
Tidak lama polisi itu menemukan Vera yang masih duduk di dekat jendela kamar tidurnya.
Polisi tidak perlu membawa perempuan ini seperti mereka lakukan pada mama Vera. Karena Vera di anggap cukup kooperatif ketika mereka menjemputnya.
Bahkan perempuan ini berteriak dengan lantang. "Ya. Tangkap saja aku! Aku memang sudah mencelakai Nami. Ya. Aku memang bersalah!" ujarnya dengan wajah penuh tekanan.
Karena tidak melawan, Vera yang sudah seperti kehilangan jiwanya ikut saja saat polisi membimbingnya keluar dari rumah.
"Tidak! Jangan bawa dia. Dia tidak melakukan apa-apa. Nami hanya mengada-ngada. Dia sengaja membuat tuduhan palsu!" teriak mama kalut. Namun para polisi itu tidak peduli dengan teriakan dan ocehan perempuan paruh baya ini.
Apapun yang di lakukan mama Vera untuk mengupayakan mereka berdua lolos dari penangkapan ini, tidak berhasil. Polisi segera membawa mereka berdua ke kantor polisi.
***
Rumah sakit.
Nami sudah lumayan pulih. Kondisinya main membaik. Mungkin besok sudah pulang ke rumah.
Tangan Yugi tengah menyuapkan sesendok nasi pada istrinya. Padahal Nami sudah berulang kali mengatakan kalau dia bisa makan sendiri. Yugi hanya tersenyum.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku menyukai hal sederhana tapi manis seperti ini," ujar Yugi dengan mata berbinar. Nami tersenyum. Ponsel di nakas bergetar. Itu milik Yugi. Nami hendak meraih karena itu telah dekat dengan tangannya. "Biar aku saja," kata Yugi seraya mendekatkan tubuhnya pada nakas.
"Mas Yugi bukan sedang menyembunyikan sesuatu jadi tidak mau aku ambilkan handphone-nya kan?" tanya Nami tiba-tiba cemberut.
Ia yang tadinya melihat ke layar ponsel untuk mencari tahu itu siapa, langsung menoleh dengan cepat pada istrinya.
"Apa yang kamu bicarakan, sayang?" tanya Yugi agak terkejut. Nami mengangkat bahu. Bola mata Yugi mengerjap heran. Raut wajah istrinya berubah masam.
"Apa kamu ... sedang cemburu?" tanya Yugi tidak menduga. Nami tetap diam seraya membuang muka. Yugi tergelak. Ia langsung memeluk tubuh istrinya dan berbisik, "Maafkan aku, tapi aku tidak mungkin menyembunyikan sesuatu. Aku hanya tidak ingin kamu beranjak dari tempat tidur."
"Benarkah?" tanya Nami sedikit tidak percaya.
Ini tidak seperti Nami yang biasanya. Nami tadi sudah begitu gembira, tapi sekarang berubah masam. Sikap Nami mungkin di dorong oleh rasa cemas dan gelisah yang di dapat karena adanya perubahan hormonal pada ibu yang habis melahirkan. Pun, seringkali mood ibu berubah-ubah. Perubahan suasana hati mereka cepat berganti.
Ternyata itu Reno. Melihat itu Nami sedikit malu. Dia sempat berpikir yang tidak-tidak.
"Ini Reno. Apakah kamu mau mendengarkan percakapan ku dengannya?" tanya Yugi bukan bermaksud meledek istrinya.
"Tidak. Kamu bisa bicara berdua dengannya," tolak Nami.
__ADS_1
"Bener?"
"Iya. Sudah cepat telepon balik. Mungkin saja itu penting," ujar Nami.
"Oke, aku mau meneleponnya." Yugi beranjak dari ranjang. Tak lama Reno menerima telepon Yugi. "Ada apa?"
"Polisi sudah membawa Vera dan mamanya secara paksa."
"Kapan?" tanya Yugi.
"Tadi pagi. Apa kamu akan datang ke pengadilan?" tanya Reno.
"Tentu. Apa mereka di temani kuasa hukum?" Yugi ingin tahu.
"Tidak. Menurut polisi, sudah ada pengakuan dari Vera kalau dia bersalah. Pengakuan itu membuat polisi ... "
"Tunggu. Vera mengaku salah?" jeda Yugi.
...________...
__ADS_1