Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 49 : Kejutan di Jamuan makan


__ADS_3

Ada jamuan makan dengan pihak advertising membahas produk mobil keluaran milik perusahaan tempat Nami bekerja. Sebenarnya hanya Nami dan Rico saja yang menemui mereka, tapi entah kenapa Vera juga muncul siang ini. Pasti perempuan ini yang memaksa ikut. Nami tidak keberatan. Toh, yang akan bicara dengan orang perusahaan advertising adalah dia.


Pertemuan di adakan di rumah makan yang sudah di siapkan pihak sana. Nami hanya cukup datang saja. Ternyata dari pihak sana hanya ada satu orang. Nami mengerjap melihat orang itu.


"Selamat datang Pak Rico," sambut pria itu. Pria itu bersalaman dengan Rico. "Ini ... istri Anda?" tanya pria itu saat melihat Vera.


"Ya. Maafkan aku mendadak memberi tahu kalau membawa istriku," kata Rico sambil menoleh pada Vera sebentar. Perempuan ini tersenyum sambil tetap menggandeng lengan Rico.


"Ya. Aku Vera. Istri Rico," kata Vera seraya mengulurkan lengannya. Mereka pun bersalaman.


"Silahkan duduk."


"Apa CEO kamu tidak akan datang?" tanya Rico.


"Oh, ya. Dia akan datang sebentar lagi. Sekarang masih ada tamu juga."


"Oh, begitu." Rico memaklumi. Dia mengerti itu karena sudah mendengar reputasi perusahaan advertising yang akan bekerja sama dengannya. Mereka lumayan punya jadwal yang padat.


"Sibuk sekali ya," celetuk Vera merasa atasan mereka tidak terlalu mempedulikan kerjasama ini. Rico mengerjapkan mata mendengar itu.


"Maafkan kami. Ini waktunya memang bersamaan dengan banyak perusahaan. Saya sudah memberitahu pada Pak Rico." Pria itu merasa bersalah.


"Tidak-tidak. Aku yang ingin segera bertemu dengan kalian. Jadi bersedia menunggu untuk orang yang penuh kreatifitas di balik hasil karya kalian. Aku siap menunggu." Rico melirik ke Vera yang mengangkat bahunya seakan tidak peduli.


"Lalu ... Oh, Anda?" tanya pria itu terkejut saat melihat Nami. Sebenarnya bukan hanya pria itu, Nami juga terkejut. Bola mata Nami mengedip membentuk kode. Pria itu mengangguk mengerti.


"Reno," kata pria itu mengulurkan tangan. Dia bersikap baru saja bertemu karena permintaan Nami.


"Nami." Perempuan ini menerimanya sambil tersenyum ramah juga canggung dalam waktu bersamaan.


"Silakan duduk," kata Reno. Nami mengangguk. "Nah, itu atasan saya datang." Rico menoleh ke pintu ruangan tempat mereka duduk. Kening Rico membentuk kerutan samar. Vera juga melihat ke arah yang di tunjuk Reno dengan tatapannya.


Deg


Deg


Deg


Meskipun tahu siapa yang akan datang, tetap saja Nami berdebar-debar. Jantungnya terpompa dengan cepat. Bola matanya melebar melihat pria dengan kemeja rapi berwarna pastel itu berjalan memasuki ruangan tempat mereka. Apalagi ketika manik mata pria itu tertuju padanya dan tersenyum hangat.

__ADS_1


Nami tersenyum takjub melihatnya.


"Dia pemilik perusahaan kami," kata Reno memperkenalkan. Sementara itu Vera dan Rico tercengang melihat pria ini.


"Selamat siang," sapa Yugi dengan senyum tenang.


"Mereka adalah manajer dan istrinya," kata Reno mengenalkan.


"Oh ya? Ternyata istri Anda juga ikut. Semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar," ujar Yugi dengan tenang. Namun bagi Vera dan Rico ini adalah sebuah kejutan yang tidak terduga.


"Dan dia ..." Reno ragu untuk mengenalkan. Karena jelas sekali kalau Yugi pasti mengenalnya. Bukankah mereka suami istri?


"Selamat siang nona," ujar Yugi mengulurkan tangan. Nami tahu bola mata itu tengah tersenyum menggoda dirinya.


"Selamat siang," sambut Nami menahan senyum saat mereka berjabat tangan.


Dasar Yugi! Kenapa enggak bilang kalau dia adalah CEO perusahaan advertising? Awas saja nanti pulang kerja.


"Silakan duduk semuanya." Yugi mempersilakan. Semuanya duduk masih terheran-heran. Vera masih menatap Yugi dengan wajah tidak percaya. Dalam benaknya tidak pernah ada pemikiran kalau Yugi itu adalah orang penting. Bahkan seorang CEO. Pemilik perusahaan.


...*****...


"Aku tidak menyangka perusahaan advertising yang terkenal itu adalah milikmu," tegur Rico pada Yugi yang berdiri saat selesai menerima telepon.


"Tidak perlu terkejut. Itu bukan hal besar." Yugi merendah diri. Bola mata Yugi melirik Vera yang sejak tadi memandanginya. Pandangan penuh tanya dan juga syok.


"Aku yakin Nami juga baru tahu itu kamu. Karena dia menunjukkan terkejut tadinya," imbuh Rico.


"Mungkin. Ini kejutan untuknya." Yugi tersenyum. Wanita itu tengah menerima telepon tidak jauh dari mereka. Jadi saat ini mereka hanya bertiga.


"Aku ke toilet dulu, sayang. Tunggu di sini." Rico berpamitan.


"Ya." Setelah punggung pria menghilang, Vera langsung menoleh pada Yugi yang hendak menjauh darinya. "Hei, Yugi." Panggilan Vera mengentikan langkah Yugi yang hendak menuju ke Nami.


Kaki Yugi berhenti.


"Jadi kamu menyembunyikan semua ini dariku? Semuanya?" tegur Vera.


"Soal apa?" tanya Yugi yang tidak mau terlalu berpikir. Dia memilih langsung bertanya.

__ADS_1


"Pekerjaan mu."


"Oh itu."


"Kamu sengaja tidak memberitahuku siapa kamu, kan?" tanya Vera merasa di bohongi.


"Apa yang salah dengan itu? Apakah itu sebuah kejahatan?" tanya Yugi dengan raut wajah mencela.


"I-itu." Vera bingung untuk menjawab.


"Jangan buang tenaga hanya untuk menunjukkan kamu sedang kesal karena baru tahu pekerjaanku, Vera. Apa untungnya menanyakan itu?" Bola mata Yugi melihat Nami yang menjauh dari mereka.


"Karena aku ..."


"Cukup kita bicara. Aku pergi," kata Yugi memilih memotong kalimat Vera dan mendekati Nami. Kakinya melangkah cepat dan menangkap tangan wanita ini. "Sayang," panggil Yugi.


Tubuh Nami berbalik dan menghentikan langkahnya.


"Kenapa pergi tanpa mendekatiku?" tanya Yugi.


"Aku tidak mau mengganggumu."


"Kenapa? Siapa dia membuatmu takut memotong pembicaraan kami?" tanya Yugi terkejut.


"Dia mantan kekasihmu," ujar Nami menusuk. Yugi menghela napas. Dia tahu ada yang tidak beres.


"Kamu cemburu?" pancing Yugi. Nami diam. Yugi tersenyum. "Maafkan aku. Bukannya itu hanya sebuah tata krama pada klien?" Yugi menarik pelan tangan Nami. Wanita ini mengalihkan pandangan ke arah lain. "Hei ... aku sengaja datang setelah tahu itu perusahaan tempat kamu bekerja. Aku ingin bertemu denganmu," ungkap Yugi jujur seraya memaksa dagu Nami menghadap ke arahnya dengan lembut.


Nami mencibir. Perempuan ini tiba-tiba jadi manja. Yugi tidak tahu mengapa, tapi ia suka. Cemburu itu artinya cinta. Manja itu artinya dia nyaman dengan kita. Karena dia berani menunjukkan sifat kekanak-kanakannya.


"Bikin gemas dan ingin bawa pulang aja," kata Yugi seraya mencubit dagu istrinya.


"Belum waktunya pulang kerja. Masih nanti," kata Nami akhirnya tergelak.


"Ayo, aku antar ke kantor," kata Yugi.


"Ya." Nami setuju. Daripada harus satu mobil dengan dua orang itu. Yugi menunjukkan lengannya pada Nami. Pria ini minta lengannya di peluk. Nami tersenyum dan mengikuti keinginan suaminya. Yugi pun terlihat puas melihat istrinya melingkarkan tangan pada lengannya.


...____...

__ADS_1



__ADS_2