
Teman-teman Nami mengantisipasi kedatangan Vera ataupun Pak Rico. Mereka tidak ingin Nami terus saja di usik oleh dua orang itu. Setelah Yugi muncul, pengaduan soal kejadian tadi langsung di layangkan pada pria ini.
"Vera tadi menarik rambut Nami dengan keras," kata Mila. Nami terkejut. Dia tidak menduga bahwa mereka akan mengadu pada Yugi.
"Menarik rambut?" tanya Yugi terkejut. Dia langsung mendekat ke Nami dengan tatapan khawatir.
"Ya. Vera marah karena berpikir Rico menjauh darinya karena Nami. Padahal kan karena dia sendiri," kata Ina mencibir.
"Kamu enggak apa-apa? Pasti sakit. Aku bisa antar kamu ke rumah sakit sekarang," kata Yugi cekatan.
"Enggak. Aku sudah tidak apa-apa." Nami langsung menoleh pada mereka setengah melotot. Mulut Ina dan Mila bungkam sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kita harus mengadu, Nami. Karena itu sudah sebuah penyerangan. Jika di biarkan, bisa-bisa bukan hanya di kantor saja, di luar kantor pun Vera akan menyerang kamu," tutur Yuli penuh dengan kekhawatiran.
Nami melirik ke Yugi yang serius menatapnya. Perempuan ini menggigit bibirnya. Ia ingin segera pulang.
"Aku ingin pulang cepat," kata Nami.
"Baiklah. Aku pasti akan menjaga Nami. Terima kasih sudah memberitahuku. Kalau tidak, aku tidak akan pernah kejadian ini karena istriku terlalu baik untuk tidak melawannya." Yugi mengangguk penuh terima kasih.
"Sama-sama," sahut ketiga perempuan itu.
***
"Coba aku lihat kepalamu. Apa keadaannya parah atau tidak." Yugi yang sejak tadi menahan diri untuk diam, kini menanyakan keadaannya.
Nami patuh. Dia tahu diamnya Yugi adalah marah.
"Kamu marah?" tanya Nami saat Yugi tengah memeriksa kepalanya.
"Apa hal seperti ini tidak pantas untuk membuat ku marah?" tanya Yugi balik. Suaranya tegas. Itu artinya Yugi marah besar.
"Maafkan aku."
"Vera dan Rico yang harus minta maaf, bukan kamu, Nami." Yugi gusar.
"Aku tahu."
"Kalau tahu kenapa kamu berusaha menyembunyikan ini dariku?" Tangan Rico berhenti. Nada bicara Yugi mulai terdengar keras. Nami membalikkan tubuhnya.
"Bukan bermaksud menyembunyikan darimu." Nami melingkarkan lengannya pada pinggang Yugi. "Buatku itu bukan hal penting. Ada masalah dengan Vera ataupun Rico, itu bukan hal yang perlu dibicarakan."
"Aku tahu mereka bukanlah orang penting yang pantas kita debatkan, tapi aku sedang membicarakan kamu. Vera sudah berani bermain fisik, itu artinya kamu tidak aman." Mata Yugi penuh dengan kekhawatiran juga amarah. Siapa yang tidak marah saat istrinya di perlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Besok, berhenti bekerja di sana. Aku sangat tidak setuju kamu masih bekerja di perusahaan itu," kata Yugi dengan tegas.
"Ya." Nami harus patuh. Karena tempat itu tidak lagi aman. Juga dia harus menuruti kemauan suaminya. Yugi memeluk istrinya erat.
***
Meskipun Yugi sangat tidak setuju jika Nami harus menginjakkan kakinya lagi di lantai gedung tempatnya bekerja, tapi dia harus bersikap bijak. Sebagai seorang pemilik perusahaan yang mempunyai karyawan, dia tahu bahwa Nami harus membawa surat resign dengan datang sendiri ke perusahaan.
Nami mengajukan pengunduran diri pagi dengan di antar suaminya.
"Nami?" tegur Yuli yang melihat perempuan ini melintas. Dia langsung mendekati Nami dengan terburu-buru. "Kenapa berpakaian seperti ini? Kamu ijin? Ada apa?" Yuli langsung menyerbunya dengan pertanyaan. Yuli cemas.
"Bukan. Aku bukan ijin. Aku ... mau menghadap Pak Rico."
Yuli langsung melebarkan mata. "Kamu mau berhenti bekerja?" tanya Yuli langsung paham saat mendengar kata menghadap.
"Emmm ... Iya." Nami berat saat mengatakannya.
"Apakah karena kemarin?" tanya Yuli paham.
"Kurang lebih seperti itu. Yugi melarang ku bekerja lagi demi kenyamanan. Menurutnya lebih baik aku tidak bertemu lagi dengan Vera."
"Aku mengerti itu. Memang sebaiknya kamu berhenti bekerja." Yuli paham. "Ina dan Mila tahu?"
"Mereka pasti heboh."
"Aku tahu," kata Nami sambil tersenyum membayangkan mereka berdua.
"Namun patuh pada suami yang utama ya, Nami ... Apalagi Yugi suami yang bertanggung jawab, meskipun pertemuan kalian berbeda dari kebanyakan."
"Ya, dia orang baik."
"Bagaimana Pak Rico meresponnya ya? Dia orang yang paling tidak setuju sepertinya."
"Soal dia urutan terakhir. Aku tidak harus mempedulikannya."
"Nasibnya dengan Vera begitu menyedihkan, aku jadi kasihan."
"Ya, itu ulahnya sendiri. Mereka berdua mendapat balasannya perlahan."
"Ya sudah. Segera kesana. Telepon aku kalau sudah pulang."
"Oke."
__ADS_1
Mereka berpisah. Yuli kembali ke ruangannya. Nami menuju ke ruangan Rico. Tok! Tok! Pintu ruang kerja Rico di ketuk.
"Masuklah."
Setelah di ijinkan masuk, Nami membuka pintu perlahan.
"Apa ... Nami?" Sepertinya Rico awalnya mengira orang lain, tapi saat melihat itu Nami, dia sangat terkejut. "Ada apa?" Pria ini berdiri menyambut kedatangan Nami. "Kamu tidak apa-apa? Apa sudah periksa ke dokter?"
"Saya baik-baik saja. Saya datang untuk mengantar ini." Nami bicara dengan bahasa formal seraya mengeluarkan amplop. Bola mata Rico menyoroti amplop mencurigakan itu.
"Jangan bilang kalau itu ..."
"Ya. Ini surat pengunduran diri, Pak Rico."
Rico langsung menatap Nami tidak percaya. "Apa yang kamu lakukan Nami?" tanya Rico dengan mata berharap ini bukan kenyataan. Ini salah.
"Tidak ada. Saya hanya mengantarkan ini dan berpamitan pulang." Nami meletakkan amplop itu di meja. "Maaf jika saya banyak salah dalam bekerja. Saya mohon pamit."
"Tidak Nami. Siapa bilang aku memberimu ACC berhenti bekerja?"
"Semua orang berhak berhenti, Pak Rico. Termasuk saya."
"Kamu di butuhkan di perusahaan ini. Kami butuh kamu. Bukan, tapi aku butuh kamu Nami." Raut wajah pria ini tampak begitu sedih. Nami terdiam. "Kamu tahu aku saat ini begitu terpukul dengan Vera dan mamanya? Apakah harus sekarang juga kamu berhenti bekerja?"
"Maaf. Sepertinya saya tidak ada hubungannya dengan itu semua, Pak," kata Nami. Rico tertegun. Lalu menghela napas berat.
"Keputusanmu sudah bulat rupanya." Rico merasa kalah. Nami diam tidak merespon. "Baiklah. Aku terima surat pengunduran dirimu." Tangan Rico meraih amplop di atas meja. "Apa suamimu tahu, kalau Vera memperlakukan mu buruk? Kamu bisa menjawab dengan bicara santai. Aku sudah menerima surat ini. Jadi kamu bukan lagi karyawan ku."
"Oke. Semua yang aku lakukan pasti di ketahui Yugi. Tidak ada satupun yang tidak di ketahui oleh dia."
"Berarti dia tahu kalau aku mantan kekasihmu?" selidik Rico.
"Hmmm ..." Nami mendengus.
"Aku merasa dia menang telak setelah membuang Vera. Dan sepertinya aku yang kalah banyak dengan membuang mu." Rico mengatakan dengan raut wajah penuh beban.
"Apapun yang terjadi, sebaiknya kamu tetap bertanggung jawab Rico."
"Jika itu soal bayi di dalam kandungan Vera, aku pasti melakukannya Nami." Rico paham maksud Nami.
...______...
__ADS_1