Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 78 : Pertemuan yang menjengkelkan


__ADS_3

Vera dan mamanya tengah jalan-jalan siang ini di mal. Mengurangi suntuk karena berita tidak mengenakkan belakangan ini. Ya. Vera sudah di ceraikan oleh Rico. Mereka berdua sudah sah bukan lagi suami istri. Hak anak ada pada Rico yang di anggap lebih mampu menghidupi buah hatinya.


Tatkala itu Vera melihat Nami yang juga berada di mal dengan temannya. Perempuan itu baru saja keluar dari outlet pakaian bayi. Ini memicu Vera ingin meluapkan rasa amarahnya pada perempuan itu.


"Ternyata kamu masih bisa bersenang-senang ya ..." Vera memulai. Bahkan saat Nami tidak ingin menggubrisnya, Vera masih mencoba menghalang-halangi langkah perempuan yang tengah hamil itu.


Sifa yang tahu cerita tentang Vera dan mamanya geram dan ingin memukulnya kalau saja Nami tidak mencegahnya.


"Sudahlah Sifa. Jangan dengarkan sepatah kata pun dari mulut mereka," pesan Nami yang menahan Sifa untuk marah. Sifa menipiskan bibir seraya melirik tajam pada Vera. Ya, dia tidak harus mendengarkan orang semacam Vera. Karena dia juga bisa gila karena tertular penyakit dua orang itu.


"Oke. Aku akan coba untuk diam." Sifa mengangguk mengerti. Dia menghormati Nami.

__ADS_1


"Ayo, kita pergi saja. Kita tidak punya urusan di sini," kata Nami seraya menarik tangan Sifa untuk mengabaikan mereka berdua. Namun Vera tetap mencoba menghalangi jalan Nami. Dia ingin berdebat dengan Nami. Sekalian meluapkan rasa marahnya karena di ceraikan Rico.


Sungguh miris, mama sebagai orang tua membiarkan putrinya melakukan hal itu pada Nami.


Kedua alis Sifa menyatu karena kesal. Pada akhirnya Nami harus berhenti dan melihat Vera lurus-lurus.


"Ada apa? Apa masih ada urusan? Aku rasa aku dan kalian sudah tidak punya urusan lagi," kata Nami dengan marah yang bertumpuk jadi satu pada sorot matanya. Dia menatap Vera dan mama bergantian.


"Huh. Kamu sombong sekali, Nami. Padahal kamu bisa hidup itu karena belas kasihan dariku, tapi lihatlah sekarang. Kamu menatap kami bagai penjahat." Mama mulai angkat bicara. Dia menatap dengan meremehkan Nami dari atas ke bawah. Nami diam sambil mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Seharusnya kamu berterima kasih karena bisa hidup dengan kehidupan yang baik di rumahku, tapi apa ... kamu membuang kami," kata mama lagi ketus. "Seharusnya otak kamu berpikir dengan benar. Aku ini harus bersikap baik pada keluarga yang sudah membesarkan aku, begitu. Bukan malah bertingkah tidak tahu diri seperti ini." Mama menunjuk Nami dengan sikap arogan dan penuh penghinaan.

__ADS_1


Beberapa orang melintas melihat ke arah mereka. Karena ribut di tempat umum, mereka jadi tontonan bagi mereka yang tidak sengaja melintas.


"Hei!" Sifa tidak tahan. Namun dia tidak bisa melakukan tindakan lebih dari ini karena Nami juga masih menahan diri.


“Kamu itu orang luar. Jadi sebaiknya diam saja.” Mama mengingatkan. Ini makin membuat Sifa geram. Namun dia tahu Nami juga tengah berusaha.


Nami tampak tengah menguatkan hatinya.


"Yang melakukan itu adalah mama sendiri, bukan aku. Mamalah yang membuang aku dengan mengatakan aku hanya anak pungut. Kita bukan keluarga. Mamalah yang mengatakan itu sendiri padaku," kata Nami seraya menunjuk dirinya.


Mama dan Vera mencibir mendengar Nami bicara.

__ADS_1


...____...


 


__ADS_2