Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 37 : Suasana syahdu di ruang makan


__ADS_3

Sekarang tubuhnya sedang duduk di atas pangkuan Yugi. Ini posisi yang sangat provokatif.


"Ada apa? Kamu tidak mungkin berteriak minta tolong saat aku memelukmu seperti ini kan?" tanya Yugi dengan mata hangat. Pria ini bermaksud bercanda.


Nami membuang muka. Yugi memang tengah memeluknya sekarang. Lengan pria ini sedang melingkar di tubuhnya. Memenjarakan diri Nami agar tidak lepas.


Sebuah kecupan hangat mendarat di lengan polos Nami. Perempuan ini memejamkan mata sebentar.


"Meja masih basah Yugi. Itu tampak berantakan," lirih Nami seraya melirik ke atas meja di sampingnya.


"Aku tahu. Sengaja aku melakukannya. Menunda kamu membersihkan meja. Melihat kamu sangat dekat denganku, aku ingin memeluk," lirih Yugi seraya bersandar pada bahu Nami. Napas panas pria ini menerpa bahu polosnya.


Nami kembali memejamkan mata sekilas.

__ADS_1


"Tatap aku Nami," tangan Yugi menyentuh dagu Nami. Memaksa perempuan ini untuk menatapnya. Sekarang kedua mata mereka beradu. Nami mengerjapkan mata guna menenangkan debaran di dadanya yang bergemuruh.


Bibir Yugi tersenyum tipis.


"Aku mendengar suara detak jantung yang kencang ini," lirih Yugi membuat wajah Nami memanas. Ia ketahuan sedang berdebar-debar.


"Kenapa? Apa tidak boleh aku juga berdebar?" tanya Nami memberanikan diri. Itu berarti dia sedang mengaku saat ini sedang panik karena berada dalam posisi provokatif, pun dalam pelukan Yugi. "Kamu juga sedang berdebar-debar sekarang." Nami membalas sambil menunjuk ke arah dada Yugi. Pria ini tersenyum.


Yugi mulai mencium bibir Nami perlahan. Sepertinya ciuman itu memantik gel*ra perempuan ini. Ia terlena. Nami tidak menolak. Dia menerima dan juga merespon. Lalu ciuman itu terlepas setelah beberapa detik. Mereka terengah-engah setelah pertautan tadi.


Ternyata bukan hanya pertautan ini yang membuat Nami terlena. Ada hal lain lagi yang mengejutkan Nami. “A-apa yang kamu lakukan?” tanya Nami panik saat Yugi melepaskan kaosnya yang basah.


“Bukannya kamu bilang aku bisa masuk angin kalau pakai kaos basah. Jadi lebih baik aku lepaskan," ujar Yugi yang meletakkan kaos di sandaran kursi. Nami mengerjapkan mata melihat tubuh atas pria ini yang polos.

__ADS_1


Tubuh itu bagus, batin Nami.


Ini pertama kalinya ia melihat Yugi tidak memakai atasannya. Bola matanya panik melihat ke kanan dan kiri. Bibir Yugi tersenyum. “Tatap aku,” bisik Yugi seraya menahan dagu Nami untuk melihat ke arahnya.


Nami menelan ludah. Pandangan mereka beradu. Bola mata Nami masih terlihat panik. Yugi mengecup bibir itu lagi. Kemudian, tanpa di sangka-sangka Yugi mengayunkan tubuh Nami. Dalam kecepatan yang tidak terlihat, tubuh Nami sudah berada dalam gendongan Yugi.


“Apa ini Yugi?” tanya Nami melihat dirinya sudah ada dalam pelukan lengan Yugi. Pria ini hanya tersenyum. “Yugi?” Sekali lagi Nami bertanya, tapi pria ini tetap tidak menjawab. Hanya tersenyum dan tersenyum.


“Kencangkan saja pelukan mu,” bisik Yugi seraya menggigit cuping telinga lembut. Kemudian membawa tubuh istrinya menjauh dari meja makan. Perempuan ini akhirnya patuh. Dia yakin Yugi tidak akan menurunkan tubuhnya sekarang. Nami pasrah.


..._______...


__ADS_1


__ADS_2