
"Kamu ini kenapa sih, Vera? Kenapa terus saja seperti ini dari kemarin?" tanya mama setelah berhasil mengatur napasnya. Perempuan paruh baya ini begitu kesal.
"Aku ... aku merasa akan ada yang datang mencari Vera, Ma," jawab Vera dengan wajah takut.
"Siapa? Siapa yang datang?"
"Aku tidak tahu. Mungkin saja itu ..."
"Nami?" tanya mama menduga Vera terus seperti ini sejak bertemu terakhir dengan Nami.
"Mungkin saja."
"Dia tidak akan melakukan apa-apa karena tahu mama sudah berjasa besar pada hidupnya. Mamalah yang merawatnya sejak kecil, kamu tahu itu kan?Jadi tenang saja, dia tidak akan melakukan apa-apa pada kita, Vera." Mama terlihat percaya diri ketika menenangkan putrinya.
Namun kata-kata penenang barusan tidak mempan bagi Vera. Dia masih saja merasa takut dan tidak tenang. Otaknya terus saja berisi rasa takut dan merasa terancam.
**
__ADS_1
Mama dan Mbak Yana tergopoh-gopoh di lorong rumah sakit. Brak! Pintu kamar Nami di rawat di buka agak keras.
"Nami!" Suara lantang Mbak Yana terdengar. Bunda menyusul di belakangnya. Mereka muncul dari balik pintu dengan wajah marah juga cemas. Nami yang tadinya ingin memejamkan mata seraya duduk bersandar di atas ranjang, membuka mata karena terkejut. Yugi yang awalnya juga ingin tidur, kini terbangun karena mereka.
Dua wanita itu berjalan agak cepat menghampiri ranjang.
"Mama? Mbak Yana?" tanya Nami kaget. Bahkan Yugi langsung berdiri.
"Namiii ..." Mbak Yana yang lebih dulu sampai di dekat ranjang, langsung memeluk adik iparnya. Nami hanya diam ketika beliau memeluknya erat. Bahkan Mbak Yana menatap dengan mata berkaca-kaca saat melihat adik iparnya.
"Y-ya, Bun," jawab Nami gugup. Dia menoleh pada Yugi untuk bertanya.
“Bayi kamu juga enggak apa-apa kan?" tanya Mbak Yana yang terlihat khawatir.
"Semuanya baik, Mbak.” Yugi menjawab pertanyaan mereka. Sekilas mereka menoleh pada Yugi.
"Ya," ujar Nami menegaskan kalimat Yugi.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, sayang." Bunda dan Mbak Yana terlihat begitu bersyukur.
"Yugi. Kenapa kamu enggak bilang ke Bunda kalau istrimu melahirkan?" tegur Bunda seraya menepuk lengan putranya.
"Itu ..." Yugi menggaruk lehernya pelan. Dia tidak segera menjawab. Bukan karena terkejut, tapi lebih ingin enggan membicarakan ini. “Belum sempat aja, Mbak.” Yugi mencari alasan.
"Juga soal orang yang sudah membuat istrimu ini sampai harus melahirkan prematur," imbuh Mbak Yana menatap Yugi dengan tajam. Dia marah. Yugi dan Nami membelalakkan mata sekejap. Mereka sangat terkejut.
Terutama Yugi. Ia begitu penasaran. Karena sejak awal dia tidak ingin keluarganya tahu soal ini. Dia akan memberitahu masalah Vera ini setelah dia menyelesaikan semuanya. Karena dia juga hendak menyembunyikan perkara Vera yang akan di tuntut dalam pengadilan nanti dari istrinya.
"Kamu sengaja menyembunyikan kecelakaan, istrimu pada kami, ya?" tanya Bunda dengan lembut. Yugi makin bungkam. Soal keluarganya tahu tentang mereka di rumah sakit saja, Yugi sudah sangat terkejut. Apalagi mereka bahkan tahu soal apa yang sebenarnya terjadi sebelum Nami melahirkan.
"Bunda dan Mbak Yana tahu kita ada di sini darimana?" tanya Yugi yang sudah keluar dari rasa terkejutnya.
"Dari teman kamu," jawab mbak Yana.
"Teman? Siapa?" tanya Yugi seraya mengerjapkan mata.
"Itu si Reno."
__ADS_1
... ____...