan membuat pengajuan restitusi yang memuat identitas Anda, uraian tindak pidana, identitas pelaku tindak pidana, uraian kerugian yang senyatanya diderita dan sejumlah lampiran sebagai bukti yang mendukung," kata pengacara.
"Ya. Lakukan yang terbaik. Pastikan mereka masuk penjara," ujar Yugi dengan rahang ketat karena geram.
"Pasti. Saya akan melakukan yang terbaik untuk Anda," kata pengacara itu seraya mengangguk.
"Jika ada hal lagi yang dibutuhkan, Anda bisa menelepon Reno. Dia akan menyediakan semuanya untuk Anda," kata Yugi.
"Baik."
"Anda mungkin butuh waktu karena semuanya masih dalam proses, tapi tolong segerakan penuntutan ini. Karena aku tidak ingin mereka berkeliaran di luar dengan bebas," mohon Yugi.
"Ya. Akan saya lakukan."
__ADS_1
"Terima kasih." Mereka pun berjabat tangan.
***
Vera masih sering membungkus dirinya di dalam kamar. Ini membuat mama harus berulang kali membujuknya keluar. Juga harus bolak balik ke kamar untuk mengantarkan makanan. Karena jika dibiarkan, putrinya ini bisa sakit.
Awalnya Mama masih tenang meski Vera seperti itu. Karena ada kalanya, Vera bersikap normal. Dia masih mandi dan bisa makan. Namun ketika ada surat dari pihak kepolisian perihal pemanggilan beliau dan putrinya, beliau tidak tenang.
Dua hari yang lalu mereka harusnya datang ke kepolisian, tapi mama masih mencoba tidak menggubris.
Mama bergegas menuju ke kamar Vera. Ketika mama masuk, Vera tengah duduk di atas ranjang seraya memandang keluar jendela. Tangan mama sibuk mencari ponsel. Vera tak bergeming. Suara berisik di belakang mencari ponsel tak dihiraukannya.
"Akhirnya dapat." Mama menoleh sebentar pada putrinya. "Hhh ... " Beliau menghela napas. Lalu keluar seraya membawa ponsel Vera.
Sesampainya di ruang tengah, beliau mencoba menelepon Rico. Awalnya panggilan itu di abaikan. Lama.
__ADS_1
"Rico benar-benar. Kurang ajar sekali mengabaikan telepon mertuanya," geram Mama. Namun beliau tetap mencoba menelepon lagi. Kakinya mondar-mandir menunggu telepon di terima dengan gelisah. Akhirnya telepon itu di angkat.
"Kenapa kamu masih meneleponku, Vera?" tanya Rico tanpa basa-basi dan sedikit jengkel.
"Ini mama, Rico," kata mama dengan melembutkan suaranya.
"Mama? Oh, Anda. Ada apa?" Nada bicara Rico terdengar datar dan tidak bersahabat.
"Eh, itu ... Mama mau memberitahu kamu keadaan Vera. Dia terus saja membungkus dirinya dengan selimut. Vera tidak mau keluar dari kamar. Dia terus bicara tidak karuan." Mama mulai mengeluarkan semua uneg-unegnya.
"Aku heran mama panik. Bukannya biasanya Vera memang aneh?" tanya Rico.
"Tidak. Ini tidak biasa Rico. Tingkah Vera itu sangat aneh. Dia itu ..."
"Kenapa menceritakan itu padaku?" tanya Rico tidak peduli. Dia tidak ingin tahu lagi soal Vera. Rico pernah memberinya kesempatan untuk berubah, tapi Vera selalu saja bisa di setir mamanya.
__ADS_1
..._____...