
Pulang dari tempat kerja, Vera langsung mencari mama. Ada hal penting yang harus ia bicarakan berdua.
"Mau kemana?" tanya Rico yang melihat Vera tidak menuju ke kamar, tapi langsung belok.
"Ada perlu sama mama. Mas Rico ke kamar dulu." Suara Vera menjadi pelan bersamaan dengan tubuhnya yang menjauh dari Rico. Akhirnya pria ini membiarkan perempuan itu menghilang dari pandangannya. Vera akhirnya menemukan mamanya di lorong menuju dapur.
"Mama."
"Eh, sayang. Kamu sudah pulang?" tanya mama melihat putrinya datang dengan senyum bahagia. Ya, Vera memang kesayangan perempuan ini karena hanya dialah yang keluar dari rahimnya.
"Vera mau bicara, Ma. Ayo ke dapur. Kita menjauh." Vera menggandeng tangan mamanya dan mengajaknya ke dapur yang letaknya agak jauh dari kamar dia dan Rico. Mama terlihat kebingungan dengan sikap putrinya. Apalagi saat tahu Vera sengaja sembunyi dari suaminya.
"Ada apa?" Sesampainya di dapur, mama bertanya karena penasaran.
"Ma, aku tadi baru tahu soal siapa Yugi," kata Vera dengan ekspresi wajah kesal dan menyesal.
"Maksudnya?" Mama masih belum paham.
"Ternyata Yugi itu pemilik perusahaan advertising. Dia punya perusahaan Ma, perusahaan!" Vera menggebu-gebu mengatakan cerita baru soal mantan kekasihnya.
"Darimana kamu tahu?" tanya mama heran.
"Tadi aku ikut Rico bertemu dengan pihak perusahaan iklan buat penjualan mobil terbaru divisi otomotif. Perusahaan Yugi itu ternyata pihak pengiklan yang sudah terkenal di antara pengusaha. Kemungkinan dia kaya, di atas Rico." Vera melebarkan mata berbinar saat bercerita tentang mantan kekasihnya.
"Jadi, dia bukan karyawan biasa?" tebak mama.
"Tentu dong, Ma. Dia itu pemilik perusahaan!"
"Kamu ini gimana sih? Katanya kamu, Rico itu sudah paling kaya di antara cowok kamu. Kok sekarang malah Yugi yang kamu buang yang ternyata adalah pria kaya?" tegur mama.
"A-aku salah sepertinya Ma," sesal Vera sambil setengah ingin merengek.
__ADS_1
"Dasar enggak becus. Kamu lihat apa sih? Malah punya Nami yang kamu ambil. Padahal pacar kamu sendiri itu sudah kaya. Sekarang kan jadi enak si Nami. Padahal dia itu hanya anak yatim piatu yang di ambil papamu dulu dari panti asuhan," kata mama mendorong kening Vera dengan kesal. Kepala Vera sampai terdorong ke belakang.
"Kan dia enggak pernah memberitahu dengan pasti kerja apa. Bahkan bertemu denganku saja dia enggak pernah bawa mobil yang ia punya di rumahnya itu," bela Vera dengan muka masam.
"Yugi punya rumah saja kamu enggak tahu. Padahal rumahnya bagus. Sekarang ternyata dia malah pemilik sebuah perusahaan. Mata kamu itu gimana ngelihatnya?" Mama melebarkan mata marah. Terlihat sekali mama geregetan ingin marah ke Vera. Perempuan ini menunduk sambil meringis memegangi kepalanya.
"Malah bunting dengan Rico yang jadi bekas Nami," imbuh mama jengkel.
"Dia kan manajer Ma," bela Vera mengerucutkan bibirnya.
"Manajer kan hanya karyawan biasa. Kalau Yugi itu kan pemilik. Berarti lebih kaya si Yugi daripada Rico," jelas mama kesal. Vera mendengus.
"Jadi begitu ya?" tanya sebuah suara di belakang mereka.
Vera dan mamanya berjingkat terkejut. Lalu menoleh ke asal suara. Bola mata keduanya melebar melihat siapa yang berbicara barusan.
"Ri-rico?" kata mama terbata.
"S-sayang ..." Vera ikut terbata. Ia langsung mendekati suaminya. "Mas mau ... makan?" Vera berusaha bersikap lembut. Namun pria itu menepis tangan Vera.
"Tidak. Kita tidak sedang membicarakan apa-apa," kata mama langsung bisa menguasai keadaan.
"Benar sayang. Kita hanya bicara masalah kehamilanku," kata Vera setuju dengan alasan mama.
"Jangan mengelak." Tangan Rico menarik lengan Vera.
"Aw!" Vera memekik karena terkejut. Kemungkinan tarikan tangan Rico agak kasar. Mama melebarkan mata melihat itu.
"Aku mendengar apa yang kalian berdua bicarakan," kata Rico seraya mengeratkan rahangnya. Bola mata Vera bergetar. Baru kali ini ia melihat sorot mata marah milik Rico. Tangan mama juga gemetar. Perempuan paruh baya ini juga merasakan apa yang dirasakan putrinya.
"Jadi kamu dan mama mu ini merencanakan semuanya? Kalian sengaja menjebak aku dengan kehamilan itu agar aku dan Nami berpisah?!" Rico mempererat cekalannya pada lengan Vera seraya melihat ke arah istrinya dan mertuanya dengan amarah yang tidak bisa di kendalikan.
__ADS_1
"Mas, sakit!" Vera mengeluh.
"Rico, tenanglah," kata mama panik. Namun Rico tidak melepaskan cekalannya.
"Mama juga bersekongkol dengan Vera untuk membuat aku harus menikah dengannya, padahal perempuan ini masih menjalin hubungan dengan Yugi. Bahkan menyuruh Nami menikah dengan Yugi. Apa kalian ini punya otak?!" tanya Rico tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Rico, tenangkan dirimu. Vera itu hamil," kata mama. Namun pria ini tidak peduli. Dia tetap menatap tajam pada Vera.
"Tapi Mas Rico mau juga kan saat aku memberi kehangatan di apartemen waktu itu. Mas Rico menikmati tubuhku dengan sadar kan? Jangan hanya menyalahkan aku dong. Kalau nyari yang salah, mas itu yang paling salah. Sudah tahu aku itu adik Mbak Nami malah mau aku deketin," kata Vera tidak mau di jadikan Buly-an lidah Rico.
"Vera ..." Mama mendelik melihat kalimat putrinya.
"Dasar perempuan ja*lang!" teriak Rico seraya menghempaskan lengan Vera dengan kasar dan mendorongnya. Mama segera mendekat melihat keadaan putrinya.
"Apa yang kau katakan tentang putriku?" teriak mama marah. Dia tidak setuju ada orang yang bicara buruk pada anaknya.
"Mama tidak setuju? Kenapa? Bukankah benar dia adalah wanita ja*Lang?" tanya Rico dengan wajah meremehkan.
"Tutup mulut kamu," desis Vera.
"Brengsek! Aku harus berpisah dengan Nami yang baik demi kamu. Itu menjengkelkan. Kau benar wanita ja*Lang, Vera." Rico terus saja mengumpat dan menyebut Vera dengan buruk.
"Walaupun aku ja*lang. Aku adalah ibu dari darah daging mu sendiri. Itu tidak bisa dielakkan lagi. Mas Rico harus tetap mengakui itu," tunjuk Vera pada perutnya yang mulai membuncit.
"Cih! Jangan bicara dengan yakin seperti itu Vera. Melihat kelakuan mu dan mamamu yang hanya mengincar pria berduit untuk membiayai hidup kalian, bisa saja itu bukanlah anakku. Bisa saja itu adalah anak pria lain selain aku," kata Rico.
"Jahat sekali kamu mengatakan itu. Ini anakmu. Dia hamil saat tidur denganmu ...," kata mama seraya menunjuk perut Vera.
"Apa itu bisa menjamin?" tanya Rico mulai menunjukkan taringnya pada dua perempuan kurang ajar seperti ibu dan anak ini. "Jika itu yang mama katakan adalah Nami, mungkin aku percaya. Karena dia memang bukan perempuan sembarangan, tapi Vera ... Huh." Rico mendengus.
"Nami, Nami. Selalu saja membela Mbak Nami! Apa Mas Rico ini tahu, kalau Mbak Nami itu hanya anak pungut mama dan papa?!" Vera membongkar soal siapa Nami di dalam keluarganya. Dia kesal.
__ADS_1
..._____...