Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 75 : Kencan bertiga


__ADS_3

Nami membiarkan Yugi bicara apa saja pada mama Vera.


"Hhh ... kalian berdua ini sama saja. Sudah. Nami, mana uangku?" tagih mama Vera tidak mencoba terlihat baik lagi.


Yugi terkejut. "Uang apa?" tanya Yugi pada Nami.


"Mama meminta uang," jelas Nami tidak nyaman.


"Uang?" Yugi heran.


"Ya. Untuk ongkos pulang. Kamu pikir ke sini tidak mengeluarkan uang?" Mama Vera tetap bersikap rendahan.


"Aku tidak mau memberi Anda uang. Jadi jangan datang kemari dan menunjukkan wajah Anda lagi. Aku peringatkan untuk kesekian kalinya untuk menjauhi istriku. Anda paham?" kata Yugi dengan wajah marah.


Nami tidak bisa berkata apa-apa. Dia membiarkan


"Sungguh aneh kamu melarang aku yang jadi mama Nami, huh. Jadi orang kaya juga pelit pada mertua. Anak jaman sekarang sungguh kurang ajar." Perempuan ini mendengus.


Yugi menahan diri untuk tidak marah lebih besar lagi demi menghormati Nami yang masih mau bersikap baik.


**

__ADS_1


Pulang kerja. Di dalam mobil.


Nami menarik satu lengan Yugi yang menganggur untuk di letakkan pada perut buncitnya.


"Minta di elus?" tanya Yugi. Nami mengangguk. Yugi pun mengelus perut istrinya dengan lembut. Nami tampak menikmatinya. "Sepertinya sekarang sudah jarang mual dan muntah ya ..."


"Ya, tidak parah lagi. Hanya kalau ada bau-bauan yang menyengat saja masih mual."


"Syukurlah. Aku takut kamu terus saja mual dan muntah saat hamil. Aku tidak tega," kata Yugi sambil menoleh pada Nami sebentar.


Nami tersenyum lalu menyandarkan kepalanya pada lengan Yugi.


"Aku merasa beruntung di temukan dan di jadikan istri oleh mas Yugi," kata Nami. Yugi mengelus pipi istrinya. "Karena banyak kejadian yang membuat hatiku hancur. Namun karena Mas Yugi begitu pengertian dan sayang padaku, aku selalu merasa hatiku kembali utuh."


"Memang, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya," kata Nami. "Mas Yugi anugerah untukku."


Yugi tersenyum senang. "Aku bahagia mendengarnya," kata Yugi mengaku dengan jenaka.


"Apalagi mama. Aku juga di sayang sama beliau. Jadi meskipun keluarga ku selalu menyakiti ku, ada mama yang menggantikannya. Aku sangat senang." Wajah Nami begitu berseri-seri.


Ckittt! Yugi menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Mungkin inilah waktunya untuk kamu bahagia, sayang ..." Yugi mengecup bibir Nami lembut.


"Kenapa kita berhenti?" tanya Nami heran.


"Lebih baik, kita kencan saja malam ini. Di taman ini." Yugi menunjukkan taman kota yang asri dan indah dengan lampu-lampu saat malam hari. "Bukankah kita tidak pernah kencan sebelumnya?"


Nami tersenyum. "Benar. Kita langsung menikah. Tidak ada fase pacaran dan kencan seperti pada umumnya."


Yugi keluar lebih dulu dari mobil, lalu muncul dari pintu mobil yang lainnya.


"Oke. Ayo, turun." Yugi membantu Nami turun. Sambil memeluk lengan Nami, Yugi mengajak Nami untuk jalan masuk ke dalam taman.


"Itu tempat yang bagus. Aku mau selfi," ujar Nami saat menemukan spot foto yang indah. Yugi melihat ke arah sudut yang di tunjuk Nami.


"Oh, baiklah. Berdirilah di sana. Aku akan memfotonya." Yugi melepas pelukannya. Bagai bocah, Nami terlihat senang. "Oke siap ... 1, 2, 3!" Klik. "Selesai."


Nami berlari kecil ke arah Yugi. "Sekarang kita foto bertiga."


"Bertiga?" tanya Yugi heran.


"Iya. Aku, Mas Yugi, dan bayi dalam perutku," tunjuk Nami pada perutnya. Yugi tergelak.

__ADS_1


"Oke. Ayo kita foto bertiga."


...____...


__ADS_2