
Sepulang Nami dan Yugi dari rumah sakit.
Di dalam ruangan hanya ada Rico dan Vera. Mama keluar ke minimarket.
Rico menatap putranya dengan wajah haru. Meskipun ia sempat tidak menyayangkan kemunculan bayi ini, tapi saat melihat langsung, Rico begitu menyayanginya.
Tangan Rico terjulur masuk pada box bayi. Mengangkat bayi putih itu ke dalam gendongannya. Bibir Rico tersenyum.
Sementara itu Vera yang sedang memulas wajahnya dengan bedak ikut tersenyum senang melihat interaksi keduanya. Wanita ini tidak melupakan kosmetiknya saat berada di rumah sakit.
"Sempat-sempatnya kamu merias diri," ujar Rico.
"Ini kan untuk Mas Rico juga. Kalau seandainya ada teman mas yang datang, Mas Rico enggak akan malu istrinya kusut dan jelek." Begitu alasan Vera. Dia tetap merias wajahnya karena kata Rico, teman sekantornya kemungkinan akan datang menjenguk.
Untuk alasan ini sebetulnya tidak salah. Demi menjaga kehormatan suami, kita harus tetap tampil baik di depan orang banyak. Namun karena Rico sudah tidak punya rasa istimewa lagi pada perempuan ini, dia merasa itu sungguh menyebalkan.
"Jadi, sepulang dari rumah sakit, Mas akan membawa aku dan putra kita ke rumah Mas Rico?" tanya Vera menutup tempat bedaknya. Dia menatap Rico.
"Pulang ke rumahku?" tanya Rico mengerutkan keningnya. Dia yang tadinya menatap putranya dengan sayang kini mendongak tidak senang. Seakan terganggu dengan pertanyaan itu.
"Ya. Tentu saja begitu bukan?" Vera tersenyum manis. "Kita satu keluarga. Mas Rico, aku, dan putra kita." Vera mengatakannya dengan manja.
Rico menipiskan bibir mendengar itu. "Kita lihat saja nanti," ujar Rico misterius. Vera hanya tersenyum tanpa tahu akan ada sesuatu yang sedang di rencanakan Rico.
***
Satu bulan setelah itu.
Brak!
__ADS_1
Pyaar!!
Kamar tidur milik Vera sangat berantakan. Bahkan vas dan gelas di atas bufet pecah berserakan di lantai. Perempuan ini mengahcurkan kamarnya sendiri. Ada hal yang membuat Vera kacau.
"Kurang ajar! Kurang ajaaaarr!!" Teriakan perempuan ini terdengar nyaring. Mama tergopoh-gopoh datang menuju kamar putrinya.
"A-apa yang terjadi di sini? Ke-kenapa semuanya berantakan?" tanya mama terkejut. Bibi yang menggendong bayi Vera tidak berani mendekat.
"Dia ... hhh ... dia ... Hh ... kurang ajar," sahut Vera dengan wajah marah dan mata memerah. Napasnya juga naik turun karena terengah-engah.
Mama mendekat dengan wajah ngeri melihat keadaan kamar putrinya. "Siapa yang kamu maksud?" tanya mama menyentuh lengan putrinya.
Karena fokusnya pada keadaan kamar dan teriakan Vera, mama baru sadar di tangan Vera ada sebuah kertas.
"Kertas apa ini?" Mama merasa karena kertas itulah Vera mengamuk. Vera membiarkan mama mengambil kertas yang kusut di tangannya. Mama mencoba membaca di dalam hati isi dari kertas itu. "A-apa ini?" tanya mama terbata.
"Mama tidak bisa membacanya?" tanya Vera gusar.
"Ya. Rico menceraikan aku. Dia menceraikan aku!" teriak Vera kesal dan emosi.
***
Nami kembali bekerja seperti biasanya. Keinginan dia untuk tetap bekerja meski hamil di terima oleh Yugi.
Tidak mudah bagi perempuan ini untuk melepas bekerja karena sudah lama terbiasa melakukannya. Bahkan saat sedang mengandung pun, tidak menghalanginya untuk tetap bekerja.
"Jadi kamu benar hamil, ya?" tanya Sifa ingin tahu lagi. Padahal ini sudah berjalan sebulan yang lalu. Karena perut Nami tidak terlalu terlihat di usia menginjak hampir lima bulan ini.
Meski hubungan mereka tidak begitu dekat, tapi dia tetap sering mengajak Nami mengobrol. Itu membuat Nami tetap menerima perilaku ini. Tidak merugikan bukan?
__ADS_1
"Ya. Bukankah itu sudah sebulan yang lalu kamu mendengarnya," kata Nami seraya tergelak.
"Aku kan belum bertanya padamu langsung." Sifa bicara tanpa menoleh.
"Kita makan siang bareng, yuk," ajak Nami.
"Makan saja sendiri." Sifa enggan. Perempuan sedang dalam mode tidak ramah. Nami tidak begitu peduli dengan tanggapan ini.
"Ayolah. Aku tidak punya teman di sini. Paling banyak bicara mungkin denganmu saja," ujar Nami sambil berusaha merayu.
"Bukankah biasanya kamu sama Yugi? Dia akan marah saat tahu kamu mengajakku makan siang dan mengabaikannya," tolak Sifa.
"Aku sudah memberitahu Yugi. Dia juga ada kepentingan di luar dengan Reno sekarang. Jadi dia mengijinkan aku makan siang denganmu," jelas Nami.
Sifa melirik. Dia menatap perempuan yang pernah ia benci karena berhasil menikah dengan Yugi. Nami yang hamil pasti sedang ngidam makan siang di temani orang lain.
"Baiklah, tapi aku enggak mau bayar lho," dusta Sifa. Dia hanya bercanda saja.
"Tentu saja. Karena ini pertama kalinya aku mengajakmu makan siang, aku akan mentraktir. Kartu kredit Yugi sudah ada padaku. Jadi kita bisa sepuasnya makan dengan memakainya," ujar Nami dengan penuh provokasi.
"Jadi kamu beneran mau traktir?" tanya Sifa tidak percaya.
"Tentu. Ayo," ajak Nami. Menurut Nami sebenarnya Sifa tidak jahat. Dia hanya di butakan oleh cintanya pada Yugi hingga sempat tidak menyukai dirinya.
Mereka berjalan keluar. Saat itu di lobi perusahaan, ada ribut-ribut. Sekuriti yang ada di depan sedang menenangkannya. Semua orang juga memusatkan perhatian mereka pada perempuan yang tengah marah-marah itu.
"Aku ingin bertemu dengan Nami! Kalian tidak tahu siapa aku?!" teriak perempuan dengan tubuh agak melar jika di bandingkan tubuh bagian atasnya yang kecil. Sepertinya dia habis melahirkan.
Nami? Mendengar namanya di sebut, Nami menoleh. Sifa pun ikut menoleh dan memperlambat langkahnya.
__ADS_1
...____...