
Jika Nami menunjukkan senyum jahatnya pada Rico, kali ini dia tersenyum pada Yugi dengan manis. Rico menatap Yugi dengan heran. “Suami?”
Yugi tersenyum. Sebenarnya dia juga sama seperti Rico yang terkejut. Pelukan pada lengannya adalah hal yang tidak biasa. Perempuan ini sedang berakting. Namun Yugi langsung mengerti dan ikut memeluk pundak Nami. Mendekatkan tubuh perempuan ini padanya. Bola mata Nami melebar sebentar seraya melirik ke arah tangan Yugi yang memeluknya. Tidak menduga bahwa pria ini mengerti kodenya.
“Ya. Aku suami Nami,” kata Yugi. Nami mendongak dan menipiskan bibir. Yugi mengangkat alis dan bahunya.
“Mas Rico,” panggil Vera yang sepertinya tidak sabar menunggu Rico kembali ke meja makan. Rico dan dua orang lagi menoleh. “Sudah selesai nelponnya?” tanya Vera lembut. Berbeda sekali saat bicara dengan Nami.
“Oh, iya.” Rico mengangguk.
“Kenapa mengumpul di sini? Mama ada di ruang makan. Seharusnya kalian segera ke sana. Bukan ngumpul di sini.” Vera berkata ketus pada Nami dan Yugi. Bola matanya menemukan tangan Yugi memeluk Nami. “Oh, sudah akrab, nih?” tanya Vera setengah mencemooh. Dia mendengus seraya membuat raut wajah menyebalkan.
“Bukannya suami istri memang harus akrab?” tanya Yugi. “Apa kamu tidak tahu itu?”
“Oh, begitu ya. Hihihi. Iya. Memang kalian harus akrab.” Lagi-lagi kalimat Vera penuh dengan cibiran. “Ayuk mas Rico. Kita segera ke meja makan. Mama menunggu.” Vera bergelayut mesra pada lengan Rico dan mengajaknya ke ruang makan.
“Ya. Ayo kesana,” kata Rico. Namun tidak bisa di sembunyikan kalau bola mata Rico selalu menatap ke arah Nami sejak tadi. Yugi makin mempererat pelukannya di pundak istrinya. Sepertinya pria itu terpukul melihat Nami dan suaminya begitu mesra.
“Gi, bisa lepaskan tangan kamu?” tanya Nami sambil menundukkan kepala. Dia berani mengatakan itu karena dua orang tadi sudah tidak ada di depan mereka. Yugi mengerti. Ia melepaskan tangannya dari punggung Nami. “Sebaiknya kita segera kesana juga. Mama ingin kamu sarapan.”
Yugi mengangguk. Lalu mempersilakan Nami berjalan di depannya.
Saat pintu terbuka, mama menoleh. Senyumnya langsung mengembang. “Yugi ... Ayo sarapan. Mama cemas kalau kamu belum makan,” kata Mama sambil melambai pada menantunya.
“Iya, Ma.” Yugi menyentuh punggung Nami dan mendorong tubuh itu pelan ke meja makan. Nami hanya mengikuti arahan Yugi tanpa bicara. Sebelum duduk, Nami mengambil piring dan akan mengisinya dengan nasi dan lauk.
“Nami, suaminya itu dilayani dong. Masa ambil makan sendiri,” tegur Mama. Padahal Nami mengambilkan piring untuk Yugi. Meskipun pernikahan ini seperti sandiwara, Nami tahu harus bersikap bagaimana pada Yugi di depan orang lain. “Lihat itu adik kamu. Dia pandai sekali melayani Rico. Padahal mereka belum resmi menikah. Sepertinya kamu harus belajar dari adikmu,” kata mama mengejutkan. Vera tersenyum mencibir.
Nami tertegun. Tangannya langsung mengambang. Urung menuangkan nasi. Rico menatap perempuan itu iba. Ia tidak tega melihat mama Vera mengolok-oloknya.
“Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa mandiri, Ma. Karena itu Nami tidak perlu belajar dari Vera. Apalagi hanya soal mengambil nasi seperti ini. Saya tidak pernah menuntut istri saya untuk terlalu memanjakan saya. Karena saya bukan raja. Justru sayalah yang harus memanjakan istri. Sudah aku bilang jangan di ambilkan. Biar aku sendiri.” Yugi menyentuh tangan Nami yang membeku memegang piring.
Vera menipiskan bibir mendengar Yugi membela Nami. Rico sedikit merasa lega melihat Nami di bela.
__ADS_1
“Iya. Setiap orang memang punya pemikiran yang berbeda-beda,” kata mama menanggapi kalimat Yugi yang mementahkan nasehatnya untuk Nami tadi. Namun mama juga menipiskan bibir setelah itu. Seperti kaget mendapat kalimat balasan dari menantunya.
Air mata Nami sudah hampir meleleh. Yugi mengerti. Siapa saja pasti akan menangis mendengar kalimat mertua.
“Kamu pasti lelah sudah ikut memasak tadi. Jadi duduk saja. Aku akan mengambilkan makan untuk kamu,” ujar Yugi lembut sambil menuntun Nami untuk duduk. Perempuan ini masih berdiri membeku karena ucapan mamanya.
...***...
Hanya beberapa suapan, Nami menyudahi sarapannya. Yugi mengerti itu. Makanya sengaja ia mengambilkan makanan untuk istrinya hanya sedikit tadi.
“Kamu mau kemana?” tanya mama melihat Nami hendak beranjak pergi. Bola mata beliau melirik ke arah piring yang di bawa Nami. “Makan kamu sudah selesai?”
“Ya,” jawab Nami singkat.
“Letakkan itu dulu, baru duduk lagi di sini. Mama mau bicara,” kata mama. Yugi menatap istrinya.
Setelah menghela napas. Kepala Nami mengangguk. “Ya.” Lalu Kakinya berjalan menuju tempat pencucian piring. Nami berencana pergi setelah meletakkan piring
“Ada hal yang penting, Ma?” tanya Yugi berusaha menetralkan suasana tegang yang di dera Nami.
“Iya, Yugi. Mama ingin bicara kepada kalian berdua sebagai saudara Vera.”
“Vera?” Yugi melirik perempuan itu. Hatinya was-was juga. Ia takut itu bukan hal baik untuk Nami. “Apa soal pernikahan?” tanya Yugi bermaksud mendapat bocoran lebih dulu sebelum Nami kembali ke kursi. Juga bermaksud, agar Nami tidak terlalu terkejut nanti.
“Ya. Itu benar. Putriku akan menikah.” Mama memandang Vera dengan bangga. Perempuan itu tersenyum manja pada mamanya. Yugi sendiri mengabaikan itu dan melirik istrinya yang berjalan kembali ke kursi. Lalu ia menarik kursi untuk istrinya.
__ADS_1
“Terima kasih,” lirih Nami. Yugi tersenyum. Rico melihat itu. Mama yang ada di dekat mereka juga melihat interaksi kecil ini.
“Mas Rico bahagia, kan ... Sebentar lagi kita menikah,” kata Vera seraya menoleh ke arah Rico, tapi pria ini tidak menggubrisnya. “Mas Rico,” tegur Vera pelan.
“I-iya. Ada apa?” tanya Rico gugup.
“Mas lihat apa?” tegur Vera.
“Lihat ... Lihat makanan itu. Mau ambil terlalu jauh dari jangkauan,” kilah Rico. Karena dia memang sedang melihat ke arah Nami. Kebetulan ada sayur tidak jauh dari Nami. Yugi menoleh ke arah mereka. Dia tahu pria itu pasti melihat Nami sejak tadi.
“Emmm ... Kenapa enggak bilang? Pasti aku ambilkan. Mbak, piring sayurnya tolong, dong,” pinta Vera memberi perintah. Meskipun ada kata ‘tolong’ yang seharusnya bisa membuat setiap kalimat terdengar sopan, tapi saat keluar dari mulut Vera, kalimat itu penuh dengan penghinaan. Layaknya Nami adalah pembantu, dan Vera adalah majikannya.
Nami mendongak. Tidak menjawab atau menggerakkan tangannya untuk mengambil sayur itu. Yugi juga memperhatikan Nami yang diyakini ingin marah sekarang. Mama hanya melihat saja sambil meneruskan makan.
“Enggak jadi,” ralat Rico panik. Dia tidak menduga Vera menyuruh Nami.
“Kenapa enggak jadi? Mbak Nami baik kok. Dia pasti mau mengambilkan sayur untuk kamu,” kata Vera seakan tetap bersikukuh menyuruh Nami.
“Aku tahu dia baik, tapi ...” Rico belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat sebuah suara menyerobotnya.
“Istriku memang orang baik, Vera,” potong Yugi. Dia menutup kalimat Rico dengan berbicara. Vera melihat ke arah Yugi. “Namun aku rasa kamu sudah lupa apa yang di katakan mama tadi. Bahwa kamulah yang paling bisa melayani calon suami dengan baik. Bahkan Nami perlu belajar dari kamu. Bukan begitu, Ma?” tanya Yugi mengusik ketenangan mertuanya.
... _______...
__ADS_1