Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 41 : Masih dengan mereka berdua


__ADS_3

"Sayang sekali keluarga jadi kurang lengkap karena kamu tidak ada, Nami," ujar Rico menyayangkan. Vera melirik tajam ke arah Nami. Padahal yang bicara itu Rico, bukan dirinya. Namun perempuan ini justru marah padanya. Nami tidak mempedulikan adiknya dan menoleh pada suami.


"Mas ... Kenapa makan eskrim begitu?" tunjuk Nami terkejut melihat Yugi belepotan. Sepertinya Yugi kurang bisa makan eskrim cone. Nami tergelak. Lalu mengulurkan tangan dan menyentuh ujung bibir suaminya. "Makannya pelan-pelan saja. Aku baru tahu kalau Mas enggak bisa makan eskrim model beginian."


"Iya. Aku hanya mengikuti kamu saja." Yugi ikut tersenyum.


Tanpa sadar, Vera dan Rico memperhatikan mereka yang tampak mesra.


Jadi Nami sudah punya menetapkan hati pada pria ini ya? Sebenarnya siapa pria ini? Tiba-tiba saja jadi suami Nami? Apa dia berselingkuh saat masih menjalin hubungan denganku? Benak Rico berpikir keras. Kemesraan Nami dan suaminya membuatnya gerah.


"Mas, lihat kemana sih?" desis Vera kesal. Meskipun sama-sama melihat ke arah Nami dan Yugi, tapi Vera segera membuang muka lebih dulu. Lalu dia menemukan Rico tengah memandang mantan kekasihnya.


"Lihat kemana? Ya lihat ke depan. Memangnya kenapa?" tanya Rico yang menyadarkan Nami dan Yugi kalau mereka sedang memandanginya.


"Lihat Vera dong. Lihatlah, bukti cinta kita berdua ini ... " Vera menarik tangan Rico dan meletakkan ke atas perutnya tanpa malu. Meskipun itu adalah darah daging Rico, bukankah Vera harusnya malu pada Yugi. Karena janin itu, Yugi dikhianati.


"Ya ...," sahut Rico tampak malas. Bahkan perbincangan selanjutnya, pria ini tampak hanya mengikuti apa yang dibicarakan Vera saja. Dia tidak berinisiatif menciptakan topik sendiri. Seringkali bola matanya mencuri pandang ke arah Nami.


***


Nami terkejut, saat keluar dari toilet ia mendapati Rico sudah berada di lorong. Namun Nami hanya menoleh sebentar. Ia tidak peduli keperluan pria itu di sana.


"Kamu mau balik ke depan?" tegur Rico.


"Tentu saja." Nami menjawab tanpa menoleh. Ia bahkan terus berjalan tanpa menanyakan kenapa pria ini bisa berdiri saja di sana.


Saat Nami meminta ijin untuk ke toilet tadi, Rico pun sengaja berpura-pura mendapat telepon penting untuk mengikuti.


"Nami tunggu," cegah Rico menahan tangan Nami. Manik mata Nami melebar melihat tangannya di pegang Rico.


"Lepaskan tanganku, Rico," desis Nami. Tatapan Nami menjadi tajam. Seakan mampu menusuk ke ulu hati. Rico melepas pegangannya pada tangan mantan kekasihnya ini.


"Sejak kapan kamu mulai benar-benar mencintai suamimu itu?" tanya Rico tanpa malu.


"Apa yang kamu tanyakan? Kamu sedang mencoba mengusik aku dan Yugi?"

__ADS_1


"Ini aneh, Nami. Kamu yang jadi kekasihku, tiba-tiba saja menikah dengan Yugi," kata Rico tidak percaya.


"Aneh? Aneh kamu bilang?" Nami mendengus kasar. "Kalau begitu, kamu lebih aneh lagi, Rico. Kamu jadi kekasihku, tapi kamu justru tidur dengan wanita lain. Bahkan sampai hamil. Dan gilanya lagi, wanita itu adalah adikku."


"Untuk itu aku salah." Rico mengaku.


"Lalu apalagi yang kamu bahas? Bukannya sudah jelas kamu salah. Kamu mengaku sendiri. Jadi tutup saja mulutmu dan pura-pura kita tidak pernah punya hubungan."


"Pura-pura? Jangan-jangan kamu yang sengaja berpura-pura. Kamu berselingkuh di belakang ku lalu menunggu waktu yang tepat aku melakukan kesalahan, kalian menikah." Rico balik menuduh.


Plak!


Nami tidak tahan dengan pria ini. Mulut dan sikapnya sungguh keterlaluan dan brengsek. Dia tidak lagi bisa menahan diri.


"Tutup mulut busuk mu itu, Rico. Kamu yang bersalah, tapi kamu mencoba memposisikan aku sebagai yang salah berikutnya. Kenapa? Kamu tidak ingin bersalah sendirian? Pengecut. Urusi istrimu saja daripada sibuk mengorek-ngorek tentangku dan Yugi," geram Nami.


Nami pun memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Rico yang mengusap pipinya yang panas akibat tamparan perempuan itu.


"Aku akan bongkar hubungan kita kepada Yugi! Aku akan buat kamu menyesal!" teriak Rico menggila. Meski ingin menyakiti Nami, sesungguhnya Rico hanya ingin mendekati Nami lagi.


"Nami," tegur Yugi yang menyusul.


"Yugi?" Nami panik. Spontan ia menoleh ke belakang. Mengawasi, apa Rico ada di belakangnya. Ternyata tidak.


"Ada apa?" tanya Yugi yang menangkap kepanikan istrinya. "Apa ada yang mengganggu mu?"


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Ayo kita ke depan." Nami memutar pinggang suaminya agar tidak menoleh lagi ke lorong.


Di luar, Vera duduk sendirian dengan cemberut.


"Kita pulang saja. Aku sudah pamit pulang. Ini tas kamu." Yugi menunjukkan tas wanita di tangannya. Mereka lewat jalan lain.


"Kamu meninggalkan Vera sendiri?" tanya Nami.


"Tidak. Kita sempat berbincang sebentar, tapi aku tidak mendengarkan," sahut Yugi.

__ADS_1


"Kalian sedang reuni rupanya," kata Nami tanpa sadar dengan raut wajah aneh. Yugi mengawasi wajah perempuan ini.


"Apa istriku ini sedang cemburu?"


"Hah? Apa yang Mas tanyakan?" Nami terkejut.


"Aku tahu itu," kata Yugi seraya mencondongkan wajahnya. kemudian tersenyum.


"Aku enggak cemburu. Aku hanya mengatakan apa yang memang sedang terjadi." Sebenarnya Nami mendengar apa yang dikatakan Yugi tadi. Buktinya dia menyangkal.


"Tidak. Kita bukan reuni. Karena kita bukan teman," sanggah Yugi.


"Ya, tapi mantan kekasih," pungkas Nami yang makin membuat cemburunya kentara. Yugi pun mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Nami. Sampai membuat wanita ini merona. Karena mereka masih di jalan menuju area parkir.


"Hanya mantan, itu bukan sebuah hubungan yang istimewa."


"Tapi kan kalian pernah menjalin hubungan asmara," kata Nami mulai menyisir rambutnya yang terurai dengan tangan.


"Apa kamu pikir hubungan asmara aku dan Vera itu indah?" tanya Yugi.


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu," sahut Nami berusaha menunjukkan kalau dia tidak peduli. Perempuan itu masuk ke dalam mobil. Yugi ikut masuk juga. Namun Pria itu tidak menyalakan mesin mobil karena masih menatap wajah perempuan ini. Merasa di amati, Nami menoleh ke samping. "Kenapa diam saja? Kita enggak pulang?"


"Tentu saja pulang." Yugi masih saja tersenyum. Ini membuat Nami was-was. Ternyata lagi-lagi Yugi mengecupnya. Kini bukan lagi pipinya. Yugi berhasil membuat bibirnya yang jadi sasaran.


"Kenapa cium terus sih?" Nami protes bukan karena tidak suka. Ia hanya malu.


"Nggak apa-apa dong. Yang di cium istri sendiri juga. Sah-sah saja kan ..." Yugi mulai dengan menyalakan mesin. Tiba-tiba Nami bersandar di bahunya.


"Ternyata tidur di bahu suami itu nyaman." Nami baru menyadari kalau dia suka dengan semua hal tentang Yugi sekarang.


"Baru sadar ya ...," ledek Yugi. Nami menganjurkan bibirnya ke depan membalas ledekan Yugi. Pria ini tergelak. Mobil pun menjauh dari tempat mereka tadi.


..._______...


__ADS_1


__ADS_2