Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 69 : Istirahat dulu


__ADS_3

"Maaf, Ma," kata Nami bersalah.


"Bukan. Bukan kamu sayang. Ini pasti Yugi." Mama menoleh geram pada putranya. Yugi langsung mendekat dan memeluk istrinya dari samping. "Kamu ini ... " Mama gemas sambil memijit lengan Yugi. Pria itu tertawa.


"Iya, ini memang salah Yugi. Maafkan Yugi, Ma," kata Yugi lembut.


"Huh, kali ini akan mama maafkan. Karena kamu sudah memberi mama cucu," kata mama gemas melihat ke arah perut menantunya.


Nami tersenyum.


"Sebenarnya kita juga baru tahu sebulan yang lalu kalau Nami itu hamil, Ma." Yugi memberi penjelasan.


"Benarkah?" tanya mama lebih terkejut. "Ini sudah berapa bulan?" Mama mengelus perut menantunya.


"Lima bulan lebih, Ma," jawab Nami.


"Hampir enam ya ... Jadi kalian baru tahu saat sudah empat bulan?" Mama melebarkan mata.


"Iya," sahut mereka bersamaan.


"Wah, wah ... tapi enggak apa-apa, kan?" Mama terlihat khawatir. Beliau menoleh pada Nami.


"Enggak. Semua baik-baik saja kok Ma," kata Nami sambil mengelus punggung tangan mama.

__ADS_1


"Syukurlah. Kalau Mbak Yana dengar, dia pasti bahagia juga. Coba kamu telepon dia Yugi. Kasih kabar baik ini padanya," pesan Mama.


"Iya." Yugi mengangguk. "Malam ini kita mau menginap, Ma."


"Oh, benarkah? Mama senang sekali. Kalau begitu kalian istirahat saja dulu. Nanti kalau sudah waktunya makan malam, kita makan bersama," kata Mama.


"Nanti Nami bantu," kata Nami.


"Boleh. Istirahat saja dulu, sayang. Tidur siang sangat baik untuk ibu hamil," nasehat mama sambil mengusap rambut Nami. Begitu hangat. Dahaga akan seorang ibu kini terpenuhi oleh mertuanya yang baik.


"Iya, Ma," kata Nami patuh.


***


Tidur siang kali ini begitu nyaman. Hingga ia merasa tubuhnya lebih enak daripada tadi.


"Sudah bangun?"


"Mas Yugi?" Nami terkejut. Rupanya pria itu ada di kursi dekat jendela sejak tadi. "Sejak kapan ada di sana?" tanya Nami was-was.


"Sejak tadi. Sejak kamu menguap lebar," sahut Yugi.


"Kenapa tidak langsung menegur ku?" protes Nami.

__ADS_1


"Orang baru bangun tidur lebih baik di diamkan saja dulu." Yugi berdiri dan mendekat ke ranjang.


"Enggak bisa bergerak bebas ya?" iseng Yugi menertawakan istrinya yang baru bangun tidur.


Kepala Nami mengangguk dan setengah mendengus ikut menertawakan dirinya.


"Sudah hampir gelap ya?" tanya Nami saat melihat jendela terlihat mulai teduh.


Yugi menoleh ke arah jendela juga. "Ya. Kamu tertidur lelap sekali tadi. Sampai aku tidak tega membangunkan mu. Padahal aku ingin berbincang-bincang denganmu." Yugi merajuk. Pria itu tampak manja.


"Benarkah? Oh, maaf. Aku merasa sangat lelah tadi." Nami menyentuh pipi suaminya dengan rasa bersalah.


"Jadi sekarang sudah segar?" tanya Yugi seakan sudah menantikannya sejak tadi.


"Sedikit. Mungkin setelah mandi, tubuhku makin segar. Baru kita bincang-bincang. Oke?" usul Nami sambil menangkup kedua pipi suaminya.


"Mandi? Bagus. Kamu memang harus mandi. Ayo, mandi dulu," ujar Yugi. Tangan Yugi menelusup ke balik ketiak Nami. Lalu tiba-tiba mengangkat tubuh perempuan ini. Sontak Nami mengalungkan lengannya pada leher Yugi.


"A-apa?" tanya Nami bingung.


"Aku antar kamu ke kamar mandi. Karena mandi itu sehat. Tubuh kamu juga tambah segar. Bukan begitu?" Yugi menggendong tubuh Nami menuju ke kamar mandi.


...____...

__ADS_1


__ADS_2