Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 84 : Inkubator


__ADS_3

"Vera, lepaskan mama!" Perempuan ini tampak gusar. "Apa yang kamu lakukan?" tegur mama seraya berusaha lepas dari tangan putrinya. Setelah bisa keluar dari kungkungan tangan putrinya, mama langsung menjauh dari tempat tidur. "Apanya yang bagaimana? Tentu saja tidak apa-apa. Apa yang kamu pikirkan?" Mama melipat tangan sambil menatap Vera kesal.


"Aku merasa ini tidak akan menjadi baik, Ma. Aku merasa firasat buruk." Vera masih mengalami kepanikan.


"Firasat buruk? Huh, kamu itu. Kan bukan kali ini saja kamu bersikap begitu pada Nami. Ini sudah beberapa kalinya kan?" tanya mama gusar.


"Iya, Ma. Aku tahu, tapi kali ini aku merasakan hal yang menakutkan." Kali ini kedua tangannya memegangi kepala. Vera meringkuk lagi.


"Sudah. Capek kalau terus membahas itu, Vera. Lebih baik kamu lekas tidur saja biar tidak seperti orang gila," ujar mama kesal melihat tingkah putrinya. Lalu perempuan paruh baya ini melangkah keluar kamar sambil memijit bahunya.


**


Pemeriksaan pada Nami sudah menunjukkan bahwa perempuan ini mulai sehat. Ini kemajuan yang membahagiakan. Bahkan wajahnya tidak sepucat di hari kedua melahirkan.


"Sudah tidak pusing?" tanya Yugi seraya menyentuh pipi Nami.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya merasa masih lelah." Nami tersenyum.


"Tentu saja. Kamu sudah berjuang."


"Aku ingin segera melihat anak kita, Mas," pinta Nami. Dia rindu. Karena lemas, dia hanya bisa berbaring di atas ranjang.


"Iya, baiklah. Dokter sudah mengijinkan kamu untuk menengok anak kita. Aku juga sudah meminta mereka menyiapkan kursi roda untukmu," kata Yugi. Nami melongok ke belakang Yugi. Ada kursi roda di sana. "Tubuhmu masih lemah. Jadi masih harus memakai itu. Aku tidak mau sepulang dari melihat anak kita, keadaanmu tambah lemah."


"Iya," sahut Nami patuh.


"Ya. Aku tidak sabar melihatnya." Meskipun masih lemah, tidak memudarkan raut wajah bahagia Nami.


"Ayo, aku bantu duduk di kursi roda." Yugi memegangi tubuh istrinya untuk duduk. "Sudah siap bertemu anak kita?" tanya Yugi sambil tersenyum. Kepala Nami mengangguk. Tangan Yugi pun siap pada pegangan kursi roda. Mendorongnya pelan menuju ruang NICU dimana anak mereka di rawat.


Sesampainya di sana, tampak bayi mereka dalam inkubator.

__ADS_1


"Ah, ibu Nami," sapa mereka ketika melihat Nami dan Yugi muncul. Nami dan Yugi tersenyum menanggapi mereka. "Anda mau melihat bayi ibu?"


"Ya."


"Mari, saya temani." Perawat itu membimbing mereka berdua menuju box incubator dimana bayi mereka di rawat. "Ini putra ibu." Perawat itu menunjukkan box incubator milik putra mereka.


Untuk pertama kalinya Nami melihat bayinya berbaring di dalam inkubator dengan kabel di mana-mana, tabung, dan mesin yang dilengkapi alarm. Mendadak Nami merasa sangat ketakutan dan kesal. Ya, dia tidak berdaya melihat bayi mungil dalam kondisi seperti itu.


Tangan Nami meremas kuat tangan suaminya.


"Apakah boleh saya gendong?" tanya Nami penuh harap.


"Maaf, ibu masih belum boleh menggendongnya. Demi menjaga kondisi bayi stabil," jelas perawat ramah dan lembut.


Nami terdiam. Sebenarnya dia juga takut menyakiti bila menyentuh bayinya, tapi rasa ingin memeluk seorang ibu sungguh kuat. Yugi menyentuh bahu istrinya. Nami mendongak dengan bola mata berkaca-kaca. Yugi balik menepuk punggung tangan dan kepala istrinya dengan lembut dan penuh sayang. Dia tahu perasaan istrinya sekarang.

__ADS_1


...____...


__ADS_2