Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 43 : Keluarga yang hangat


__ADS_3

Sepulang kerja, Yugi dan Nami ke rumah bunda. Sembari membawa oleh-oleh, mereka berjalan ke pintu rumah utama. Padahal belum di ketuk, pintu utama sudah terbuka terlebih dulu.


"Lho, kalian?" ternyata itu Mas Tony. Rupanya kakak ipar Yugi ada di rumah ini. Di belakang mas Tony ada Mbak Yana. Perempuan itu muncul dari balik punggung Tony sambil tersenyum.


"Halo Mbak Yana," sapa Nami.


"Nami?" Yana surprise dengan kemunculan adik iparnya. Tangan Yana langsung menarik lengan Nami untuk masuk. "Kebetulan aku lagi menginap di sini. Jadi bisa ngobrol banyak denganmu. Yugi, Mbak pinjam istrinya. Soalnya Mas Tony mau berangkat ke luar kota," kata Yana.


Nami memberi kode berpisah untuk mengikuti mbak Yana. Yugi mengangguk.


"Gimana perusahaan advertising mu? Lancar?" tanya Tony.


"Begitulah," sahut Yugi sembari tersenyum. Mereka berdua pun ikut masuk ke dalam bersama. "Mas ada audit di luar kota?" tanya Yugi. Pria itu menganggukkan kepala.


Tony adalah tim audit kantor badan pengawasan keuangan dan pembangunan pemerintah. Dia pria muda sukses yang menjadi kepala tim audit. Itu sebuah prestasi besar. Saat mengenal Mbak Yana, mas Tony pun langsung menyarankan untuk berhenti. Karena mereka dari dinas yang sama.


"Bun! Nami datang nih ..." Yana memanggil bunda. Saat itu ayah juga keluar dari ruang bacanya. Bola mata beliau melebar mendapati menantunya datang. Nami menyalami ayah mertua seraya mencium punggung tangan beliau.


Tidak lama bunda juga muncul dari taman belakang.


"Oh, ada Nami?" tanya beliau surprise. Lalu beliau mendekat dan memeluk menantunya. Perlakuan ini sungguh hangat. Berbeda sekali dengan perlakuan mamanya. Terselip rasa sedih saat ini. Namun ia harus merasa bersyukur. Karena masih ada yang sayang padanya.


"Gi, nginap ya?" tawar Yana.


"Enggak. Besok kita masih bekerja," tolak Yugi.


"Alasan aja. Enggak mau diganggu, ya?" ledek Yana. Ini membuat Nami langsung panik ledekan-nya jadi menjurus ke arah 'sana'.

__ADS_1


"Iya," jawab Yugi jujur. Nami mendelik mendengar itu. Tidak menduga kalau Yugi akan mengaku begitu. Dia melirik ke arah Yugi. Ternyata pria itu juga sedang melirik ke arahnya. Saat tatapan mata mereka beradu, bibir Yugi tersenyum. Pria itu tahu Nami panik, tapi malah mengatakan yang tidak-tidak. Itu berarti dia sedang di goda oleh suaminya.


"Dasar kamu Gi," cibir Yana.


"Namanya juga pengantin baru, Ma. Wajarlah ... Itu kan seperti kita dulu," celetuk Mas Tony. Mbak Yana tersenyum lalu memeluk suaminya manja. Mereka terlihat sangat serasi dan harmonis. Nami jadi tersenyum senang melihatnya. Tidak salah jika Yugi pria yang baik, semua keluarganya juga baik.


"Jangan terlalu lama lihat kemesraan orang. Kamu juga bisa melakukannya jika mau," lirih Yugi mengejutkan di sampingnya. Nami menoleh cepat. Apa Yugi ingin di peluk seperti mas Tony?


"Nanti saja di rumah. Jangan sekarang," bisik Nami membuat Yugi tersenyum puas seperti mendapat angin segar.


***


Ayah dan Bunda tidur terlebih dahulu. Yugi meminta mereka tidak usah mempedulikan keberadaan dirinya dan Nami. Karena kesehatan orang tua dan mereka yang masih muda berbeda. Yugi ingin mereka istirahat lebih banyak. Dengan berat hati akhirnya mereka setuju.


Perbincangan antara Nami dan kedua kakak iparnya masih berlanjut. Saking serunya, mereka lupa waktu. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Tidak terlalu malam di jalanan, tapi Nami kasihan Yugi harus menyetir. Jadi dia menyarankan untuk menginap.


"Kenapa menginap?" tanya Yugi saat mereka sudah berada di kamar.


"Iya, Mas. Aku cemas kalau Mas Yugi harus menyetir malam. Kan capek soalnya," kata Nami. "Mas enggak senang?"


"Kenapa enggak senang? Menginap di sini sama istri tercintaku, tentu saja membuatku senang. Jangan-jangan kamu sengaja menginap karena mau ehem-ehem. Biar enggak kelelahan, jadi enak menginap aja," goda Yugi.


Nami memukul lengan Yugi dengan gemas. Yugi tertawa.


"Bukan itu," ralat Nami. Yugi tertawa melihat Nami geram.


"Aku sangat senang. Lagipula ini rumah tempat aku dilahirkan." Yugi mencubit hidung istrinya.

__ADS_1


"Enak ya Mas punya keluarga yang hangat. Berbeda dengan keluargaku. Di rumah itu aku bagai anak tiri yang selalu di banding-bandingkan. Mama yang aku hormati dan sayangi memperlakukan aku seperti orang lain." Nami terdengar sedih.


"Eiii ... jangan bersedih seperti itu. Kan ada aku di sini." Yugi menyentuh pipi istrinya dengan sayang. "Aku enggak bisa jadi mama dan adik, tapi aku bisa jadi sandaran kamu. Saat hatimu gundah dan sedih, kamu wajib bersandar padaku," kata Yugi sambil tersenyum.


"Iya. Sepertinya cukup ada Mas Yugi saja. Aku enggak butuh mama dan Vera. Karena mereka selalu memberikan sikap yang buruk padaku," ujar Nami tersenyum sambil menyentuh tangan Yugi dan mencium punggung tangan pria itu.


Yugi menarik tubuh Nami untuk di peluk.


"Jangan berwajah sedih seperti itu lagi, ya? Aku tidak tahan. Kamu harus bahagia sayang. Aku sengaja membuat skenario ini hanya untuk mengikat kamu untuk jadi istriku," kata Yugi. Kalimat terakhir terdengar lirih. Hingga membuat Nami tidak bisa mendengar dengan baik apa yang dikatakannya.


"Ha? Apa?" tanya Nami sambil menjauhkan tubuh Yugi. Ia merasa mendengar sesuatu yang aneh. Jadi dia ingin memastikan itu apa. Namun jawaban Yugi hanya senyuman manis.


"Enggak, enggak apa-apa. Aku mencintaimu, Nami," ucap Yugi sambil kembali merengkuh tubuh Nami untuk kembali dalam pelukannya. Nami mengernyitkan kening merasa bukan itu yang tadi di dengar oleh telinganya.


Bibir Nami pun dilu mat dengan mesra oleh Yugi. Ini awal dari pertautan bibir yang berujung dengan sebuah pergulatan. Pertarungan yang menyebabkan lenguhan nikmat mulai terdengar lirih. Napas yang memburu juga peluh yang berjatuhan pun mulai bekerja. Mereka melakukan penyatuan lagi dengan harapan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama dengan indah.


...***...


Nami sengaja bangun pagi untuk segera mandi dan keramas. Dia tidak ingin terlihat berambut basah saat muncul di depan keluarga Yugi. Tidak ada yang salah atau memalukan, tapi Nami malu sendiri jika nanti ketahuan habis ehem-ehem saat mereka melihat rambutnya basah. Pun doa yakin Yugi akan mengiyakan tanpa peduli ledekan kakak-kakaknya. Itu makin membuat rasa malu Nami makin tidak karuan.


"Sayang ...," gumam Yugi yang masih bergelung selimut. Saat itu Nami sudah selesai mandi.


"Iya ... " Nami mendekat sambil mengusap rambutnya agar cepat kering. Dia tidak bisa memakai hair dryer untuk meminimalisir kerontokan jika memakainya. Nami beranjak naik ke atas kasur. Di luar jendela masih petang. Dia bisa bersantai dengan tubuh bersih.


...____...


__ADS_1


__ADS_2