Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 44 : Nikmat bukan?


__ADS_3

"Peluk aku ...," pinta Yugi manja.


"Ih, bayi gede ini. Padahal tadi malam sudah membuat aku merintih terus-terusan, sekarang malah berlagak seperti bocah," ujar Nami sambil mencubit gemas pipi suaminya.


Yugi tetap merentangkan kedua tangannya. Meminta pelukan pada istrinya. Nami masuk ke dalam selimut lagi lalu memeluk Yugi yang tenyata masih telanjang. Pipinya bersemu merah menyadari itu. Ada gelenyar menjalar di tubuhnya.


"Nikmat bukan, pelukan seperti ini?" tanya Yugi tanpa membuka mata.


"Pertanyaan apa itu?" Nami memukul Yugi dengan sayang. Dia malu menjawab.


"Kalau enggak nikmat, kita ulangi lagi sampai bibir istriku bilang puas," kata Yugi. Kali ini bola matanya terbuka.


"Ih, kamu ini pakai alasan. Kamunya yang ingin nambah terus kan?" cibir Nami tahu apa yang ada dalam benak suaminya.


"Iya. Aku enggak mau berhenti." Tatap mata itu lembut padanya dan penuh damba. "Tubuhmu sudah bagai candu untukku," lirih Yugi mulai menciumi leher istrinya.


"Enggak. Berhenti. Aku nanti malu rambutku basah saat ketemu Mbak Yana dan bunda." Nami mendorong pipi suaminya. Yugi pun menghentikan memesrai perempuan ini.


"Takut di ledek ya?"


"Tentu saja," tegas Nami seraya mencebik.


***

__ADS_1


Di tempat kerja Nami.


"Ini soal kerja sama yang akan dilakukan dengan pihak perusahaan advertising," kata Nami menyerahkan berkas pada Rico.


Meskipun Rico sudah mengatakan hal buruk padanya, Nami harus bersikap profesional. Dia tetap melakukan pekerjaan dengan baik. Tidak mencampur adukkan perasaan pribadi dan pekerjaan jadi prinsip Nami. Jadi dia bekerja tanpa beban.


Rico yang merasa sudah melakukan hal buruk waktu itu hanya terdiam menatap perempuan ini. Entah kenapa, rasa rindu menyerang hatinya. Padahal wanita ini ada di sini, tapi terasa jauh.


"Baca tulisan yang ada di kertas itu Pak Rico, bukan melihat ke wajah saya," tegur Nami karena Rico sedang menatapnya.


"Oh, ya." Rico langsung mengerjap dan menunduk. Membaca tulisan demi tulisan yang di serahkan Nami padanya.


Nami menipiskan bibir. Dia kesal Rico bersikap seperti itu.


"Ada yang perlu di perbaiki. Kamu bisa bicarakan lagi dengan pihak penjualan soal ini," koreksi Rico setelah membacanya


"Baik, Pak." Nami mengakhiri perbincangan mereka. Lalu kembali ke tempatnya bekerja. Namun saat dia menuju kursi kerjanya, tatapan Vera tajam padanya. Mila dan Ina yang sedari tadi melihat ke arah Vera mencibir.


Vera beranjak berdiri dan berjalan ke ruangan Rico.


"Ngapain dia?" tanya Ina.


"Entahlah," kata Mila sambil mencibir. Nami tidak peduli.

__ADS_1


Vera yang sudah sampai di depan ruangan Rico, mengetuk pintu dengan lembut. Lalu tanpa menunggu Rico mempersilakan masuk, dia sudah membuka pintu.


"Halo Mas," sapa Vera manja.


"Oh kamu Vera. Ya. Ada apa? Apa ada hal yang ingin kamu tanyakan?"


"Iya."


"Di sana ada banyak senior yang bisa kamu minta tolong untuk menjelaskan," tunjuk Rico dengan dagunya.


"Kok mereka, sih? Aku kan ingin tanya ke Mas Rico. Memangnya enggak boleh?"


"Bukan begitu." Rico menghela napas. "Ini bukan di rumah. Kamu tidak harus selalu bertanya apapun padaku."


"Mas ini enggak suka ya, kalau Vera ada di sini?"


"Bukan begitu, Vera. Ya sudah, kamu mau tanya apa?" Akhirnya Rico mengalah. Vera tersenyum bahagia. Ia pun mendaratkan ciuman di pipi suaminya. Rico terkejut.


"Hadiah, karena sudah mau dengerin Vera."


"Kamu ini ...." Rico menipiskan bibir. Saat itu tidak sengaja, Nami menoleh ke arah dinding kaca ruangan Rico. Dan adegan mesra barusan terpampang jelas. Rupanya Vera sengaja memanas-manasi. Namun wajah Rico tampak sedih karena Nami melihat semua itu.


...________...

__ADS_1



__ADS_2