
“Anak pungut?” tanya Rico terkejut. Ini pertama kalinya ia mendengar soal itu. Bahkan saat masih menjalin asmara dengan wanita itu, ia tidak pernah mendengar sama sekali dari bibir Nami soal ini.
“Mas Rico pasti terkejut kan?”
Rico menarik lengan Vera lagi.
“Aw!” jerit Vera.
“Rico! Mau di apakan Vera?” teriak mama panik.
“Jangan ikut campur soal ini Ma,”Ayo! Ikut aku,” ajak Rico sambil menarik lengan Vera.
Ternyata Rico membawa perempuan ini kamar. Vera sempat berpikiran nakal bahwa Rico bukan marah, tapi sedang ingin bercinta dengannya. Namun nyatanya pria itu mendorong tubuh Vera ke lantai.
“Apa yang Mas Rico lakukan?! Aku sedang hamil!” Vera berteriak protes. Mendengar kata hamil, Rico sempat membeku sejenak. Ia mencemaskan keadaan bayinya. Namun ada hal lain yang lebih dia cemaskan.
“Jangan asal bicara. Nami tidak pernah cerita padaku kalau sebenarnya dia anak angkat. Mulutmu sangat jahat Vera. Jika sebenci itu kamu pada Nami, wajar saja kamu ingin memiliki apa yang tidak kamu miliki. Termasuk aku yang jadi kekasih Nami."
“Mas Rico jangan mengatai aku jahat. Karena Mas Rico juga pria jahat. Dengan tenang tidur denganku padahal sudah punya Mbak Nami,” ketus Vera tidak ingin kalah.
“Tutup mulutmu,” hardik Rico.
“Wajar saja Mbak Nami enggak cerita. Dia juga enggak tahu kalau hanya anak angkat. Jadi maklumlah.” Vera terus bicara sambil mulai berdiri.
“Nami tidak tahu?” Ini yang lebih mengejutkan bagi Rico. Mendadak ia cemas. “Jadi dia ...” Bahkan kata-katanya pun melambat. Rico terguncang mendengarnya.
“Ya. Mama baru memberi Mbak Nami kemarin.” Dengan tenang Vera mengungkap semua. Dia tidak bisa memperkirakan apa yang terjadi nantinya. Rico mendekat dengan mata marah. Tangannya mencengkeram pakaian Vera.
"A-apa yang kamu lakukan, Mas?"
“Jadi kamu senang saat Nami pasti bersedih mendengar kalau dia bukanlah bagian dari keluarga kamu?” desis Rico menyeramkan. “Kamu senang ja*Lang?”
__ADS_1
“Lepaskan,” kata Vera sambil memukul lengan dan tubuh Rico.
“Kenapa? Karena kamu sudah menyerahkan dirimu padaku, aku wajib melakukan apapun padamu. Termasuk mencekik mu mungkin.” Rico mengatakannya dengan dingin dan menusuk.
Vera merinding mendengar kalimat Rico.
...***...
Di tempat lain pada waktu yang sama.
Keadaan Nami dan Yugi berbeda jauh dengan ketegangan yang di alami Vera. Mereka sedang dalam keadaan bahagia.
“Kenapa aku baru tahu kalau Mas itu pemilik perusahaan advertising?” tegur Nami saat mereka baru saja sampai di rumah.
“Letakkan dulu tas kerja kamu. Lalu ganti baju. Kamu tidak lelah sejak tadi memegang tas itu?” tanya Yugi sambil menunjuk tas yang masih ada di tangan Nami.
Wanita ini tidak sadar. Ia sudah menahan diri untuk diam tidak bertanya sejak di dalam mobil. Namun saat sampai di rumah, dia ingin langsung bertanya.
Nami langsung memberi kode pada Yugi untuk melepas tangannya. Pria ini mengerti. Ia melepas tangannya dan membiarkan Nami membantunya.
“Mas ini sengaja menyembunyikan pekerjaan dari aku, ya?” tanya Nami dengan mata fokus pada kancing kemeja.
“Enggak."
Nami mendongak. “Enggak gimana? Aku kan baru tahu saat ketemu tadi di pertemuan. Kalau kita enggak kerjasama, pasti aku enggak akan tahu kalau
Setelah mengatakan itu, tangan Nami kembali membuka kancing. Tidak lama ia berhasil membuka kancing kemeja Yugi yang paling atas. Sepertinya kancing itu adalah kancing paling sulit di buka maupun di pasang.
“Aku pikir kamu tidak peduli dengan apapun yang aku kerjakan,” kata Yugi sambil menundukkan pandangan. Mengamati istrinya yang sedang membantunya. Sesekali ia merapikan rambut perempuan ini.
Nami mendongak lagi. Kali ini tangannya diam. Beberapa detik mereka saling berpandangan tanpa ada suara. Kemudian Nami menunduk lagi untuk menyelesaikan tugasnya. Yugi menaikkan alis tidak paham.
__ADS_1
“Mungkin dulu iya. Namun sekarang, setelah banyak hal terjadi, masa iya aku enggak peduli sama Mas," kata Nami. Kini semua kancing sudah bisa di buka semua. “Bahkan aku mau di sentuh oleh tanganmu.” Jari jemari Nami berada tepat di atas dada Yugi yang bidang. “Saat itu terjadi, bukankah berarti aku juga mulai peduli semua tentang mu?”
“Aku pikir kamu tidak peduli dengan apapun yang aku kerjakan,” kata Yugi sambil menatap istrinya yang sibuk membuka kancing kemejanya.
Kini semua kancing kemeja Yugi sudah bisa di buka semua. Dadanya yang bidang mengintip dari balik kemeja yang tersibak.
“Tidak mungkin aku tidak peduli. Bahkan aku mau di sentuh oleh tanganmu," ujar Nami. Jari jemarinya berada tepat di atas dada Yugi yang bidang. Ia ingin menyentuh tubuh pria ini. Tubuh polos tanpa ada helai kain yang menghalangi. “Saat itu terjadi, bukankah berarti aku juga mulai peduli semua tentang mu?” tanya Nami sambil menengadah, menatap Yugi dengan kilat mata berkabut.
Bola mata mereka saling beradu. Beberapa detik senyap karena saling membaca mata penuh cinta itu. Yugi menangkap tangan Nami yang menyentuh dadanya. Lalu mendekatkannya ke wajah.
“Apakah itu berarti perhatian mu mulai terpaku pada duniaku?” tanya Yugi seraya mengecup tangan istrinya. Nami tersenyum hangat.
“Ya. Aku ingin tahu segala hal tentang pria yang sekarang menjadi suamiku ini. Aku harus tahu tentangmu,” jawab Nami jujur. Jika biasanya ia merasa wajahnya memanas saat dirinya jatuh pada situasi penuh cinta seperti ini, tapi yang ia rasakan sekarang berbeda. Seluruh tubuhnya juga ikut bergejolak.
Tatapan mata Nami membuat Yugi menempelkan bibirnya pada bibir istrinya. Kemudian me****** bibir itu dengan lembut tapi juga rakus. Yugi melepas pegangannya pada tangan Nami. Lalu berganti menarik tubuh itu untuk lebih dekat padanya. Pagutan demi pagutan pun terjadi.
"Mmph ... Mmph ..." Suara lirih Nami yang mencoba mencari ruang untuk bernapas sekaligus berciuman, terdengar. Baru setelah puas, Yugi melepaskan bibir perempuan ini.
"Maaf," bisik Yugi karena memakan ciumannya. Ujung jari Yugi menyapu bibir Nami yang basah.
“Aku ini sedang marah karena kamu menyembunyikan soal pekerjaan mu. Kenapa malah mencium ku?” tanya Nami protes. Bibirnya di buat cemberut.
“Karena aku menginginkannya,” kata Yugi seraya merapikan rambut Nami. "Istri marah itu harus di cium dan di peluk untuk meredakan amarahnya."
“Padahal aku sedang kesal karena kamu tidak jujur.” Nami melotot gemas ke suaminya. Yugi tergelak ringan. Nami nampak menggemaskan.
“Apa kamu tidak menginginkan ciuman tadi?” tanya Yugi balik. Dia sedang mencoba menggoda istrinya. Nami mendengus lucu. Ia tahu gejolak di tubuhnya tadi sangat menikmati ciuman Yugi yang memabukkan.
..._____...
__ADS_1