
Yugi tersenyum bahagia melihat istri dan kakak iparnya rukun. Itu kebahagiaan yang terkira.
Sesungguhnya Nami tidak terlalu panik ketika harus merawat bayinya nanti. Nami sudah bisa membaca kalau sebenarnya jatah untuk merawat bayinya akan berkurang karena berebut dengan mertua dan kakak ipar. Mereka sungguh antusias untuk ikut merawat putranya.
"Lalu bagaimana tentang kamu dan Yugi? Apa kamu mendapat pencerahan soal Yugi dan adik kamu itu di masa lalu?" selidik Yana. Dia bertanya setelah Yugi membiarkan keduanya berbincang. Sementara itu pria itu menerima telepon di luar kamar.
"Ya. Aku sudah mengerti. Yugi sudah menceritakan kebenarannya," jawab Nami dengan senyuman.
"Baguslah. Jadi kamu enggak penasaran lagi kan kebenarannya gimana ... " Yana tampak lega.
“Ya." Nami tergelak ringan. Kepala Nami mengangguk. Setuju dengan kakak iparnya.
"Adikku itu sangat mencintaimu Nami."
"Aku tahu Mbak," kata Nami sambil tersipu malu.
***
__ADS_1
Kabar pulangnya Nami dan bayinya dari rumah sakit sampai pada telinga trio kawan Nami di tempat kerja yang dulu. Setelah Nami Share loc rumah keluarga Yugi, mereka tiba dengan selamat.
"Aduh ... tiba-tiba saja Nami ini punya bayi," seru Mila ketika sudah tiba di rumah keluarga Yugi.
"Benar, padahal dulunya cuek banget sama suami," imbuh Ina. Mereka tidak berhenti meledek Nami. Perempuan ini tergelak pelan.
"Dasar kalian ini." Yuli yang menggendong bayi Nami menggelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya. Tangan-tangan jahil dua orang itu menyentuh putra Nami berulang-ulang dengan gemas.
"Mbak Yana," ujar Nami saat mbak Yana datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Ketiga orang ini menoleh ke arah pintu. "Dia kakak suamiku." Nami mengenalkan pada mereka. Saat di depan tadi, mereka hanya bertemu dengan mertua Nami.
Ina dan Mila langsung mendekat membantu membawakan nampan.
"Siap Mbak," jawab keduanya hampir bersamaan. Setelah itu mbak Yana pergi.
"Keluarga Yugi baik semua ya," ujar Mila.
"Benar. Mirip banget sama Yugi," tambah Ina. "Eh, gimana soal Vera dan mamanya?" Ina ingat tentang mereka.
__ADS_1
"Iya. Aku terkejut saat Yugi datang menemui kita dan tanya soal Vera yang melakukan kekerasan ke kamu waktu dulu," kata Mila. Ina mengangguk.
"Apa kamu benar-benar menuntut mereka?" tanya Yuli.
"Ya. Yugi marah saat tahu aku jatuh karena di dorong oleh Vera waktu ke mal. Karena saat itu aku kan hamil. Hingga akhirnya aku harus lahiran secara prematur. Menurutnya itu sudah keterlaluan karena membahayakan aku dan bayiku. Yugi tidak terima dan ingin menuntut mereka," terang Nami.
Mereka mendengarkan dengan baik cerita Nami. Lalu mengangguk hampir bersamaan merasa Vera dan mamanya memang harusnya mendapat sebuah hukuman.
Yugi yang baru pulang dari kerja muncul di ambang pintu.
"Ah, rupanya sahabat-sahabat istriku yang datang," ujar Yugi setelah tahu siapa tamu mereka hari ini. Ketiga perempuan itu mengangguk sopan pada pria ini. "Terima kasih sudah membantu aku dan istriku dalam perkara Vera itu." Yugi membungkuk sedikit untuk menunjukkan rasa terima kasihnya.
"Sama-sama. Kita bertiga juga berterima kasih sudah membuat Nami kita bahagia," ucap Mila mewakili, membuat Yuli menowelnya.
"Bukannya memang benar, Yul?" Ina mendukung Mila. Yuli melotot.
"Hahaha ... " Yugi tertawa. "Ya, ya. Aku tahu Nami sangat dekat dengan kalian. Dia orang yang berharga," ujar Yugi melirik Nami dengan penuh cinta.
..._______...
__ADS_1
.