Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 71 : Mesra


__ADS_3

"Sebentar ya," bisik Yugi. Pria itu menjauh dan menyiapkan kopi untuk ketiga anak buahnya.


Nami dari tempatnya berdiri melihat itu. "Tuh, akan aku bilang." Nami mengatakannya sambil berbisik. Yugi menoleh pada Nami dan tersenyum.


"Tidak apa-apa." Yugi senang melakukannya. Ia menyerahkan susu hamil milik Nami yang sudah di seduh. Agar perempuan meminumnya selagi hangat.


Setelah menuangkan tiga sachet kopi instan ke dalam gelas, kini giliran menunggu air mendidih. Yugi kembali mendekat ke Nami di balik dinding.


Pria ini cukup mesum jika itu berurusan dengan istrinya. Bukannya berhenti, dia justru kembali mencium bibir istrinya setelah meletakkan gelas susu di atas meja di samping.


Ketiga karyawan tadi berbincang di luar. Sesekali kepala mereka menjulur ke dalam pantry untuk melihat keadaan.


Dari tempat mereka duduk, tubuh Nami tidak bisa terlihat. Bahkan Yugi hanya terlihat sebelah bahunya saja. Tidak ada kecurigaan dari mereka bahwa bos-nya sedang memesrai istrinya di balik dinding.


Seperti tahu kegelisahan mereka, tangan Yugi menjulur memberitahu bahwa semuanya oke.


Suara air sudah mendidih terdengar. Yugi melepas ciumannya. Jarinya memulas bibir istrinya agar tidak terlihat bengkak akibat ciumannya yang rakus.


Yugi Kembali menjauh dari istrinya, lalu mulai menyeduh kopi. Setelah itu menyerahkan pada mereka bertiga.


"Terima kasih sekali lho Pak," ucap mereka. Lalu beranjak pergi dari sana dengan kopi hangat yang di buatkan bos mereka.

__ADS_1


"Mereka sudah pergi," ujar Yugi memberitahu. Nami keluar dari dinding itu.


"Hhh ... Ih, Mas Yugi ini," kata Nami geregetan. Ia mencubit pinggang suaminya dengan gemas. Yugi hanya bisa tertawa karena geli.


***


"Hei, ini cemilan untuk mu," kata Sifa membawa sebuah kotak dan meletakkan di atas meja.


Nami melihat kotak itu dan menyentuhnya. Menoleh pada Sifa dan bertanya, "Ini apa?"


"Buah Kismis kering. Aku sudah mencari di google kalau itu bagus untuk ibu hamil. Mengurangi mual juga," kata Sifa yakin.


"Wahhh ... terima kasih." Nami tersenyum mendapat pemberian itu. "Aku traktir nanti."


"Kenapa?" Nami heran.


"Hhh ... kamu ini. Jangan seperti itu. Setiap aku memberi mu sesuatu kamu pasti janji akan mentraktir ku. Kamu tahu itu seperti aku mengharapkan sesuatu dari mu, Nami. Jadi stop mentraktirku karena aku memberi mu sesuatu," jelas Sifa panjang.


Nami tersenyum. Ia langsung berdiri dan memeluk Sifa.


"Iya, iya. Aku enggak mau traktir kamu lagi," janji Nami.

__ADS_1


"Tapi kalau kamu memang lagi ada momen ingin merayakan sesuatu, kamu boleh mentraktir ku," ujar Sifa bikin Nami menowel pipinya.


"Kenapa Sifa yang di peluk?" tegur Yugi yang melintas di depan mereka.


"Eh, Mas Yugi." Nami tersenyum. Dia melepas pelukannya.


"Kenapa? Kamu cemburu, Gi? Ambil dah Nami. Ambil," canda Sifa. Nami tergelak. Yugi tersenyum.


Melihat keakraban mereka, Yugi lega. Saat Nami mengatakan ingin bekerja di sini, dia sempat takut kalau Sifa akan sering menyerang Nami. Dia tahu perasaan wanita itu padanya.


Namun sekarang melihat keakraban mereka, Yugi bisa tenang.


Telepon dari lobi yang mengatakan ada tamu untuk Nami, membuat perempuan itu heran. Bayangan teman-teman dari tempat kerja dulu, terlintas.


"Siapa?" tanya Sifa.


"Aku tidak tahu. Mungkin teman kerja dulu. Aku ke depan dulu ya?"


"Aku temani?" tawar Sifa.


"Enggak. Enggak usah."

__ADS_1


..._____...


__ADS_2