
"Maaf Bu. Saya harus memaksa perempuan ini keluar. Dia harus di usir sekarang juga." Sekuriti tidak bisa lagi mentolerir tindakan Vera. Pria ini tidak memerlukan ijin lagi dari Nami karena Vera sudah keterlaluan.
Dia harus menggelandang Vera untuk keluar dari kantor dengan segera.
“Ya. Usir saja dia. Membuat keributan di kantor orang,” kata Sifa yang kesal melihat Vera setuju.
“Tutup mulutmu. Siapa kamu berani bicara seperti itu padaku?” Vera tidak setuju orang lain ikut bicara.
Sifa mendengus tidak menjawab. Menurutnya tidak selevel jika dia menanggapi orang gila bicara. Tangan Sifa meminta sekuriti segera membawa Vera.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Vera marah saat sekuriti. Vera memberontak. Namun sekuriti tidak peduli. Dia merasa ini waktunya untuk mengamankan keadaan. Dimana ada yang menyerang istri atasannya
"Anda harus keluar," kata sekuriti.
"Siapa yang menyuruhmu mengusirku?! Aku ini adik Nami," tunjuk Vera pada Nami yang terdiam. Mata Vera melotot marah pada sekuriti.
"Saya dengar tadi, Istri bos saya ini bukan keluarga Anda. Jadi untuk apa Anda mengaku-aku kalau Anda ini adik istri bos saya?" tanya sekuriti tepat sasaran.
"A-apa yang kamu bilang?" Vera terkejut. Tidak menduga sekuriti ini mendapat jawaban yang tepat sasaran.
"Tolong pergi. Kalau tidak, saya akan menyeret Anda keluar dengan paksa," ancam sekuriti dengan nada serius. Namun Vera tetap bersikeras untuk tinggal.
__ADS_1
Hingga akhirnya tangan Vera di cekal seseorang dengan kuat.
"Aww!" pekik Vera kesakitan. Reno muncul dengan Yugi. Reno yang segera mencekal tangan Vera, menghentikan gerakan perempuan ini. Sekuriti membungkuk sebentar memberi hormat pada mereka berdua.
Yugi! Nami lega melihat pria ini muncul.
"Kenapa kamu membuat keributan di sini?" tanya Yugi yang dengan wajah geram.
"Yu-Yugi? Lepaskan tanganku,” pinta Vera pada Reno. Namun Reno tak bergeming.
Yugi mendekat pada istrinya. “Kamu tidak apa-apa sayang?” Yugi menyentuh lengan istrinya. Lalu menatap istrinya menyeluruh. Mencari tahu apa Vera sudah menganiaya istrinya seperti di kantor waktu itu.
"Ya. Aku tidak apa-apa," jawab Nami tersenyum tipis.
"Benarkah?" tanya Yugi tidak percaya.
"Dia tidak apa-apa, Yugi." Sifa ikut bicara untuk mempertegas pernyataan Nami. Lalu Yugi memberi kode pada Reno untuk melepaskan. Mendapat kode, pria itu langsung mendorong tubuh wanita ini.
"Aw!" Hampir saja Vera jatuh. Dia meringis merasakan sakit di pergelangan kakinya.
“Silakan pergi,” usir Yugi dengan amarah yang masih bisa di tahan.
__ADS_1
"Yugi, aku hanya ingin bicara dengan Nami," kata Vera menunjuk Nami yang tidak jauh darinya. Yugi melihat ke arah istrinya.
"Apa kamu mau bicara dengan dia, sayang?" tanya Yugi lembut.
"Tidak," sahut Nami seraya menggelengkan kepala. Dia tidak ingin bicara. Nami ingin wanita ini menjauh darinya.
"Oke." Setelah mendengar itu, kini Yugi menoleh pada Vera. "Kamu sudah mendengar sendiri istriku tidak ingin bicara denganmu. Jadi apa keperluan mu di sini?"
"Dia harus mempertanggungjawabkan soal Rico yang menggugat cerai aku," kata Vera marah. Perempuan ini sungguh bodoh.
"Cerai? Jadi akhirnya dia melakukannya?" kata Yugi tersenyum tipis puas. “Mungkin itu keputusan yang tepat."
"A-apa? Apa yang kau katakan?" tanya Vera seraya melebarkan mata protes dan tidak percaya.
"Jangan melimpahkan kesalahan mu pada orang lain, Vera. Jika Rico menceraikan mu, itu sudah takdir mu. Jangan salahkan istriku karena itu,” ujar Yugi dengan sorot mata tajam.
"Tapi dia penyebab Rico menceraikan aku. Dia itu perempuan j*a*La*ng!" tuding Vera dengan mata merah pada Nami.
Plak!
...____...
__ADS_1