Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 31 : Hati yang terkoyak


__ADS_3

Walaupun gaun Nami bekas, dia tetap terlihat manis. Bahkan Rico yang berada di panggung pelaminan, terus saja mencuri-curi pandang sejak tadi. Sepertinya ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari Nami.


Ini membuat Vera yang di sebelahnya heran. Lalu ia mengikuti arah pandang pria ini. Vera terkejut saat tahu itu adalah Nami. Wajahnya langsung berubah menjadi masam.


“Mas Rico ngeliatin Mbak Nami terus, ya?” tegur Vera tanpa basa-basi. Ia tidak ingin kecolongan. Makanya dia harus tegas.


“Ah, enggak,” ujar Rico terkejut. Dia segera melihat ke samping. Ke arah Vera.


“Enggak gimana? Aku lihat dari tadi Mas Rico ngeliatin Mbak Nami terus,” sungut Vera. Dia menemukan gelagat itu sendiri.


“Hhh ... Aku memang sedang lihat Nami dan Yugi. Bukan hanya lihat kakakmu saja. Aku melihat mereka berdua yang baru datang.” Rico mengaku, tapi mungkin tidak sepenuhnya.


“Buat apa melihat mereka?” tanya Vera sinis.


“Mereka itu kan saudara kamu. Tentu saja aku lihat. Lagipula aku heran, kenapa mereka tampak beda sendiri?” tegur Rico yang melihat perbedaan mencolok dari Nami dengan keluarga mereka. Dia membandingkan lagi bergantian. “Baju mereka berdua tidak sama seperti keluarga yang lain. Sekarang mereka terlihat bukan seperti saudara kamu,” imbuh Rico.


Vera hendak membuka mulut membantah saat ada tamu yang ingin bersalaman dengan mereka. Jadinya dia urung bicara.


Setelah para tamu selesai berjabat tangan, Vera menjawab dengan tidak merasa ada yang tidak tepat. “Itu kan karena bajunya yang kurang aja. Bukan salahku kan, kalau dari periasnya enggak menyediakan baju dengan jumlah yang di inginkan.” Vera tampak tidak peduli.


“Kan bisa cari baju lain yang jumlahnya pas. Aku sudah kasih kamu uang banyak untuk mengatur itu semua bukan?” tegur Rico lagi.


“Aku kan enggak tahu. Aku kan sibuk merawat diri untuk pernikahan ini, Mas. Itu semua mama yang ngatur, bukan aku,” ujar Vera santai. "Aku kan harus terlihat cantik di depan semua orang agar Mas Rico itu bangga. Bukan ngurusin hal seperti itu."


“Kamu kan bisa kasih tahu mama, Ver.” Rico tidak terima. "Kamu bisa diskusi sebentar. Setelah itu baru serahkan semua pada mama."

__ADS_1


“Mas Rico ini gimana sih? Kita kan lagi di pelaminan. Kenapa jadi ribut soal sepele sih? Banyak orang yang lihat tuh.” Vera mengakhiri perdebatan ini. Rico tentu tahu harus apa untuk menjaga diri dari mulut orang-orang di sini. Ia tentu bicara dengan volume yang sudah di atur agar orang lain tidak mengira mereka berdua lagi berdebat.


Rico menipiskan bibir dengan geram melihat tingkah Vera. Namun lagi-lagi ia harus menghapus wajah masam karena ada tamu yang naik ke pelaminan, guna berjabat tangan. Ia harus menahan diri.


Senyum Vera dan Rico mengembang pada tamu.


"Mas Rico jangan marah." Vera mulai bicara dengan manja saat tamu di atas panggung pelaminan mulai sepi lagi. "Nanti bayi di dalam perut ini sedih," bisik Vera sambil mengelus perutnya samar. Rico tidak bisa berkutik jika itu soal bayi yang ada di dalam kandungan Vera. Akhirnya ia membiarkan apa yang sudah terjadi tadi dengan helaan napas berat.


Rupanya bayi ini jadi pengikat kuat antara aku dan Mas Rico. Hihihi ... mas Rico tidak bisa berkutik jika itu soal bayi. Vera kegirangan sendiri di dalam hati.


Yugi yang tahu Rico selalu melihat ke arah Nami, langsung berdiri lurus di jalur bola mata pria itu melihat. Dia sengaja memunggungi Rico agar tidak bisa melihat Nami. Bagaikan anak kecil, dia sengaja melakukan itu untuk membuat Rico kesal.


Dasar Yugi. Dia sengaja melakukannya agar aku tidak bisa melihat Nami, geram Rico.


Kamu tidak bisa menikmati wanita ku yang manis ini, Rico. Nikmati saja perempuan menyebalkan di sampingmu itu. Yugi membalas tatapan Rico.


"Oh, ada seseorang yang ingin mengganggu milikku," kata Yugi.


"Milikmu? Apa itu?" tanya Nami merasa jawaban Yugi aneh. Namun pria ini hanya tersenyum seraya menatapnya lembut. "Kenapa hanya tersenyum?" sungut Nami.


"Bukan apa-apa," jawab Yugi ingin menyembunyikan sesuatu. Nami memilih tidak mencari tahu.


Karena ini pesta pernikahan Rico, banyak orang dari perusahaan Nami bekerja yang datang. Bahkan trio itu datang dengan cantiknya.


"Namiii ..." Saat seperti ini Yugi harus rela melepaskan istrinya. Karena Nami pasti akan dikerubuti oleh teman-temanya. Benar saja. Mereka berdua langsung memeluk Nami.

__ADS_1


“Hei, kalian. Kita ketemu juga,” kata Nami seraya cipika-cipiki sambil senyum. Yuli yang datang belakangan, tersenyum sopan pada Yugi terlebih dulu. Pria ini sedang memperhatikan mereka. Dia mengangguk menanggapi sikap sopan teman istrinya.


“Seharusnya kalian kasih salam dulu sama suaminya Nami. Baru pelukan,” pesan Yuli membuat Ina dan Mila tersadar kalau tadi sudah mengabaikan suami Nami.


“Aduh, maaf.” Ina dan Mila pun mengangguk sambil meringis malu.


Yugi tersenyum mengerti. “Enggak apa-apa. Silakan saja. Nami paling gembira kalau bertemu sama temannya. Jadi enggak apa-apa.” Yugi malah mempersilakan. Dia mengerti ini adalah hal yang disukai istrinya.


“Eh, aku baru tahu kalau calon istri Pak Rico itu Vera adik kamu,” kata Mila mulai membicarakan adik Nami.


“Iya. Ini Vera yang itu kan?” Ina ikut-ikutan bertanya. Nami tahu maksud mereka.


“Kalian belum bertemu dengan pengantinnya?” tanya Nami.


“Sudah,” jawab Yuli. Dia tidak banyak tanya karena paham kalau Vera itu adik Nami.


“Ya. Kita melihat Vera itu makanya sengaja nyariin kamu. Kaget saat lihat mereka. Kok kamu enggak bilang kalau jadi iparnya Pak Rico?” tanya Mila. Ina ikut menganggukkan kepala. Nami hanya menyunggingkan senyum.


“Terus kamu juga kayak tamu biasa saja. Kenapa enggak pakai gaun seragam kayak para keluarga?” Ina menunjuk para orang-orang yang pakai gaun yang sama. Yang pastinya mereka adalah keluarga mempelai.


"Iya. Stok enggak ada mungkin," jawab Nami asal.


"Enggak ada stok gimana? Sebenarnya kamu keluarganya bukan sih? Kayak di bedain gitu,” ujar Ina menambahi.


“Nami.”

__ADS_1


Sebuah suara membuat perempuan ini menoleh. Bahkan ketiga teman Nami ikut melongok ke asal suara. Itu suara mama. Semuanya memberi salam sambil mengucapkan selamat. Mama Nami tersenyum tipis.


__ADS_2