
Pagi ini Nami berada di rumah saja karena dia merasa tidak enak badan. Rasanya ia ingin terus berada di atas ranjang sambil makan. Atau bahkan dia ingin selalu tiduran. Rasa malas tumbuh dengan pesat pada tubuhnya.
Karena itu Yugi menyarankan untuk istirahat saja. Rencana ia mengajak perempuan ini untuk berolahraga urung. Awalnya Yugi tidak ingin olahraga pagi, tapi Nami terus mendesak, kalau dia tidak apa-apa.
Suara bel di pintu depan berbunyi mengusiknya. Nami mendengar itu, tapi rasa malas di tubuh membuatnya mengabaikan.
Kembali bel di pintu depan berbunyi. Kali ini ia tidak boleh acuh. Karena bisa jadi itu tamu dari keluarga Yugi. Nami memaksakan tubuhnya untuk bangkit dari ranjang. Dengan langkah gontai, ia menuju ke pintu depan. Namun sungguh mengejutkan saat melihat di depan pintu adalah Vera dan mamanya.
"Mama?" tanya Nami tidak menduga kedua orang ini yang akan muncul di depan pintu rumahnya.
"Sepertinya Mbak terkejut dengan kedatangan kita," kata Vera. Nami yang tadi tertegun mengerjapkan mata. Memang. Dia tidak menyangka akan di datangi dua orang ini.
"Kamu akan membiarkan mama berdiri saja di sini?" tanya mama seraya melirik tajam. Karena rasa terkejutnya, Nami hanya berdiri mematung di depan pintu.
"Oh, maaf. Mama bisa masuk. Silakan." Nami terpaksa mempersilakan. Vera masuk seraya memeluk lengan mamanya. "Aku akan buatkan minuman. Kalian duduklah." Nami berjalan ke belakang.
"Rumahnya bagus. Aku baru tahu kalau Yugi punya sendiri," kata Vera.
"Kenapa kamu baru tahu?" tegur mama seperti kesal.
"Dia enggak pernah ngasih tahu kalau punya rumah sendiri, Ma," jawab Vera membela diri. Dia masih bicara dengan tetap berbisik. Agar Nami yang berada di dapur tidak mendengar.
"Huh," dengus mama. Mereka pun duduk. Tak lama kemudian Nami muncul dengan membawa nampan berisi minuman dan satu toples cookies. "Suami kamu kemana?" tanya mama seraya melongok ke ruangan dalam. Suasana rumah terlihat sepi.
"Dia sedang joging." Nami meletakkan nampan itu di atas meja. "Silakan di minum." Mereka tidak menjawab karena sibuk memperhatikan isi dalam rumah Nami. Sepertinya mereka takjub akan rumah ini. Nami membiarkan mereka menikmati rumahnya.
Saat menyadari kalau mereka terlena dengan interior rumah ini, mama dan Vera buru-buru merapikan sikap.
"Mama kesini mau bicara sama kamu."
__ADS_1
"Bicara? Mau bicara apa, Ma?" tanya Nami tidak antusias. Karena kesekian kalinya ia selalu mendapatkan hal tidak baik saat mama mengajaknya bicara. Mungkin hanya menyuruh Nami menikah dengan Yugi adalah pengecualiannya.
"Mama dengar kamu menegur Vera di kantor."
Dia mengadu. Dasar mulut anak itu, geram Nami.
Nami melirik Vera yang tengah melihatnya di samping mama. Perempuan itu sedang menunggu reaksi Nami. Sepertinya dia senang kalau mama menegurnya. Pasti Vera mengatakan banyak hal yang sungguh di luar fakta.
"Ya. Nami memang menegur Vera," kata Nami mengaku.
"Kamu ini bagaimana? Vera ini kan adik kamu. Masa kamu menegurnya di kantor, di depan suaminya?" Seperti biasa. Mama selalu membela Vera. Tidak ada kata salah untuk anak itu. Salah selalu untuknya.
"Mama sudah tahu apa permasalahannya?" tanya Nami dengan tenang.
"Ya, kurang lebih begitu."
"Kalau mama sudah tahu permasalahannya, kenapa mama masih membela Vera?"
"Ya. Nami sengaja menegur, karena Vera ini mengatakan hal yang sangat berbeda dengan fakta tentang aku. Dia bilang kalau aku menggoda Rico. Apa itu mungkin?"
"Kalau memang enggak, kan ya sudah," kata Mama dengan mudahnya. "Jangan di buat masalah sampai menegur adikmu seperti itu. Kamu ini kayak enggak di didik saja."
"Ya sudah? Gampang sekali mama bicara," dengus Nami kesal. Mama melebarkan mata mendengar Nami bicara. "Jadi kalau Vera mengatakan hal buruk tentang aku di depan semua orang itu enggak apa-apa? Begitu?" Nami tidak tahan.
"Kenapa Mbak ngomongnya kasar sama mama?" tegur Vera tidak terima.
"Karena aku tidak terima kalau mama membela kamu yang jelas-jelas salah," tunjuk Nami pada Vera. Mama menggeram.
"Kamu ini, makin ngelunjak saja. Kenapa? Karena kamu sekarang sudah punya suami? Iya? Jadi kamu sudah enggak tergantung sama mama terus sekarang berani sama mama, begitu?" tuding Mama dengan mata menatap tajam. "Padahal dapat suami saja karena itu bekas Vera. Sombong sekali kamu."
__ADS_1
Kata-kata perempuan paruh baya ini makin menjadi. Itu membuat Nami tidak tahan lagi.
"Bukan Nami yang ngelunjak, tapi mama dan Vera yang semena-mena sama Nami. Semua hal yang ada pada aku selalu di salahkan. Meskipun itu adalah kesalahan Vera, tapi selalu saja di bela dan di lindungi oleh mama. Kenapa? Kenapa seperti itu?"
"Tentu saja, karena dia adalah anak mama!" tegas mama yang membuat Nami tertegun sejenak. Vera mengeratkan pelukannya pada mamanya seperti bangga kalau dia di bela.
"Kenapa mama bilang begitu? Aku dan Vera kan sama anak-anak mama, tapi kenapa seperti ini? Kenapa pembelaan selalu ke Vera?"
"Karena kamu bukanlah anak mama," ungkap mama membuat Nami terkejut setengah mati. Vera melirik mama sambil makin mendekatkan tubuhnya.
"Ma-ma?" tegur Nami lambat. Dia tidak menduga mamanya sampai bicara seperti itu. "Apa salah Nami, sampai mama bicara seperti itu?" tanya Nami lemah. Nami tidak ingin mempercayainya.
"Karena kamu memang bukan anak mama. Mama tidak pernah melahirkan kamu," imbuh mama makin membuat tubuh Nami membeku. Bola mata Nami mengerjap pelan karena tidak percaya. Dia tertegun mendapatkan fakta yang mencengangkan ini.
"Aku tidak tahu kalau ada tamu di rumahku," kata Yugi yang muncul di pintu yang sudah terbuka sejak tadi. Karena sibuk berdebat mereka tidak mendengar suara deru mobil Yugi di luar.
Vera dan mama terkejut dan menoleh bersamaan.
"Kalau memang Nami bukan anak mama, seharusnya mama juga tidak perlu ke sini karena aku juga akan menganggap mama bukan mertua ku."
Yugi mengatakannya seraya mendekat ke Nami. Segera memeluk tubuh yang tengah gemetaran itu.
"Hei, kamu pikir dapat menikah dengan Mbak Nami karena siapa?!" tegur Vera keras.
"Aku mendapat Nami karena kebodohan seorang perempuan yang berselingkuh karena melihat ada pria yang lebih kaya dariku sampai hamil. Juga karena seorang ibu yang lebih mendukung kesalahan putrinya dan membuat putrinya yang lain harus bertanggung jawab. Itu yang kamu maksud aku menikah dengan Nami karena siapa?" cela Yugi.
"K-kamu?" Vera terperangah melihat sikap Yugi. "Ma. Mama." Kemudian Vera memanggil mama yang terdiam karena kata-kata menantunya.
...________...
__ADS_1