Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 89 : Memastikan


__ADS_3

"Tidak apa-apa. Kamu sudah di sini bersama suami mu. Mereka tidak akan melakukannya lagi padamu," kata Bunda. Nami mengangguk pelan.


Yugi menatap istrinya. Dia tahu Nami mungkin ingin membagi sekarang.


"Sudah. Semuanya sudah berlalu," ujar Yugi menghentikan suasana yang mengharu biru ini.


Pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk lalu berkata, "Maaf, dokter meminta Anda untuk ke ruangannya."


"Oh, baiklah. Kebetulan ada Bunda dan Mbak Yana. Aku tinggal dulu, ya. Kalian bisa temani Nami," kata Yugi.


"Bunda ikut. Bunda mau melihat bayi kalian," kata Bunda langsung mendekat pada putranya.


"Iya, biar aku yang jaga." Mbak Yana langsung berinisiatif.


"Oh, baiklah." Yugi dan Bunda keluar dari ruangan karena dokter memanggilnya soal putranya. Mama ikut karena juga ingin melihat cucunya. Di kamar tinggal Yana yang duduk di sofa dekat ranjang.

__ADS_1


Suasana tidak nyaman karena Nami mengungkap fakta soal siapa sebenarnya yang menyerang dirinya hingga dia harus melahirkan bayi secara prematur, sudah mulai pudar.


"Kenapa keluarga mu melakukan itu, Nami? Meskipun aku coba mengerti tetap saja aku tidak paham." Mbak Yana sungguh gigih ingin bertanya alasan dari keluarga Nami. Perempuan ini mengerjapkan mata. Nami merasa aneh dengan pertanyaan itu.


"Maaf sebelumnya jika aku bertanya seperti ini padamu." Yana tahu ini akan terasa aneh, tapi dia sangat ingin tahu. "Tapi aku sangat penasaran, Nami. Karena kejadian ini bukan kejadian biasa." Yana tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Mbak Yana enggak tahu?" tanya Nami heran.


"Ah tidak. Kenapa? Apa kamu pikir Yugi sudah mengatakannya?" tanya Yana balik.


"Tidak. Yugi tidak mengatakan apa-apa Nami. Bunda dan aku ini tidak tahu menahu soal kejadian ini. Yugi itu tidak memberitahu sama sekali soal kejadian dengan keluarga mu." Yana meyakinkan kalau dia memang tidak tahu soal kenapa keluarga Nami.


"Bukankah Mbak Yana telah mengenal mereka jauh sebelum mengenalku?" tanya Nami.


"Mengenal siapa? Mengenal keluarga mu?" tanya Yana menegaskan bahwa telinganya mendengar dengan baik apa yang di tanyakan Nami.

__ADS_1


"Ya. Apalagi Vera adikku." Nami sebenarnya tidak ingin membicarakan soal Vera dan Yugi dulu. Karena itu juga mengingatkan dia tentang pernikahan paksa yang ia lakukan demi Vera. Namun ini karena terpaksa.


Kening Yana mengerut. Ada yang tidak dipahaminya di sini.


"Tidak. Aku tidak pernah mengenal keluarga mu lebih dulu. Apalagi adikmu itu. Aku belum pernah mengenal mereka sebelumnya, Nami," kata Mbak Yana menggelengkan kepala.


Kini giliran Nami yang mengerutkan keningnya. Ia merasa ada yang aneh. "Mbak Yana benar enggak kenal dengan Vera sebelum aku menikah dengan Mas Yugi?"


"Iya. Yugi memang agak lain sih. Dia tidak pernah mengenalkan kamu pada keluarganya lebih dulu, tapi langsung mengajak menikah. Bahkan kita saja belum di kenalkan pada keluarga kamu juga sebelum menikah itu." Yana menipiskan bibirnya membentuk cibiran sebagai bentuk protes pada keputusan adiknya.


Nami melebarkan mata terkejut. Dadanya juga bergemuruh kencang mendengar itu. Ini berbeda dengan yang pernah mama ceritakan pada ku, batin Nami.


"Bukankah Mas Yugi pernah menjalin kasih dengan adikku, Mbak?" tanya Nami memastikan.


"Yugi? Dengan adikmu? Benarkah? Kok Mbak baru tahu ya?" Mbak Yana menggaruk dagunya. Keningnya pun mengerut lagi. Dia sedang berpikir. Lagi-lagi Nami melebarkan bola matanya lagi. Ada banyak hal tidak mengerti disini.

__ADS_1


...____...


__ADS_2