
Yugi tersenyum. "Menurutku, itu semua terserah kamu saja sayang ..."
Nami diam lagi. Yugi mengerti apa yang di pikirkan perempuan ini.
"Apa kamu ingin mengatakannya?" tanya Yugi. Nami masih menutup bibirnya. Mungkin dia ragu ingin menjawab. "Katakan saja apa yang ada di dalam benakmu. Aku akan mencoba menerima."
"Bolehkah ... " Nami masih ragu. Padahal Yugi sudah tahu apa yang sedang ada di dalam pikiran istrinya. "Bolehkah aku menjenguk mereka?" tanya Nami.
Yugi tersenyum.
"Boleh."
"Benarkah?" Nami gembira sekali. Ia memeluk Yugi. "Aku pikir kamu akan marah saat aku mengatakan ini."
"Tidak. Aku tidak marah," ujar Yugi. Nami melepas pelukannya. "Aku selalu mendukungmu untuk menjadi orang baik, sayang ..." Yugi mengusap kepala istrinya. "Aku mengijinkan, tapi dengan syarat ... harus selalu dalam pengawasan ku. Kamu boleh kesana hanya denganku."
"Baik. Aku setuju. Terima kasih sayang ..." Nami gembira sekali. Hari ini penuh dengan pelukan dan ciuman. Yugi benar-benar menikmatinya.
"Lagipula, kita memang sebaiknya menjenguk Vera," kata Yugi seraya berjalan memasuki supermarket.
"Kenapa?" tanya Nami heran. Dia mengerutkan keningnya.
"Jangan berpikiran macam-macam." Yugi menekan lembut kening Nami yang mengerut. Nami menipiskan bibir.
"Aku tidak memikirkan apa-apa," kilah Nami.
"Aku rasa kita wajib menjenguk Vera, karena itu ada hubungannya dengan Rico. Bukankah anak Vera itu adalah anak Rico?"
"Lalu?"
"Kita kan sedang menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaannya. Jadi kita wajib datang sebagai rekan bisnis," jelas Yugi.
"Ah, iya. Itu benar." Nami senang. Akhirnya ada alasan lain untuk dirinya ke sana. Langkahnya kembali ringan. Pundaknya tidak berat. "Aku mau beli aprikot dan jeruk. Terus kalau ada, aku juga ingin beli melon jingga."
__ADS_1
"Terserah. Aku akan belikan semua buah jingga yang istriku mau," kata Yugi. Nami tergelak. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Yugi dan makin masuk ke dalam supermarket.
***
Berdasarkan keterangan yang ada di dalam pesan mama, Nami dan Yugi datang ke rumah sakit dengan membawa bingkisan untuk si baby.
Kabarnya Vera masih berada di sana. Langkah mereka agak ragu di lorong karena belum menemukan kamar Vera di rawat. Kepala mereka celingukan membaca nama kamar satu persatu.
"Itu kalian?" tegur seseorang dari belakang. Yugi dan Nami membalikkan badan mereka. "Oh, benar." Ternyata itu Rico. Dia mendekati mereka berdua.
Mereka bersalaman. "Ternyata kamu ada di sini. Istri mu sudah melahirkan?" tanya Yugi.
"Ya. Vera ada di dalam kamar itu." Rico menunjuk kamar yang ada di sebelah kanan mereka.
"Selamat ya," kata Yugi mengulurkan tangan. Mereka berjabat tangan. Nami ikut bersalaman.
"Terima kasih," sahut Rico. Tampaknya pria ini tidak bahagia dengan berita kelahiran anaknya. Yugi melihat ke Nami. Mereka sadar bahwa kelahiran ini seperti tidak di inginkan oleh pria ini.
"Benar." Rico tersenyum sendu. Meskipun sesungguhnya Rico sudah tidak mau menemui Vera, tapi pria ini tahu bahwa ada bayi yang harus di jaga. Dia takut Vera akan melakukan sesuatu pada bayi mereka. Jadi Rico muncul untuk berjaga-jaga. "Ayo masuklah." Rico mempersilakan mereka.
Jika menilik dari kisah mereka, Yugi dan Nami sungguh besar hatinya. Karena Vera dan Rico adalah bekas pengkhianat bagi keduanya.
Namun karena cinta mereka sekarang lebih besar, hal tersebut tidak membuat mereka dendam. Kisah menyakitkan itu di anggap sudah berlalu begitu saja. Kisah lama itu sudah jadi sampah yang tidak berguna di hati mereka.
Namun meskipun begitu, tetap saja datang ke tempat ini adalah suatu tantangan sendiri. Terutama melihat sifat mama.
"Oh, kamu datang?" Mama menyambut mereka dengan antusias. Vera yang ada di atas ranjang melongok. Tidak ada rasa terkejut dari perempuan itu. Sepertinya mama sudah memberitahu kalau Nami di beri kabar ini. "Mama pikir kamu enggak datang, sayang ..."
Sayang? Ada apa ini? Nami berdecih dalam hati.
"Nami orang baik, jadi dia pasti datang," kata Yugi sengaja menyindir. Vera menipiskan bibirnya tidak suka.
Mama agak canggung saat Yugi mengatakan itu. "Kamu bawa sesuatu?" Pertanyaan ini lebih mirip menagih daripada sekedar bertanya. Seakan sengaja menunggu untuk mendapat kan sesuatu.
__ADS_1
"Ah, ya. Ini bingkisan dari kita." Nami menyodorkan sebuah parcel dengan ukuran tanggung pada mama.
"Hanya ini?" tanya Mama melihat ke sisi kanan dan kiri Nami. Apa yang di cari wanita tua ini? Nami tidak mengerti sama sekali.
"Kenapa Ma?" tanya Nami. Meksipun sudah di buang dan tak di anggap anak, Nami tetap memanggilnya mama. Karena yang dia tahu perempuan inilah yang ada di dalam sepanjang hidupnya.
"Maaf jika kado dari kita kurang berkenan." Yugi langsung mengerti maksud mertua angkatnya ini. Nami sungguh tidak enak pada suaminya. Namun Yugi tersenyum padanya untuk menunjukkan kalau dia mengerti dengan semua keadaan ini. Tangannya menepuk lengan Nami samar.
"Mama mencari apa?" tegur Rico dengan suara tegas. Mama berjingkat kaget.
"Kenapa mengejutkan mama, Mas Rico?" Vera tidak setuju.
"Tidak. Tidak ada," kilah mama. Rico menipiskan bibir geram. Ini adalah balasan dari pilihannya berkhianat, yaitu menghadapi dia orang dengan watak yang sama-sama mata duitan.
"Mereka berdua datang saja aku rasa itu sudah sepatutnya kita bersyukur. Apalagi yang mama inginkan?" kata Rico geram.
"Mama kan hanya bertanya, Mas." Vera masih membela mamanya.
"Aku tidak bicara denganmu Vera," ketus Rico. Drama ini selalu terjadi. Yugi dan Nami sudah terlalu tahu itu. Kini mereka sudah bisa mengabaikan.
"Anak kalian laki-laki atau perempuan?" tanya Nami yang langsung memecah ketegangan di antara mereka. Perempuan ini melangkah mendekat ke arah box bayi di samping ranjang. Yugi mengikutinya dari belakang.
"Laki-laki, Nami," sahut Rico karena Vera tetap cemberut di ranjang.
"Benar. Dia tampan," puji Nami seraya menyentuh pipi bayi itu. Yugi ikut melongok ke dalam box dan menemukan wajah bayi yang lucu.
"Ya. Bukankah papanya tampan," kata Vera bangga. Namun tetap ada nada ketus saat bicara. Nami tersenyum tipis. Dia merasa lucu Vera memamerkan ketampanan Rico. Bukankah yang pertama menemukan pria itu adalah dirinya?
"Aku lebih tampan," bisik Yugi mengejutkan. Nami menoleh cepat. Menatap Yugi dengan tatapan takjub. Sempat-sempatnya pria ini mengatakan itu di tengah ketegangan suasana ruang perawatan ini. "Benar kan?" tanya Yugi masih sangat lirih.
"Tentu saja," lirih Nami dengan senyum tersipu. Vera yang tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan, bersungut-sungut. Dia begitu terusik dengan bisik-bisik mereka berdua.
...____...
__ADS_1