
"Apa-apaan ini Vera?" tanya Rico yang muncul di belakang mereka. Mereka melebarkan mata. Kemudian memilih masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu.
"M-mas?" Vera terkejut. Seharusnya Vera paham kalau ini masih area milik Rico. Jadi tingkahnya akan selalu di ketahui pria ini. Tangan Vera yang berada di dalam tangkapannya, dihempaskan begitu saja.
"Kamu mau menampar Nami?" tanya Rico dingin. Vera menatap pria ini kesal. "Iya?" desak pria ini marah.
"Kenapa mas Rico selalu membela Nami?" tanya Vera dengan raut wajah tidak terima.
"Aku tidak membela Nami. Aku sedang bertanya padamu, apa yang sedang kamu lakukan."
"Mas Rico berniat marah kalau aku melakukan sesuatu pada perempuan ini kan?" sembur Vera menggila.
"Karena kamu tidak mengerti meskipun semua ini memang kesalahan kamu, Vera," jelas Rico yang sebenarnya malu pada orang-orang di dalam ruangan sana.
"Kalau begitu, sekalian saja aku melakukan ini." Mendadak tangan Vera menarik rambut Nami.
"Aghh!" teriak Nami kesakitan secara spontan.
Mila dan Ina yang mencuri lihat dari dalam terkejut dan segera berlari mendekat ke arah Nami dengan wajah panik tanpa peduli ada Pak Rico di sana.
"Lepaskan Vera!" teriak Rico sangat marah.
"Aku tidak mau!" Vera menjambak rambut Nami dengan kuat. Dia sungguh menggila. Nami mencoba mendorong Vera. Bersamaan itu, Tanpa perlu menahan diri lagi, Rico juga menarik tubuh Vera agar menjauh dari Nami. Tangan Vera akhirnya bisa terlepas dari rambut Nami.
"Kamu enggak apa-apa, Nami?" tanya dua orang ini cemas melihat rambut Nami yang berantakan. Dia menoleh cepat pada Vera yang sudah di tahan oleh Rico. Nami mau marah.
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vera. Hingga Ina dan Mila sampai meringis mendengar suara yang nyaring itu. Vera urung mendekat karena itu.
"M-mas ... Ri-co," sebut Vera lambat. Dia tertegun dengan tamparan itu. Tangannya memegangi pipinya yang merah.
"Sudah aku katakan kalau tindakanmu itu salah Vera, tapi kenapa kamu tetap bersikeras tetap pada pendirian mu? Malah kamu sengaja melakukannya lagi!" sembur Rico tidak tahan untuk tidak berteriak.
Vera diam. Dia syok!
"Bawa Nami ke ruang kesehatan," perintah Rico pada Ina dan Mila.
"Baik Pak."
"Aku tidak apa-apa." Nami merasakan sakit di akar rambutnya. Namun ia tidak harus memeriksakan diri.
"Enggak. Harus kesana," paksa Mila yang langsung di beri anggukan setuju oleh Ina. Mereka harus menjauhkan dulu Nami dan Vera.
__ADS_1
Nami menaikkan alisnya dan melebarkan mata. Dia menolak ajakan mereka meski memaksa. Lalu memberi kode pada mereka untuk masuk ke dalam ruangan saja.
Rico tahu Nami menolak menerima perhatian darinya sedikitpun.
"Mau kemana kamu Nami?" tegur Vera karena melihat Nami menjauh dari sana. Ina dan Mila menoleh dengan marah. Berbeda dengan Nami yang tidak mempedulikan dan tetap masuk ke dalam ruangan dengan tenang.
"Diam, Vera," desis Rico.
Vera menatap Rico dan akhirnya membiarkan Nami menjauh.
"Jadi aku akan tetap di benci kamu meski aku diam. Karena itu, aku harus bisa membuatnya kesakitan seperti tadi," kata Vera puas.
"Kalau begitu, keluar dari perusahaan ini Vera. Jika kamu masih tetap menggila seperti ini saat bertemu Nami, aku pastikan kamu tidak bisa lagi bekerja di sini," ancam Rico.
"Bahkan Mas Rico tega mengeluarkan aku, dari pekerjaan?" tanya Vera tidak percaya. Seringnya orang yang punya salah besar justru tidak menyadari kesalahannya.
"Jika terpaksa, iya. Lagipula, kita akan bercerai," kata Rico membuat Vera melotot.
"Mas Ricoooo!!" teriak Vera histeris. Dari sini orang-orang dari bagian lain mendengar suara yang meninggi ini. Kepala mereka sempat menjulur untuk melihat ada apa di lorong bagian ini.
Rico sudah tidak peduli kalau harga dirinya di depan banyak orang hancur karena kelakuan buruk istrinya.
Mila dan Ina uring-uringan sembari memeriksa kepala Nami.
"Dasar Vera gila. Bukannya dia yang harusnya di tarik rambutnya. Kan dia yang jadi pelakornya, kenapa kamu yang dibuat seperti ini?" omel Ina.
"Psiko tuh orang," maki Mila geram. Nami hanya menghela napas.
"Jadi Vera dan Pak Rico sedang gonjang-ganjing ya ... Ada rambut yang rontok karena tarikan tadi," kata Mila memberi tahu.
Ina melongok keluar. Pak Rico dengan Vera masih di lorong. Mereka pasti bertengkar.
**
Setelah drama tadi, Vera benar-benar di pulangkan oleh Rico. Dia tidak ingin wanita itu terus-terusan marah di kantor. Meski Rico tidak peduli pandangan orang padanya. Namun dia harus bisa meredam keributan itu.
"Nami, bisa kita bicara?" tegur Rico saat Vera sudah di pulangkan secara paksa. Nami yang sedang mengerjakan sesuatu di komputer mendongak.
Ina dan Mila melirik.
"Bicara saja," kata Nami tanpa memberi ruang privasi mereka bicara berdua. Nami enggan.
__ADS_1
"Maafkan atas kelakuan Vera tadi. Apa masih sakit?" tanya Rico dengan wajah cemas pada rambut dan kepala Nami.
"Begitulah."
"Dia menggila karena hal yang tidak benar. Padahal dia lah yang memulai ini, tapi tanpa sadar selalu menyalahkan kamu." Ada rasa penyesalan yang tampak di sorot mata pria ini.
Mendengar ini Ina dan Mila yang tadinya melihat, kini berbalik ke arah komputer untuk tidak menjadikan permintaan maaf Rico sebagai tontonan.
"Aku paham bagaimana dia. Tenang, aku tidak dendam padanya. Buatku dia hanya angin berlalu saja." Nami merasa tidak penting berurusan dengan perempuan gila macam dia.
***
Pulang kerja.
Ina dan Mila menemani Nami menunggu Yugi di depan gedung.
"Aku enggak apa-apa. Kalian bisa pulang lebih dulu," kata Nami meminta temannya pulang. Tidak perlu menemaninya.
"Tidak. Kita bertekad untuk menemanimu. Karena bisa saja ada yang mendatangi kamu," kata Ina.
"Vera sudah pulang. Lalu sekarang sudah jam pulang kerja. Kemungkinan orang di dalam gedung juga pulang," kata Nami.
"Bisa saja itu Pak Rico. Karena aku lihat dia masih ada di dalam. Aku justru takut kamu di dekati Pak Rico lagi, Nami," kata Yuli yang ternyata sudah tahu kejadian tadi tadi siang. Ina dan Mila yang cerita saat mereka makan siang bersama.
"Hhh ... Oke. Temani aku sampai suamiku datang." Nami mengalah. Semua pun tersenyum.
Tidak lama mobil Yugi datang.
"Halo," sapa Yugi ketika turun dari mobil menyapa teman-teman istrinya.
"Halo," sahut mereka hampir bersamaan.
"Ya sudah. Karena suami kamu sudah datang, kita juga pulang," kata Yuli.
"Terima kasih," kata Yugi mengangguk sopan pada mereka.
"Tolong jaga Nami ya, Mas. Kalau bisa periksa kepalanya. Karena Vera tadi menarik rambutnya dengan keras," kata Mila mengadu.
..._______...
__ADS_1