Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 32 : Yugi geram


__ADS_3

Yugi ikut melihat ke arah mertuanya itu. Lalu mengangguk sopan.


"Aku mau bicara dulu sama mama, ya?" Nami meminta waktu. Mereka bertiga mengangguk.


"Kalau gitu kita cabut ya." Mereka memilih menghentikan obrolan dan pulang.


"Oh, iya. Enggak makan dan minum dulu?" tawar Nami.


"Sudah tadi. Tante, kita pulang," pamit mereka pada Mama Nami. Beliau mengangguk.


"Mama ingin bicara," kata Mama.


"Iya. Silakan mama bicara," kata Nami mempersilakan.

__ADS_1


"Mama ingin bicara berdua saja," ujar mama membuat Nami heran. Ia menoleh ke Yugi sebentar. Dia tidak ingin mengikuti ajakan mamanya. "Maaf ya Yugi. Mama mau ngomong soal keluarga. Enggak apa-apa kan mama bawa Nami sebentar?" Mama menyerobot bicara.


"Iya, boleh." Yugi ragu, tapi ia tidak bisa menolak permintaan mertuanya. Itu tidak sopan. Setelah mengatakan itu Nami dan mertuanya menjauh. Terlihat dari gerakan mertua, perempuan paruh baya itu tengah tergesa-gesa. Ada apa sebenarnya?


Meski bingung untuk apa dia di ajak ke ruangan ini, Nami tetap mengikuti. Sampai di suatu ruangan, yang sepertinya di gunakan untuk tempat istirahat, Mama berhenti melangkah.


Mama membalikkan badan. Kini beliau menatap Nami. Degup jantung Nami tidak tenang. Hatinya mengatakan ada firasat buruk sebentar lagi. Karena dari sekian banyak mama mengajaknya bicara, belakangan ini adalah yang paling sulit. Obrolan dengan mama selalu tentang hal yang tidak menyenangkan.


"Kamu tahu banyak undangan dari kolega Rico di sini. Jadi mama harap kamu jangan bicara apapun soal Rico," kata Mama membuat Nami mengernyitkan alis.


"Kamu mantannya Rico, bukan?" tanya mama mengejutkan. Ini membuat dua bola mata Nami melebar. Dengan wajah tidak percaya, bibir Nami bergerak mengeluarkan suara.


"Mama ... tahu soal ... Rico dan Nami?" tanya Nami dengan tersendat-sendat. Bahkan dia sangat terkejut. Sampai-sampai tubuhnya gemetaran. Mama membuang muka. Seperti sudah kelepasan bicara. Namun beliau tetap bersikap seolah tidak ada yang salah dengan semua ini.

__ADS_1


"Mama ini sedang ngasih kamu nasehat," kilah mama malah ingin marah. "Mulut kamu di kunci, jangan sampai membicarakan semua hal yang kamu ketahui tentang Rico. Karena mama enggak mau orang-orang tahu Rico itu bekas kamu," tunjuk mama membuat Nami menatap tidak percaya.


"Bekas Nami? Kalau mama enggak mau punya menantu bekas mantan kekasih Nami, seharusnya jangan nikahkan Vera dengan dia," jawab Nami dengan dingin dan getir.


"Aduh, Nami. Kamu kan sedang mama nasehati. Kenapa malah begitu? Umur kamu itu sudah tua daripada Vera. Seharusnya kamu kan lebih mengerti bagaimana ngomong yang baik sama mama. Kenapa malah ngomongnya begitu?" tegur mama tidak suka.


Mata Nami terasa panas. Bibirnya kelu tidak bisa bicara.


“Aku pikir Nami bukan bicara tidak baik, Ma. Hanya saja ... Meminta Nami jangan bicara macam-macam soal Rico itu keterlaluan.” Tiba-tiba Yugi muncul dari balik pintu yang tidak di tutup dengan rapat.


“Yugi?” Mama terkejut. Ternyata pria ini mengikuti Nami. Ia khawatir dengan istrinya. Lalu Yugi mendekati Nami yang menunduk.


“Bukan salah Nami kalau Rico itu mantannya dan bertemu di sini. Itu semua tidak sengaja di rencanakan. Mereka berdua menjalin kasih lebih dulu jauh sebelum Vera dan Rico.” Yugi tidak tahan lagi dengan kelakuan mertuanya.

__ADS_1


...________...



__ADS_2