
"Aku pertama kali bertemu dia di depan rumahnya," kata Yugi tiba-tiba. Nami kini menoleh cepat pada Yugi.
Di depan rumah? Kapan? Oh, mungkin saat pertama kali dia datang ke rumah keluargaku dengan Vera. Kenapa harus bahas itu? Lebih baik cari ide lain kan? sungut Nami di dalam hati. Namun dia juga tidak tahu harus bicara apa. Karena mereka bukanlah pasangan biasa. Mereka menjadi pasangan karena terpaksa.
"Di depan rumah? Kamu memata-matai dia?" tanya Reno curiga. Yugi tersenyum.
"Sedikit. Aku mengenalnya dari seorang teman. Nami itu memang sedikit cuek, tapi perhatian," kata Yugi yang diyakininya sedang berbohong.
Hah? Kapan aku begitu? Nami terkejut sendiri dengan pujian Yugi. Dia hanya mampu tersenyum. Entah senyuman untuk apa. Atau mungkin senyuman karena bahagia di puji oleh pria ini?
Sifa mendengus.
Nami mendengar lagi. Bola matanya melirik ke arah teman kerja Yugi. Ia yakin perempuan ini tidak senang dengan semua hal yang di katakan Yugi tentangnya.
"Jadi pertama kali bertemu, kamu langsung tahu dia perhatian?" tanya Sifa. Yugi menatap Sifa. Reno menyenggol lengan perempuan ini lagi. Seperti tidak setuju jika Sifa bertanya. Karena dia tahu, perempuan ini hanya sedang menginterogasi.
"Ya. Aku bisa melihatnya," sahut Yugi.
"Jadi Nami ... Apa kamu juga begitu pada Yugi?" tanya Sifa bagaikan nyonya besar yang sedang mewawancarai calon istri puteranya.
"Kamu tanya apa sih?" Reno tidak tahan. Dia mulai geram. Karena mengunjungi rumah Yugi juga karena dirinya. Yugi paham perempuan ini sedang menguji istrinya.
"Sebaiknya kamu ..."
"Apa jawabanku akan membuat kamu puas?" tanya Nami. Kalimat Yugi tertahan. Tangan Nami menahan Yugi untuk tidak melanjutkan bicara. Dia ingin menjawab pertanyaan perempuan ini sendiri.
Sifa mengerjap.
Nami tersenyum. "Aku pikir jawaban apa saja akan tetap membuat kamu tidak puas."
Yugi menatap Nami dengan senyuman di bibirnya. Senyuman itu tanda wanita ini siap menyerang Sifa.
"Apa maksud kamu?" tanya Sifa mengernyitkan keningnya.
"Aku akan menjawab pertanyaan mu. Tidak. Aku tidak seperti apa yang Yugi pikirkan. Aku ini bukan perempuan yang perhatian. Lalu, aku juga tidak yakin bagaimana hatinya padaku. Namun setelah kita menikah, aku jadi tahu ... pria ini begitu perhatian pada istrinya. Dia pria baik yang mampu membuat aku sadar bahwa mungkin dia memang datang untuk mencintaiku," kata Nami yang langsung membuat Sifa terdiam.
__ADS_1
Bahkan membuat Yugi terkesima dengan penuturan itu. Ini pertama kalinya ia mendengar isi dalam kepala perempuan itu.
"Jadi apa perlu kamu tes lagi bagaimana sebenarnya hubungan kita berdua?" imbuh Nami.
Sifa dan Reno terkejut istri Yugi tahu sedang di awasi. Yugi sendiri terkejut. Kepalanya langsung menoleh pada temannya itu. Sifa menipiskan bibir dan panik. Yugi tahu Sifa tertarik padanya. Namun dia tidak menduga tujuan pertanyaan Sifa adalah ingin tahu bagaimanakah hubungan dia dengan Nami.
"Mungkin mengejutkan Yugi menikah denganku secara mendadak. Aku yakin banyak hal yang ada di benak kalian semua. Namun aku yakinkan, kalaupun ada sesuatu di antara kita berdua, Yugi dan aku mungkin akan berusaha mencari jalan terbaik untuk tetap bersama." Nami makin yakin bahwa Sifa ada rasa pada Yugi. Jadi apa yang dikatakannya juga sebagai bentuk peringatan bagi perempuan itu untuk tidak mengusik dirinya dan Yugi.
Yugi melirik. Nami tidak tahu bibir pria ini tengah tersenyum mendengar semua kalimatnya. Sorot mata tajamnya hilang saat ia mendengar itu.
...***...
"Terima kasih atas makanannya, Pak Yugi."
"Ya." Yugi senang semua menikmati penyambutannya.
"Terima kasih untuk Nyonya Yugi," kata Reno.
"Panggil saja Nami," kata Nami tidak ingin di panggil Nyonya. Apalagi ada embel-embel nama Yugi di belakangnya. Ia sedikit malu mendengarnya. Sifa hanya diam saja. Setelah kalimat telak tadi, dia enggan bicara.
"Hati-hati di jalan," pesan Nami. Semuanya pun melambaikan tangan. Nami juga melambaikan tangan.
"Terima kasih," ujar Yugi pada Nami. Mereka masih di depan pintu. Masih menatap rekan kerja Yugi.
"Soal apa?" tanya Nami belum mengalihkan pandangan dari mereka yang belum jauh dari rumah.
"Menerima mereka dengan tangan terbuka."
"Kamu sendiri bilang, kalau aku bukan orang jahat yang menolak tamu datang, Yugi. Jadi tidak perlu berterima kasih. Kamu anggap saja aku juga sedang menerima tamu ku. Ayo masuk. Udara mulai dingin," ajak Nami.
Yugi mengikuti langkah Nami di belakang.
"Aku lelah. Apa sebaiknya kita langsung tidur tanpa membereskan perabot kotor di dapur?" tawar Nami yang langsung menjatuhkan badannya di sofa depan tv.
"Kamu bisa tidur lebih dulu. Aku yang akan membereskan barang kotor di dapur," kata Yugi mempersilakan perempuan ini istirahat.
__ADS_1
"Kalau kamu masih bersih-bersih, aku juga akan ikut. Tidak enak kalau aku tidur sementara kamu masih membereskan rumah, tapi ... bisa sebentar lagi saja?" tawar Nami seraya meletakkan kepalanya pada badan sofa. Kemudian memejamkan mata.
Yugi mendekat dan duduk di sofa dengan pelan. Dia tidak ingin mengganggu perempuan ini. Dengan mata berbinar, Yugi menatap Nami. Perempuan ini tidak mengerti sorot mata yang di tunjukkan Yugi sekarang. Bola mata itu mengandung banyak cinta.
"Sebaiknya kita ..." Nami bicara sambil menggerakkan kepala dan membuka matanya. Pada saat ini dia terkejut melihat Yugi yang tersenyum hangat tengah menatapnya. Bahkan saat dia mengerjapkan mata karena bingung pun, Yugi masih menatapnya dengan takjub. "Sebaiknya kita cuci piring sekarang, Yugi."
Nami memilih langsung bangkit dan menjauh. Yugi tersenyum mendapati Nami yang berdecak gugup karena tatapannya barusan.
"Ya. Lebih baik kita segera cuci piring." Yugi pun bangkit dan mendekat pada Nami yang sudah berada di dekat bak cuci.
..._____...
Di luar rumah. Tepatnya saat mobil melaju untuk pulang, Reno melirik pada Sifa yang sejak tadi diam.
"Kenapa diam? Bukannya kamu selalu saja bicara soal Yugi dan istrinya yang mencurigakan," cibir Reno.
"Sepertinya aku harus melepas Yugi, Ren."
"Seperti yang sudah aku bilang, tapi kenapa? Apa mereka lulus tes darimu untuk jadi pasangan?" tanya Reno yang senang sekaligus heran.
"Untuk si perempuan, aku rasa dia tidak tahu bahwa ada hal berharga di depannya. Mungkin bukan sekarang ia sadar, tapi sepertinya sebentar lagi," kata Sifa mengomentari Nami. Reno mengangguk.
"Jadi ini soal Nami. Lalu Yugi?" tanya Reno penasaran.
"Kamu tidak lihat dia begitu bahagia kita datang kerumahnya."
"Ya, dia memang senang berteman dengan banyak orang." Reno paham soal Yugi yang pintar bergaul dengan banyak orang.
"Bukan itu," bantah Sifa.
"Lalu apa?"
..._____...
__ADS_1