Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 108 : Aku mencintai mu


__ADS_3

Dengan terburu-buru, ia berjalan ke kamar tidur mereka. Saat membuka pintu kamar, ia langsung menghentikan langkah kerasnya. Nami tengah tidur bersama putra mereka.


Kaki Yugi melangkah pelan dan hati-hati. Dia tentu tidak ingin putranya terbangun. Sesaat ia merunduk dan mengecup pipi istrinya. Nami menggeliat. Dia langsung membuka mata.


“Mas Yugi?” tanya Nami terkejut. “Mas Yugi sudah pulang?” Nami melepaskan pelukannya dari bayinya. Yugi membantu istrinya bangun dan duduk bersandar.


“Ya,” sahut Yugi seraya duduk di bibir ranjang.


“Apa semua berjalan lancar?” tanya Nami kini bisa menatap suaminya dengan jelas. Yugi diam sejenak. Sepertinya Nami tidak ingin Yugi tahu kalau ia sudah melihat hasil sidang. Nami berpura-pura.


“Ya. Semuanya lancar.”


“Syukurlah.” Bibir Nami tersenyum tipis. Sontak Yugi memeluk tubuh istrinya. “A-ada apa Mas?”


“Kalau ingin menangis, menangislah. Jangan di tahan,” ucap Yugi. Nami mengerjapkan mata.


“A-apa?”

__ADS_1


“Jangan berpura-pura kuat. Aku tahu kamu menangis setelah mendengar putusan hakim. Aku mengerti kalau kamu menangisi putusan hakim untuk mereka. Bukannya mereka dulu adalah keluarga mu?”


Bola mata Nami melebar. Dia terkejut Yugi tahu dia sempat menangis hari ini karena hasil sidang. Bunda memberitahunya?


Yugi melepas pelukannya.


“Aku tahu kamu mendapat video sidang dari Sifa. Semua orang rumah ini memberitahuku soal kamu yang menangis melihat itu. Maafkan aku sudah membuat kamu sedih.”


“T-tidak. Mas Yugi tidak salah.” Nami panik. Ia tidak menduga Yugi tahu dan bersikap seperti ini.


“Tidak. Jangan merasa bersalah.” Nami mengulurkan kedua tangannya dan menangkup kedua pipi Yugi. Lalu ia langsung mengecup bibir suaminya dengan lembut. Yugi mengerjap.


“Berhenti berpikir Mas Yugi sudah salah ambil keputusan. Tidak dan Jangan. Aku memang menangis tadi mendengar putusan hakim, tapi aku tidak menyesal. Ini sudah jalannya seperti ini. Yang salah memang harusnya mendapat hukuman.” Nami bicara dengan terburu-buru. Dia takut Yugi juga terluka karena sikapnya.


“Aku sangat sayang dan cinta sama mas Yugi, jadi aku lebih merasa sedih jika melihat Mas Yugi seperti ini,” kata Nami membuat bibir Yugi melukis senyuman.


“Sepertinya ada yang sedang menyatakan cinta padaku,” ledek Yugi tiba-tiba. Nami mengerjap. “Aku terima pernyataan cinta itu.” Alis Yugi bergerak menggoda istrinya. Nami menipiskan bibir paham. Ia juga tersenyum pada akhirnya.

__ADS_1


Tangan Yugi terulur menyentuh dagu Nami. “Aku juga sangat mencintaimu istriku,” ucap Yugi seraya menarik dagu itu untuk mendekat padanya. Wajah mereka begitu dekat hingga kedua bibir mereka menyatu. Tangan Yugi yang lain menarik  tubuh Nami hingga tidak ada jarak sama sekali.


Lidah mereka saling bertaut. Cecapan yang khas pun terdengar merdu. Hasrat Yugi bangkit. Hingga bibir itu tak lagi hanya mencium bibir Nami saja. Bibir itu turun ke dagu, lalu berbelok ke cekungan leher yang kini polos karena Yugi menarik kerah daster model Sabrina itu. Kemudian turun ke dada atas. Hingga akhirnya berpusat pada gundukan kenyal milik Nami setelah berhasil di keluarkan dari tempatnya. Luma*tan bibir Yugi di pusat milik istrinya mulai menjadi-jadi. Hingga lenguhan sen*sual Nami terdengar.


“Ngg ... Ngg ...Oek! Oek!” tiba-tiba saja tangis putra mereka menggema. Yugi dan Nami membeku sejenak karena terkejut. Yugi langsung melepas luma*tannya dan mengusap bibirnya yang basah. Mendekat pada putra mereka, lalu menggendongnya. Memberikan waktu pada Nami untuk merapikan dasternya.


Dalam sekejap hasrat dan gairah mereka lenyap. Berganti jadi senyuman malu karena terlalu bersemangat.


“Sepertinya kita sudah mengabaikan dia,” bisik Yugi seraya mendekat pada Nami dan mengusap bibir istrinya yang merah dan basah karena ciumannya. “Aku mencintaimu Nami.”


“Aku juga,” sahut Nami. Mereka tersenyum bersamaan.


.......


.......


...T A M A T...

__ADS_1


__ADS_2