Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 25 : Aku memang bodoh


__ADS_3

"Kenapa kamu terus saja mendesak ku, Yugi?" tanya Nami dengan mata berkaca-kaca lagi. "Kamu tahu kan kita menikah hanya untuk menutup aib keluarga. Terpaksa. Menikah hanya terpaksa. Lalu kenapa kamu terus saja seperti ini? Keluar Yugi. Aku tidak ingin di temani siapa-siapa." Nami menunjuk pintu lagi.


"Aku tidak peduli berapa kali pun kamu menolak ku aku akan tetap di sini." Yugi bersikeras untuk tinggal di kamar menemani Nami.


Nami menggeram kesal.


"Apa tujuanmu melakukan ini? Apa? Kita ini bukan sepasang kekasih, Yugi. Kamu tahu itu. Tidak mungkin bagi kita bisa menjadi pasangan suami istri seperti orang lain. Itu tidak mungkin." Air mata Nami mulai menetes. Dengan cepat punggung tangan Nami mengusapnya. "Jadi berhenti mengusikku. Berhenti bersikap peduli padaku!" Nami marah. Air mata itu menetes lagi. Dan Nami pun kembali menghapusnya lagi. Berulang kali seperti itu.


"Kenapa aku harus tidak peduli padamu?" tanya Yugi dengan sorot mata hangat.


"Berhenti bersikap kamu adalah suami yang perhatian. Kita hanya bersandiwara. Kita hanya pasangan palsu,” desis Nami dengan air mata menggenang di sana.


"Kita memang pasangan palsu, tapi pernikahan ini asli. Tidak bisa di pungkiri kamu adalah istriku. Aku tidak bisa membiarkan istriku sendirian di sini menahan rasa sakit karena mereka. Aku harus bersamamu. Itu yang ada di pikiranku."


Nami membuang muka seraya menggigit bibir. Tangisnya makin tidak mampu di tahan. Ia mengusap air mata sebisa mungkin. Lalu menatap Yugi lagi dengan tajam.


“Tolong. Pergilah ....” pinta Nami.


Yugi tidak peduli penolakan Nami. Ia tetap mendekat dan meraih tubuh itu untuk mendekat padanya. Yugi memeluk perempuan ini.


"Aku bukan istrimu, Yugi. Aku bukan istrimu ... Aku hanya pengganti." Tubuh Nami berontak. Namun Yugi mempererat pelukannya. Hingga akhirnya tubuh Nami makin lama makin melemah.


"Kamu bisa terus mengatakan itu jika mau, tapi biarkan aku memelukmu. Karena bukan hanya kamu yang tersakiti, aku juga merasa sakit saat kamu bersedih Nami," bisik Yugi sambil mencoba menenangkan tubuh itu.


Nami akhirnya diam setelah tidak berhasil keluar dari dekapan pria ini. Napasnya naik turun karena tersengal-sengal berusaha lepas tadi. Tubuhnya perlahan menjadi lembut.


"Bodoh. Kamu bodoh, Yugi," lirih Nami pelan.


"Ya. Aku memang bodoh," sahut Yugi. Perlahan Nami membenamkan kepalanya pada dada Yugi. Jari-jari Nami yang hanya melayang di belakang punggung Yugi, perlahan kini melingkar di pinggang. Kemudian terdengar isak tangis di sana. Nami menangis. Pelukan perempuan ini makin erat beriringan dengan tangisan yang kian hebat.


***


Nami mencoba membuka mata perlahan-lahan. Kelopak matanya terasa berat. Namun perlahan ia bisa membuka mata. Langit-langit kamar. Ia menoleh ke samping. Ada Yugi. Pria itu duduk di kursi. Ternyata pria itu juga tertidur dengan kepala di sandarkan pada meja. Tubuhnya meringkuk karena mensejajarkan dengan tinggi meja.


 


Kaki Nami bergerak. Kemudian menjejak di atas lantai kamar. Dengan posisi masih duduk, Nami menatap pria yang tidur menghadap ke samping itu.


 


"Kenapa kamu justru ingin tetap di sini, bocah?" tanya Nami lirih. "Padahal sudah jelas kita ini hanya di manfaatkan, bukan menikah sungguhan."


 


Nami menoleh ke atas. Ke jendela kamar. Ternyata sudah sore. Itu bisa di baca dari cahaya matahari yang mulai redup.


 


"Apa aku menangis selama itu?" gumam Nami seraya menghela napas. Perempuan ini mencoba berdiri. Namun rasa pusing menyerangnya. Tubuhnya limbung. Nami jatuh dan ...

__ADS_1


 


Bruk!


 


Ternyata Nami tidak jatuh ke lantai. Ia jatuh terduduk di ranjang. Hentakan ini membuat Yugi membuka mata.


 


Tangan Nami masih memegangi kepalanya.


 


"Nami?" Yugi berdiri dan mendekat ke perempuan ini. "Kenapa?" tanya Yugi cemas.


 


"Aku ... pusing. Kepalaku terasa berputar tadi," jawab Nami dengan mata tertutup menahan rasa sakit. Yugi memeriksa kening Nami. Tubuhnya tidak panas.


 


"Mungkin kamu pusing karena tidak menghabiskan sarapan tadi. Bahkan siang tadi pun enggak makan." Yugi mengatakan itu dengan tatapan cemas. "Aku ambilkan air." Yugi menjauh dari ranjang menuju meja. Mengambil botol air mineral. "Minumlah."


 


Kelopak mata Nami terbuka perlahan. Kemudian mengambil botol dari tangan Yugi dan mencoba meminumnya.


 


 


"Aku lapar," rengek Nami pelan.


"Aku akan ambilkan makanan di dapur, tapi kalau enggak mau ... kita keluar saja," usul Yugi.


 


"Lebih baik kita pulang," ujar Nami.


"Itu lebih baik." Yugi sangat setuju.


 


"Kamu setuju?" Nami heran.


 


"Tentu saja. Kamu pikir aku betah di rumah ini? Tidak. Kamu salah jika mengira aku betah di sini. Aku datang ke rumah ini untuk menghormati kamu dan keluargamu. Namun jika mereka tidak bisa menghormati kamu, untuk apa aku juga memaksamu tetap tinggal?" Yugi mengatakannya dengan lugas.

__ADS_1


Nami diam.


"Maafkan aku sudah menyulitkan mu. Padahal kamu juga pasti muak bertemu Vera_orang yang membuat mu sakit hati," kata Nami merasa sudah menempatkan pria ini dalam waktu dan tempat yang salah.


 


"Aku tidak sakit hati. Aku rela dia meninggalkan aku," ralat Yugi.


 


"Kamu hebat. Bisa menutup luka dengan cepat," kata Nami salut. Yugi mendengus lucu.


 


"Tidak. Aku tidak hebat. Hanya sebuah kebetulan saja aku masih bisa berdiri. Kebetulan itu mungkin adalah bertemu denganmu," kata Yugi tersenyum lembut. Nami menunduk karena itu membuat debaran hebat di dadanya.


 


"Terdengar sangat berlebihan," lirih Nami membuang wajah ke arah lain.


 


"Tidak," sangkal Yugi yang mendengar itu. Nami menoleh. Pria ini tiba-tiba mendekat membuat Nami menahan napas sesaat.


 


Mau apa dia? Mau mencium ku?


 


Nami panik. Wajahnya terasa panas. Jarak wajah mereka hanya beberapa inci saja. Yugi hanya tinggal mencondongkan wajahnya, mereka akan berciuman. Degup jantung Nami makin kencang berdetak. Berisik sekali hingga seakan semua orang bisa mendengarnya. Matanya mengerjap ingin menetralkan suasana tegang yang ia rasa.


Yugi tersenyum. Ia menjauhkan wajahnya. Ini membuat Nami mengerjapkan mata lagi karena bingung.


"Kamu harus memakai bantal agar bersandar lebih nyaman," ucap Yugi seraya menarik bantal. Lalu meletakkan bantal itu di belakang punggung Nami dengan setengah membungkuk.


 


"Aku bisa mendengar detak jantung mu. Sangat berisik. Apa itu karena kamu berpikir aku akan mencium mu?" tanya Yugi saat memunggunginya.


 


"A-apa?" tanya Nami terkejut. Yugi terkekeh. Nami mengerjapkan mata merasa malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak.


 


Pria ini. Beraninya dia menggodaku. Aku panik nih. Hhh ... Tunggu. Jadi aku yakin dia sedang menggodaku? Kenapa wajahku panas dan panik? Sepertinya aku tergoda pria yang lebih muda dari ku itu?


Sepertinya pusingku makin parah karena malu dan tersipu.

__ADS_1


...________...



__ADS_2