Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 80 : Darurat


__ADS_3

"Biar aku yang menyetir," kata Reno di belakangnya. Kebetulan Yugi sedang bersama Reno ketika Sifa menelepon tadi. Jadi secara gamblang, Reno tahu juga tentang kabar itu. "Aku juga akan ikut ke rumah sakit."


"Oh terima kasih, Reno." Yugi bersyukur. "Aku serahkan padamu untuk menyetir."


Melihat dari raut wajah Yugi, Reno harus menemaninya. Dia tidak bisa membiarkan Yugi menyetir mobil sendiri. Karena pria ini pasti begitu terguncang mendengar kabar buruk yang baru saja di katakan Sifa.


Mobil melaju cepat di atas aspal jalanan.


"Cepatlah, Reno. Cepatlah ...," pinta Yugi tidak sabar di dalam mobil.


"Ya," jawab Reno yang tidak ingin membantah. Dia sebenarnya juga sudah menjalankan mobil dalam kecepatan yang bisa membuat mereka segera sampai ke rumah sakit dalam waktu yang tidak lama.


Namun dalam keadaan gawat seperti ini, laju mobil yang paling cepat sekalipun tidak akan terasa kecepatannya. Jarak yang dekat pun seakan makin menjauh. Seperti ke ujung dunia. Perjalanan menuju rumah sakit akan terasa semakin panjang dan lama. Yugi gelisah. Dia panik dan takut.


**

__ADS_1


Yugi sudah bisa menginjakkan kakinya di lantai rumah sakit dimana Nami berada. Setengah berlari ia mendatangi kamar tempat istrinya di tangani. Dari bimbingan perawat, Yugi bisa sampai di kamar Nami di rawat dengan cepat. Tampak Sifa berdiri dengan tidak tenang. Ia gelisah dan cemas.


"Sifa," panggil Yugi. Perempuan itu menoleh dengan cepat.


"Oh, Yugi." Wajah Sifa tampak lega melihat Yugi datang. Sejak tadi ia ketakutan sendirian saat menemani Nami yang mengalami pendarahan


"Bagaimana keadaan Nami?" tanya Yugi. Reno berdiri di sampingnya.


"Dokter ... Dokter masih memeriksa, tapi ... tapi dia ..." Karena terguncang, Sifa masih kesulitan bicara dengan tenang. Reno mendekat padanya.


"Jadi ini ulah Vera dan mamanya lagi?!" nada bicara Yugi meninggi. Pria ini geram. Tangannya mengepal karena marah.


"Maafkan aku, Yugi. Aku ..." Sifa menjeda kalimatnya karena terguncang. Reno mengelus punggungnya. Sifa menoleh pada Reno dengan wajah sedih. Seperti mengadu bahwa ia merasa bersalah. "Maafkan Aku Yugi tidak bisa melindungi Nami."


"Tidak apa-apa. Nami pasti tidak apa-apa. Kamu tidak salah. Tidak ada yang salah. Aku sangat berterima kasih kamu sudah membawa istriku secepatnya ke rumah sakit," kata Yugi juga mencoba menenangkan Sifa.

__ADS_1


Namun sepertinya kalimat itu untuk dirinya sendiri. Karena sebenarnya keadaannya juga sama seperti Sifa. Yugi tidak tenang dan sangat cemas.


Saat itu dokter keluar dari pintu ruang Nami di rawat. Yugi mendekat.


"Bagiamana keadaannya, Dok?" tanya Yugi.


"Anda keluarganya?" tanya dokter seraya melihat ke arah Reno bergantian.


"Ya. Saya suaminya," sahut Yugi.


"Oh, syukurlah Anda segera datang. Kondisi kandungan istri Anda mengkhawatirkan. Karena si ibu mengalami syok. Bayinya harus cepat di keluarkan," jelas dokter.


"Aku tahu. Ini salahku, Yugi. Salahku tidak bisa menghindarkan Nami dari adik tirinya." Sifa emosional.


"Tenang, Sifa. Tenanglah," ucap Reno. Air muka Sifa pun kebingungan. Dia yang tahu persis kejadiannya panik dan merasa bersalah. Di depan matanya, Nami terjatuh. Padahal dia ada di sana, tapi tangannya tidak sampai untuk bisa menolongnya.

__ADS_1


...____...


__ADS_2