Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 53 : Kelabu untuk Rico


__ADS_3

Entah bagaimana kisah suami istri yang bertengkar tadi di dalam ruangan. Nami tidak ingin tahu. Sepertinya Rico juga tidak peduli dengan Vera yang ingin bicara dengannya. Bahkan Ina bilang, dia melihat sopir kantorlah yang mengantarkan Vera pulang. Pria itu mengabaikan Vera.


Waktu pulang tiba.


Rico mulai di dera rasa gelisah. Bola mata pria ini terus saja melihat ke arah lorong yang terhubung dari balik dinding kaca dua arah ruangannya. Ia sedang menunggu Nami. Ia sangat ingin bertemu wanita itu.


Nami belum pulang. Dia tahu bahwa wanita itu masih ada di kursi kerjanya. Tubuhnya bergerak kesana kemari mengitari ruangan tempat ia bekerja. Rico tidak sabar. Lalu pria ini memutuskan untuk mendatangi meja kerja Nami saja. Ternyata Nami sudah tidak ada di tempatnya.


"Ternyata dia sudah pergi. Aku harus segera menyusulnya." Rico segera melesat menyusul Nami.


Rupanya usahanya menyusul Nami berhasil. Dia beruntung karena bisa menemukan perempuan itu. Nami masih berdiri di sana menunggu suaminya yang belum datang. HH ... Rico menghela napas lega.


"Nami!" panggil Rico. Badan Nami memutar dan melihat ke arah Rico.


"Rico. Ada apa?" tanya Nami tenang.


Kaki Rico melangkah pelan. "Aku ingin bicara."


Nami melihat ke arah arloji di tangannya. "Jam pulang kerja sudah lama berlalu. Seharusnya kamu sudah pulang. Karena kulihat istrimu pun pulang tadi. Apa tidak masalah kamu menemuiku? Tadi saja pertemuan yang bisa di bilang kebetulan, membuat Vera menggila," kata Nami saat Rico tepat berdiri di depannya.


"Tidak masalah. Dia sudah ada di rumahnya. Aku ingin bicara denganmu," ujar Rico.


Nami melihat keseriusan Rico di wajahnya. "Jika soal pekerjaan, bicaralah."


"Tidak bisa di sini. Kita harus bicara dengan serius," kata Rico.


"Tentang kerjasama dengan perusahaan advertising?" tanya Nami mencoba menebak apa yang akan di bicarakan. Bukan karena pemilik perusahaan itu adalah suaminya, jadi Nami selalu berpikir tentang itu. Namun karena itu adalah pekerjaan terbaru yang sedang dikerjakan olehnya.


"Bukan." Ekspresi wajah Rico sedikit kesal. Ya. Dia berpikir kalau Nami pasti teringat akan suaminya. Pria yang tidak di sangka adakah pemilik advertising bergengsi itu.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Nami heran.


"Ini soal kita," ungkap Rico membuat Nami menatapnya lurus-lurus. Nami menghela napas gusar.


"Jangan membahas soal kita lagi, Rico. Aku dan kamu berdua sudah menikah. Jadi ada hati yang perlu di jaga. Kamu paham itu kan?" Nami lelah.


"Ini juga soal Vera dan Yugi," kata Rico. Bola mata Nami melebar karena terkejut. Lalu dia diam sejenak. Nama Yugi yang di sebut oleh Rico membuatnya urung untuk segera melangkahkan kaki menjauh. Ia ingin tahu lebih jauh.


"Soal apa itu?" Jelas sekali kalau Nami penasaran. Karena ini tentang pria yang di cintainya.


"Kalau kamu setuju, kita bisa makan malam di luar sambil bicara. Aku akan ..."


"Tidak," potong Nami cepat. Rico yang hendak bicara panjang lebar menoleh dengan cepat. "Aku memang ingin tahu soal apa itu, karena ada nama Yugi di sana. Namun aku tidak mau jika harus membuat janji denganmu. Bicara sekarang saja Rico, atau aku akan pergi dan mengabaikan mu," ancam Nami.


Rico kalah. Nami serius dan tidak bisa di bantah lagi.


Deg! Jantung Nami terasa seperti tertohok sesuatu.


"Kenapa ingin tahu?" tanya Nami dingin.


"Bukan. Aku bukan bermaksud ingin mencela atau apapun pikiran jelek yang ada di benakmu sekarang." Melihat Ekspresi marah Nami, Rico langsung mengklarifikasi. "Aku hanya ingin tahu apa mulut Vera itu hanya sedang mencelamu karena kita pernah punya hubungan asmara atau itu memang suatu kebenaran."


Nami diam.


"Ya. Aku memang bukan anak kandung mama. Aku bukan bagian dari keluarga itu." Setelah beberapa detik diam, Nami pun mengungkap siapa dirinya. "Meskipun apa yang di katakan Vera adalah bohong, kamu tidak perlu membelaku Rico. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.'


"Tapi itu membuat ku marah, Nami," ujar Rico. Nami diam. "Aku tahu kamu pasti bersedih. Maafkan aku."


"Jangan meminta maaf soal itu, Rico. Tidak ada salahmu saat aku bukan anak kandung mama dan papaku. Aku memang sedih mendengar bahwa perempuan yang aku tahu bertahun tahun adalah keluargaku, ternyata bukanlah mama kandungku. Namun sudah ada bahu Yugi untuk bersandar."

__ADS_1


Saat mengatakan ini, bukan bayangan bahu Yugi yang melintas. Melainkan dada bidang yang di sentuhnya dengan puas tadi malam. Seketika bibir Nami tertarik untuk tersenyum. Namun ia coba untuk tidak terlalu kentara di depan Rico.


"Yah, kini Yugi adalah segalanya bagimu," kata Rico. Ada nada sedih saat mengatakan ini. Nami memindah pandangan ke arah lain. Ia tidak ingin menonton saat pria ini menunjukkan wajah sedihnya.


Sesaat hening.


"Ternyata Vera menjebakku, Nami," ungkap Rico. Nami menoleh. Terkejut. Pria itu tertunduk. Namun kemudian segera kembali mendongak. "Tahukah kamu bahwa wanita itu sengaja mendekatiku untuk memisahkan kita berdua?" Wajah Rico tampak tersakiti.


Nami tidak menjawab. Ia sedang berdialog dengan pikirannya sendiri. Jadi Rico tahu kalau Vera memang merencanakan pengkhianatan ini?


"Vera dan mama sengaja merancang rencana mendekatiku, agar mereka bisa menguasai ku. Mereka menipuku, Nami." Rico tampak marah dan juga bingung. "Bagaimana Vera tahu tentang hubungan kita? Dia pasti mengawasi mu, Nami." Rico tidak habis pikir. Karena hubungan rahasia ini bisa di ketahui oleh Vera si wanita licik itu.


Nami lega, juga kasihan pada Rico mendengar kebusukan mereka.


"Aku tidak pernah mengenalkan kamu pada keluargaku. Jika itu bocor, mungkin Vera memang memata-matai aku. Terlepas dari itu semua ... kenapa kamu harus membahas ini? Bukankah sudah aku katakan, kisah kita berdua sudah usai Rico." Nami bicara dengan tenang.


"Aku marah Nami. Aku marah, karena harus hidup dengan wanita licik itu dan ..."


"Bukankah ini semua karena ulah mu sendiri?" potong Nami. Rico berdecih. Mulutnya tidak bisa membantah. "Aku tidak pernah memintamu untuk berkhianat. Aku tidak pernah memintamu untuk tidur dengan Vera. Aku juga tidak meminta kita berpisah. Di sini yang paling tersakiti aku, Rico," ujar Nami dengan tatap mata tenang.


"Aku tahu. Maafkan aku, Nami." Rico mengusap wajahnya. Ia juga lelah sepertinya.


Nami menghela napas lelah. Terus saja Rico memutar kembali memori soal hubungan mereka berdua. Kini dia ingat lagi kalau Yugi juga tahu soal hubungannya dengan Rico, tapi darimana?


"Ada masalah, sayang?" Sebuah suara membuat mereka menoleh. Baru saja di pikirkan, Yugi sudah muncul didepannya.


..._______...


__ADS_1


__ADS_2