
"Putra kita tidak apa-apa. Mereka akan melakukan perawatan terbaik untuknya. Jadi lebih baik kita hanya melihat saja untuk sekarang, demi memulihkan kondisinya dengan cepat. Setelah itu kamu bebas memeluk dan menciuminya," ujar Yugi memberi pengertian.
Kepala Nami mengangguk berusaha mengerti. Ia menyentuh kaca box inkubator seakan menyentuh bayinya.
"Cepat sehat ya, sayang. Mama ingin segera menggendong mu," bisik Nami dengan menahan rasa sedih.
Yugi dan Nami kembali ke kamar tadi. Saat itu tiba waktunya makan siang. Yugi membuka plastik wrap yang membungkus makanan dari rumah sakit.
"Putra kita tampan," ujar Nami seakan masih rindu bertemu dengan putranya.
"Ya, dia seperti aku," ujar Yugi seraya menyiapkan sendok.
"Pede sekali Mas ngomongnya," ledek Nami sambil bersandar pada bantal yang sudah di siapkan oleh Yugi di belakang punggung istrinya.
__ADS_1
"Bukannya iya? Dia tampan, jadi pasti mirip aku. Kalau perempuan, dia pasti cantik seperti mu." Yugi menowel pipi istrinya. Nami tergelak. "Ayo makan." Yugi menyendok makanan untuk di suapkan pada mulut istrinya.
Nami membuka mulut dan mengunyah makanan perlahan. Tok! Tok! Pintu kamar di ketuk seseorang. Perlahan pintu terbuka. Nampak Sifa datang lagi bersama Reno.
"Ah, Sifa," ujar Nami senang.
"Namii ... kamu sudah sehat?" Sifa langsung berlari menghampiri Nami di atas tempat tidur. Ia memeluk perempuan itu dengan lembut. Mengabaikan Yugi yang duduk di pinggir ranjang.
"Ya. Aku sehat," ujar Nami sambil tersenyum.
"Jangan di larang, Gi. Sifa sudah ingin memeluk istrimu sejak tadi karena mendengar kabar bahwa dia sudah sehat." Reno meminta pengertian temannya. Sifa melirik pada Reno sebentar.
"Kamu walinya?" tanya Yugi melucu dengan wajah lurus.
__ADS_1
"Bukan, aku kekasihnya," ungkap Reno mengejutkan. Yugi dan Nami langsung menoleh pada Sifa. Mereka terkejut mendengar pengakuan ini. Tidak perlu mereka, Sifa pun terkejut mendengar itu. Namun dia mencoba diam sambil menahan rasa malu karena di tatap oleh kedua orang ini.
"Kalian jadian beneran, Sif?" tanya Nami penasaran. Sifa meringis mendapat pertanyaan itu. "Wah, selamat ya ... Sejak kapan nih? Kok aku baru tahu ... Mas, kamu juga enggak tahu kalau mereka sudah jadian?" tanya Nami pada Yugi.
"Tidak, tapi syukurlah. Aku ikut senang mendengar itu," ujar Yugi lalu menoleh pada Reno.
"Terima kasih, Bro." Reno tersenyum. Sifa tidak banyak bicara dan menanggapi pengakuan pria ini. Dia bahkan tidak menoleh sekalipun pada Reno setelah pengumuman bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
"Aku senang kamu sudah sehat. Sudah melihat bayi kalian?" tanya Sifa mencoba mengalihkan perhatian mereka pada kabar baru dari Reno.
"Sudah. Ini baru saja kembali dari sana," terang Nami terlihat gembira mengatakannya. "Dia masih belum bisa di gendong dan di sentuh." Kali ini raut wajahnya berubah menjadi sendu. Yugi menipiskan bibir ikut merasakan apa yang di rasakan istrinya.
"Tidak apa-apa. Dokter kan sudah melakukan perawatan terbaik, jadi pasti putramu juga akan sehat dengan cepat." Reno memberi semangat. Nami mendongak dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tenang saja. Putra mu itu kuat juga kok. Mirip ibunya. Jadi dia akan sehat dengan cepat," imbuh Sifa. "Setelah itu kamu bisa menggendong bayimu untuk pulang ke rumah."
...___...