Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 95 : Masih mencoba


__ADS_3

Bola mata Nami mengerjap. Dia menggigit bibirnya lembut mendengar Yugi meyakinkannya. Yugi merapikan anak rambut yang jatuh mengenai pipi istrinya.


"Aku punya keluarga juga. Tentu tidak rela jika keluarga kita masuk ke dalam penjara. Apalagi itu karena kita yang menuntutnya. Namun ingat, Nami. Mereka melakukan itu dengan keadaan sadar." Yugi terus membujuk Nami untuk setuju menuntut keluarganya.


"Aku sebagai suami kamu, tentu tidak ingin melihat istriku terus menerus di ganggu oleh kedua orang itu. Aku harus bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan istri dan anakku. Mereka tidak mempan hanya di beritahu dan di peringati. Mereka itu butuh di hukum. Caranya adalah seperti ini. Membuat mereka di penjara juga salah satu cara untuk menyadarkan mereka."


Nami menghela napas panjang. Lalu menatap suaminya lagi setelah menunduk mendengarkan suaminya bicara.


"Aku sangat tahu mereka begitu jahat ke aku. Sampai aku harus melahirkan prematur. Juga banyak hal lain yang menyakitiku sebelum ini, tapi aku ini sudah punya hutang budi begitu banyak pada mama, Mas. Itu yang terberat," ucap Nami menjelaskan. "Benar kata mama. Tanpa mama, aku tidak akan menjadi siapa-siapa."


"Ya, iya. Itu juga benar, tapi apa aku harus diam saat kamu terus saja di ganggu mereka? Hanya membiarkan saja tanpa ada tindakan apapun?"


Nami diam menggigit bibirnya lagi.

__ADS_1


"Aku begitu menyayangimu, istriku. Maka dari itu aku cukup bersabar membiarkan mereka selalu melakukan hal buruk padamu karena peduli pada perasaan mu. Mereka kan keluarga kamu."


"Terima kasih sudah mempedulikan perasaanku meski sebenarnya Mas Yugi ingin sekali menghukum mereka."


"Tentu saja aku peduli padamu." Yugi mengelus pipi istrinya. "Selain ini cara untuk menghukum mereka, tuntutan ini juga sebagai cara untuk mengetahui seberapa besar rasa ingin mereka melihat kamu terluka dan hancur. Ingat, orang tidak cepat berubah sayang."


Nami diam. Ia menatap Yugi lalu melihat yang lain. Raut wajahnya seperti sedang berpikir keras.


"Kenapa?" tanya Yugi merasa heran.


"Sekilas tadi aku memikirkan sesuatu."


"Apa itu?" tanya Yugi ingin tahu. Suasana berubah. Nami lebih rileks. Itu terlihat dari bahunya yang tidak lagi terlihat kaku.

__ADS_1


"Jika ini cara mengetes mereka, apa masih peduli padaku sebagai keluarga atau tidak, tentu saja mereka tidak akan lulus. Karena apa? Karena sebenarnya yang membuat mereka makin membenciku adalah Mas Yugi sendiri," tuding Nami seraya menunjuk hidung suaminya sayang.


"Aku?"


"Iya. Karena Mas Yugi jadi suamiku, Vera yang gagal mempertahankan pernikahannya dengan Rico mulai melampiaskan marahnya padaku. Apalagi ketika mereka tahu kalau Mas Yugi lebih baik dari Rico," kata Nami.


"Oh, maafkan aku soal itu." Yugi menepuk keningnya sendiri. Nami tersenyum seraya menggenggam tangan Yugi.


"Sepertinya aku memang harus membiarkan Mas Yugi menghukum mereka. Lagipula sepertinya seumur hidup mereka tetap akan membenciku," kata Nami seraya menatap Yugi dengan teduh.


"Kamu setuju?" tanya Yugi sumringah. Kepala Nami mengangguk pelan. "Oh, sayang ..." Yugi memeluk istrinya. "Memang mungkin benar mereka akan tetap membenci mu seumur hidup. Karena aku juga akan selalu mencintai mu, Nami. Jadi mereka akan selalu melihat kita berdua bahagia. Itu akan membuat mereka makin menggila melihat itu." Tiba-tiba mengecup bibir Nami lembut. Kemudian keduanya tersenyum bersamaan.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2