
Nami menggerakkan handuknya sambil keluar dari kamar mandi. Ia melihat Yugi masih tertidur. Pria itu mungkin lelah. Nami ingin membangunkannya karena sarapan mereka tertunda. Namun ia lagi-lagi merasa malu untuk mendekat pada Yugi karena teringat kejadian tadi.
"Kemarilah sayang ...," panggil Yugi mengejutkan. Apalagi panggilan tidak biasa itu. Ternyata Yugi membuka mata karena tidak tidur. Padahal ia ingin kabur, tapi tidak bisa karena sudah terlihat oleh Yugi. Akhirnya Nami mendekati ranjang.
"Kamu ... ternyata tidak tidur," kata Nami dengan lambat. Dia menepuk pipi pria ini lembut. Yugi menarik lengan Nami hingga membuat tubuh perempuan itu jatuh padanya. Setengah berteriak Nami terkejut.
"Yugi ...," desis Nami. Yugi menghirup aroma wangi dari rambut Nami yang basah.
"Aku ingin tidur, tapi enggak bisa. Apalagi kamu enggak ada di sampingku," bisik Yugi. Pria ini menciumi pundak Nami. Bahkan menjalar ke cekungan leher istrinya.
"Yugi, sudah. Kita lanjutkan makan pagi. Aku sudah masak masa harus dibuang? Ayo, bangun ..." Nami menahan kepala Yugi yang sepertinya akan menjajaki tubuhnya lagi. Ia mendadak ingat rasa yang di berikan oleh sentuhan suaminya tadi malam. Membuat tubuhnya meremang.
"Baik, baik. Aku harus berhenti ternyata," keluh Yugi.
"Tentu saja," jawab Nami pura-pura ketus.
"Namun nanti malam bisa kan? Aku ingin lagi ...," bisik Yugi. Blush! Wajah Nami memerah karena malu. Dengan mudahnya Yugi mengatakan itu.
__ADS_1
"Ternyata ... kamu orangnya tidak tahu malu saat mengatakan itu," tuding Nami seraya menipiskan bibir tidak percaya. Yugi langsung memeluk dan mengecup bibir istrinya sebentar.
"Aku tidak perlu malu saat meminta jatah ranjang pada istriku. Justru aku harus sering meminta," kata Yugi menegaskan.
"Sudah, ayo mas mandi dulu lalu makan lagi," kata Nami sambil melepaskan pelukan suaminya.
"A-apa?" tanya Yugi terkejut dan juga heran.
"Apa?" tanya Nami balik pura-pura tidak mengerti. Ia sadar menyebut Yugi dengan embel-embel 'mas' tadi.
"Siapa juga yang bikin sarapan tertunda?" sungut Nami sambil mendelik. Yugi tergelak.
"Iya. Itu karena aku. Maafkan aku. Setelah makan, kita jalan-jalan?" tawar Yugi merasa punya banyak energi pagi ini.
"Kemana?" tanya Nami yang belum pernah punya acara selain berangkat kerja dan ke rumah mama dengan Yugi bingung.
"Kemana saja. Ini hari libur. Kita harus keluar agar pikiran fresh bukan?"
__ADS_1
"Jadi selama ini m-mas Yugi sumpek gitu?" tanya Nami canggung saat mengulang sebutan itu. Nami sengaja menggoda.
"Kamu serius bertanya padaku ... atau sedang meledek ku ini?" tanya Yugi sambil mendekatkan tubuhnya pada Nami.
"Na-nanya kok." Nami sedikit menyipitkan mata. Ia ingin menghindar karena takut 'digarap' lagi oleh Yugi.
"Bukannya selama ini kamu cuek dan dingin? Aku terus bertahan sambil mencoba menjebol tembok pertahanan kamu." Yugi mencubit hidung Nami gemas. Bibir Nami mencibir. Dia tahu dia seperti itu dulu.
"Maaf soal sikapku waktu itu." Sekarang Nami benar-benar merasa bersalah sudah sempat mengabaikan pria ini.
"Kenapa malah meminta maaf? Wajar saja kamu begitu. Bukannya kita menikah tanpa rencana?" tanya Yugi dengan tersenyum. Sorot matanya begitu hangat. Yugi memeluknya. Kemudian mengecup pucuk kepala Nami. "Aku datang kepadamu itu sudah siap dengan segala hal. Termasuk kamu yang bersikap dingin padaku. Aku sudah siap menghadapi semua halangan itu."
Nami tersenyum haru mendengar itu. Dia mempererat pelukan pada pinggang Yugi.
..._______...
__ADS_1