
Berangkat kerja tadi, Nami merasa sangat bersemangat. Apalagi dia mendapat kecupan di pagi hari sebelum turun dari mobil. Juga sebuah pelukan yang membuatnya tidak ingin lepas dari dada bidang itu. Ini membuat hidup Nami makin ceria.
Namun saat seorang perempuan tersenyum menyapanya, Nami merasa semangatnya menurun.
"Hai, Mbak Nami," sapa perempuan itu dengan senyum angkuh. Nami melebarkan matanya melihat Vera muncul di tempatnya bekerja. Namun ia tetap mencoba bersikap tenang.
“Oh, kamu Ver.” Nami meresponnya dengan datar. Dia malas menanggapi.
"Semoga hari-hari Mbak Nami juga bahagia seperti aku. Aku masuk dulu. Kita bertemu di dalam ya ..." Vera melambaikan tangan dan mengatakan sesuatu yang tidak di mengerti Nami.
"Bertemu di dalam? Dia memang sudah mirip nyonya besar. Mungkin itu yang di incar Vera dari Rico." Nami menggelengkan kepala.
Mungkin tidak salah jika Vera muncul di perusahaan ini karena dia adalah istri manajer. Namun sepertinya ada hal lain yang menjadi alasan perempuan ini berada di kantor pagi-pagi. Hal yang tidak di sangka Nami.
"Mulai dari sekarang, istriku akan bekerja disini." Kalimat Rico membuat Nami melebarkan bola matanya sekilas tadi. Dia yakin pasti akan ada banyak hal yang akan terjadi. Beberapa temannya juga ikut melebarkan mata mendengar itu.
Hari pertama kerja saja Vera sudah jadi obrolan yang negatif di kantin perusahaan oleh teman-teman Nami.
"Kenapa Vera jadi ikut kerja di sini?" sungut Ina memulai percakapan tentang Vera.
"Iya. Enggak banget. Lagaknya juga bikin sebal. Aku baru tahu kalau dia begitu menyebalkan." Mila menimpali.
“Jadi sekarang Vera ada di ruangan kalian?” tanya Yuli yang beda divisi terkejut. Ina dan Mila mengangguk dengan wajah kesal.
Nami hanya mengaduk esnya dan meneguknya perlahan. Ia tidak mengatakan apa-apa terkait adiknya. Dia bungkam. Tidak ingin ikut bicara.
"Jika melihat kisah dia yang membuat kamu akhirnya menikah dengan Yugi, dia itu pasti sangat menyebalkan. Kita jadi tahu sifat adik kamu itu dengan mata kepala sendiri," imbuh Mila.
Yuli melirik ke arah Nami. "Kalian berhenti bicara soal Vera, kasihan Nami kalau harus terus mendengar omelan kalian soal itu." Yuli menasehati.
__ADS_1
"Aku enggak apa-apa, Yul. Biar saja." Nami bicara. Dia memang tidak peduli lagi soal Vera dan Rico. "Apapun cerita tentang Vera dan Rico aku enggak peduli. Aku sudah cukup bahagia dengan suamiku."
"Syukurlah kalau begitu," kata Yuli.
"Eit, aku mencium bau-bau ada yang baru nih," celetuk Mila. Semua menoleh ke Mila dengan heran.
"Maksudnya apaan Mil?" tanya Ina.
"Kalian enggak dengar gimana Nami menyebut Yugi sekarang?" Mila menemukan sesuatu tadi. Yuli dan Ina menoleh pada Nami. Perempuan ini melirik ke kanan dan ke kiri merasa heran juga. Ia tidak merasa ada yang aneh dengan caranya bicara.
"Kok enggak ngeh akunya? Apa sih?" tanya Ina.
"Ih, kamu ini ... Nami itu sekarang seperti sudah menerima sepenuhnya Yugi sebagai suami. Dengar saja tadi saat dia bilang suamiku. Kalian sadar enggak kalau Nami jarang menyebut kata 'suamiku'?" Berkat penyelidikan Mila semua pun menatap Nami agak lalu menganggukkan kepala setuju. Nami pun menipiskan bibir cemas.
"Kalian ada kemajuan ya?" tanya Yuli sambil senyum. Dimana ini langsung membuat Nami tegang.
"Jangan-jangan kalian sudah melakukannya. Iya kan?" tebak Mila membuat Nami melebarkan mata sekejap. Ia mengerjapkan mata berulang kali. "Benarkan?" desak Mila. Ina dan Yuli pun ikut memfokuskan mata mereka pada perempuan ini.
"Entahlah," sahut Nami seraya mengalihkan pandangan ke arah lain. Yang lain pun langsung melihat temannya yang satu ini dengan pandangan curiga. Apalagi wajah Nami memerah tanpa sadar. Karena otomatis ia ingat penyatuan mereka berdua. Ini makin memperkuat dugaan mereka bahwa Nami sudah melakukan malam pertama.
"Namiiiii ..." Tanpa konfirmasi lagi, mereka yakin Nami sudah melakukannya. Mila dan Ina pun memeluk perempuan ini. Yuli mengerjapkan mata mendapat fakta itu. Mereka pun beranjak dari kursi untuk memutar dan mendekat ke kursi Nami untuk memeluknya.
"Apa sih?" teriak Nami kacau dibuatnya. Karena gemas, mereka mencubit pipi Nami. Yuli akhirnya tersenyum.
"Ih, ni bocah sudah merasakan surga dunia nih ye ...," kata Mila dengan pandangan menggoda. Itu telak sekali. Nami malu sekali.
"Iya nih. Nami sudah mulai ehem-ehem." Ina pun meledek. Nami habis-habisan dibully temannya. "Eh, sekarang bukan bocah lagi Mil. Dia itu seorang wanita," imbuh Ina. Mila mengangguk setuju.
"Sudah. Duduk lagi dengan tenang. Nami bakal cerita kalau kalian duduk." Yuli memberi nasehat. Lalu mereka kembali duduk di kursi mereka. Namun kali ini mereka menariknya mendekat, agar bisa mendengar Nami menceritakan soal itu dengan jelas.
__ADS_1
"Gimana rasanya, Na? Merinding disko enggak?" tanya Mila dengan alisnya naik turun. Godaan berat nih untuk tidak merah merona
"Ya pasti dong Mil. Lihat mukanya aja merah pasti asoy tuh," imbuh Ina di sambut tawa Mila. Wajah Nami menjadi merah seperti kepiting rebus. Malu sekali.
"Kalian ini sudah tahu rasanya begitu, masih aja nanya," sungut Nami malu-malu. Mereka pun tertawa.
"Wahhh bakal ada Nami dan Yugi junior nih." Yuli nyeletuk.
"Pasti. Apalagi Yugi sepertinya tokcer. Pasti langsung jadi itu," timpal Mila membuat Nami tersipu. Ina pun menepuk lengan Nami sambil tertawa karena dia juga merasa merinding disko mendengar kalimat Mila.
"Jadi kamu memutuskan untuk mencintainya?" tanya Yuli. Ini pembicaraan yang sangat dalam. Biasa, Yuli kalau ngomong berbobot. Beda dengan dua orang tadi yang isinya rese doang, tapi ada benarnya juga.
"Ya. Dia cukup baik dalam menjalankan perannya jadi suamiku. Aku merasa sepantasnya aku membalas kebaikan itu juga dengan cinta," kata Nami.
"Bukan hanya baik. Dia juga tampan, keren dan muda. Apalagi coba yang tidak ada pada Yugi? Baiknya itu memang kamu mencintainya seperti yang kami bilang. Kamu pantas memilikinya meski dengan jalan sulit, Nami," kata Mila bijak.
"Tumben bicaranya mirip orang bijak," ledek Nami.
"Ye ... aku kan juga punya otak, Nami." Mila membela dirinya sendiri. Semuanya pun tertawa. Saat itu Vera melintas dengan Rico.
"Mereka pasti habis makan siang di restoran. Si Vera kan kayak enggak mau makan si tempat beginian." Ina mencibir. Mila setuju.
"Kalian berdua gimana kalau bertemu?" tanya Yuli.
"Aku dan Vera maksud kamu?" tanya Nami. Yuli mengangguk. "Ya seperti yang kalian lihat tadi. Dia mirip orang asing denganku. Bukan seperti Vera yang dulu."
...______...
__ADS_1