
Nami menelepon suaminya. Dia ingin memberitahu soal dirinya yang harus lembur.
"Halo sayang ...," sapa Yugi di seberang yang selalu membuat Nami takjub. Karena itu adalah panggilan baru untuknya. Membuatnya berbunga-bunga layaknya masih pendekatan. "Kamu sudah mau pulang?" Yugi terkejut karena ini masih satu jam lebih dari waktu pulang kerja Nami.
"Belum. Tenang. Aku cuma mau ngasih tahu kalau aku pulang agak telat. Jadi mas jangan datang duluan. Nanti kelamaan nunggunya."
"Lembur?" tanya Yugi agak was-was.
"Enggak. Hanya saja mungkin satu jam atau lebih terlambat dari waktu pulang."
"Padahal aku ingin mengajakmu makan malam di luar," kata Yugi terdengar kecewa.
"Maafkan aku, tapi ini penting sekali." Nami jadi tidak nyaman.
"Oke. Tidak apa-apa, tapi nanti aku minta jatah ya?"
"Jatah? Jatah apa?" tanya Nami mengerjapkan matanya.
"Menyentuhmu sebanyak yang aku mau," bisik Yugi membuat tubuh Nami jadi merinding. Dia segera menoleh ke kanan dan ke kiri. Takut ada yang mencuri obrolannya. Padahal dia sedang bicara di telepon.
"Lagi?" tanya Nami pelan. Wajahnya memerah tanpa sadar.
"Ya."
"Kamu ingin dapat bayi secepatnya ya?" gurau Nami. Wajahnya merah sambil tersenyum senang. Padahal Nami yang tanya, tapi dia sendiri yang malu.
"Ya. Nami atau Yugi junior harus segera ada," ucap Yugi yang di yakini Nami pasti bibirnya sedang tersenyum sekarang.
"Baiklah, baik tuan mesum. Saya akan bersedia," bisik Nami.
"Mesum ke istri itu wajib sayang. Jadi lain kali kamu yang mesum ke aku, ya ..." Yugi mengucapkan kalimat sensual dengan mudah.
"Sudah. Sampai nanti ya ...," pungkas Nami segera menutup telepon "Dasar Yugi. Tenaganya enggak ada habisnya," gumam Nami sambil tersenyum sendiri.
Masih dengan senyum senang, Nami kembali mengerjakan apa yang sudah di lakukan tadi.
Tek! Sebuah box bento beserta satu botol minuman tersedia di meja. Nami mendongak. Itu Rico. Melihat pria ini, kepala Nami langsung menoleh ke kanan dan kiri.
__ADS_1
"Dimana Vera?" tanya Nami langsung waspada.
"Apa yang kamu tanyakan?" Rico tidak suka di tanya soal Vera.
"Dia sudah pulang atau bagaimana?" tanya Nami lagi. Dia masih belum melihat ke arah pria ini. Nami masih sibuk mengawasi ke sekitar. Dia tidak ingin ada pertengkaran lagi.
"Vera sudah pulang."
"Kalau sudah pulang, kenapa kamu masih ada di sini?" Kali ini tatap mata Nami ke arah Rico yang berdiri. Dia heran.
"Aku melihatmu lembur." Rico menjawab pertanyaannya dengan hal lain.
"Ya. Pekerjaanku belum selesai. Besok kita akan bertemu pihak advertising. Jadi aku harus menyelesaikan ini agar mudah menyampaikan keinginan kita." Nami mengabaikan bento dan minuman yang di sodorkan Rico. Ia tidak menyentuh sekalipun pemberian pria ini.
"Bisakah terima sedikit kebaikanku?" tanya Rico berharap.
"Untuk apa?" tanya Nami tidak menghapus ekspresi datar di wajahnya. Dia juga enggan menoleh dan memilih fokus pada komputernya.
"Karena aku sudah berusaha."
"Kenapa harus berusaha? Apa yang ingin kamu dapatkan?" Nami terlihat sangat dingin.
"Aku maafkan kamu, Rico. Sudah. Selesai," ujar Nami cepat.
"Bisakah kita bicara dengan baik?"
"Selain soal pekerjaan, maaf aku tidak bisa. Jadi jika ingin bicarakan hal lain, bisa kamu batalkan sekarang."
"Kenapa kamu seperti ini, Nami?"
Mendengar pertanyaan itu, jari Nami berhenti mengetik di keyboard. Dia mendongak melihat Rico. "Apa yang kamu tanyakan? Seperti apa? Bersikap dingin padamu? Membatasi bicara kita? Apa? Bukankah itu wajar?" serbu Nami.
"Kamu tidak seperti ini sebelum ..."
"Sebelum kamu menjalin cinta dengan Vera. Bahkan menghamilinya." Saat mengatakan ini, tidak ada rasa sakit atau sedih lagi. Sepertinya hatinya sudah kosong untuk pria ini. Hatinya tidak ada nama Rico lagi.
"Ya. Aku salah."
__ADS_1
"Baguslah kamu mengaku. Lalu apa sekarang?"
"Aku hanya memberikan sekotak bento dan atau botol air. Kenapa kamu justru mengatakan banyak hal? Bahkan menyerang ku?"
"Karena akan ada banyak masalah kalau kamu melakukannya dan aku menerimanya," tegas Nami.
"Hanya ini saja, bisa membuat masalah Nami?" Bola mata Rico melebar.
"Kamu enggak paham ya? Bukannya kamu ini suami Vera. Kamu seharusnya tahu bagaimana sifat dia. Aku enggak mau dia terus saja menyalahkan ku karena kamu bersikap seperti ini, Rico. Dia pikir kamu masih mencintaiku," kata Nami kesal.
"Dia tidak ada. Dan aku juga memang masih mencintaimu."
"Jangan bicara hal yang aneh. Mencintaiku tapi menghamili gadis lain. Hhh ... dimana logikanya? Ada atau tidak ada Vera di sampingmu, aku adalah istri orang lain. Kamu juga suami orang lain. Jadi aku wajib menjaga diriku. Cukuplah kamu melakukan kesalahan padaku, Rico. Jangan melakukannya pada Vera adikku."
"Kamu pikir dia adik yang manis?" tanya Rico seakan mencemooh Vera. Itu bisa di lihat dari dengusan kesal barusan. Nami diam. "Dia sengaja mendekatiku karena tahu aku adalah kekasihmu. Dia bukan adik yang manis saat kamu bercerita padaku."
"Dan bodohnya kamu terjebak oleh tipu dayanya. Padahal kamu tahu kenyataan itu," ucap Nami menyesakkan dada bagi Rico. Pria ini berulang kali mengungkap aibnya sendiri tanpa sadar.
Rico terdiam. "Aku menyesal."
"Terima kasih sudah menyesal, tapi maaf ... Kita harus tetap seperti sekarang. Aku istri Yugi dan kamu suami Vera. Tidak ada yang bisa di ubah dari itu semua," jelas Nami.
**
'Jatah' yang di tagih Yugi setiap malam, benar-benar membuatnya kalang kabut. Pria muda ini tidak pernah lelah untuk selalu memintanya. Bukan tidak suka, Nami masih sering kali malu keesokan harinya, jika dia tiba-tiba menggila saat mereka bercinta.
Nami keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia berjalan mendekat ke ranjang untuk melihat suaminya. Pria itu memejamkan mata.
"Ayo mandi," ujar Nami seraya menepuk pipi pria ini lembut. Mata itu langsung terbuka karena memang tidak tidur. "Jangan lagi, Mas. Aku sudah mandi!" pekik Nami saat Yugi menarik tangannya.
"Hahaha ..." Yugi tergelak. "Aku bukan ingin melakukan penyatuan lagi, sayang. Kau hanya ingin membantu kamu mengeringkan rambut," jelas pria ini membuat Nami malu karena salah paham. "Jangan-jangan istriku pikiran istriku mesum ya ...," goda Yugi.
Nami menipiskan bibir. "Biasanya kan Mas gitu. Sudah dapat jatah, masih nambah. Padahal kalau suruh keramas lagi itu malas," kata Nami jujur.
"Enggak. Aku hanya mau bantu mengeringkan rambut saja." Yugi meminta handuk yang ada di tangan Nami. Perempuan ini menyerahkannya. "Tapi bolehkan jika aku cium pipi begini?" Yugi langsung mencium pipi Nami secepatnya.
"Hhh ... Tuh, kan," tuding Nami. Yugi tertawa sambil mengusap rambut istrinya dengan handuk.
__ADS_1
..._____...