
Semua orang ikut tersenyum karena mama Vera sesekali melihat ke arah mereka. Hanya sekedar menanggapi.
"Bisa katakan ada apa sebenarnya mama datang menemui ku?" tanya Nami tidak terpengaruh dengan tipu daya wanita tua ini.
"Apa yang kamu tanyakan, Nami?" tanya mama Vera melebarkan mata jenaka. Beliau tersenyum sambil menyentuh lengan Nami lembut.
Bola mata Nami melirik lengannya yang di sentuh. Biasanya sentuhan mama begitu menenangkannya. Dia senang saat wanita yang di panggilnya mama ini terlihat begitu perhatian. Namun sekarang, semuanya terlihat palsu.
"Mama bisa mengatakan padaku sekarang, ada keperluan apa?" tanya Nami mengulangi pertanyaannya.
Nami sudah tidak bisa di ajak bicara dengan ramah. Dia terlalu sakit hati dengan apa yang mereka lakukan padanya.
"Aduh, Nami ..." Mama kembali tersenyum sambil melihat ke arah orang-orang yang memperhatikan mereka. Menilik dari kejadian yang lalu, mereka perlu hati-hati pada keluarga Nami. Karena bisa jadi kejadian waktu itu terulang lagi.
"Katakan saja sekarang sebelum aku berubah pikiran. Mama ingin sesuatu kan?" desak Nami. Mama menaikkan alis terkejut. Beliau melihat ke sekitar lagi. Nami ikut melihat ke sekitar. Dia tahu bahwa semua sedang melihat ke arah mereka.
"Apa karena mereka melihat kita?" tanya Nami melirik ke orang-orang di sekitarnya.
"Mm ... itu." Mama Vera jadi ragu. Kemungkinan wanita ini malu mengatakannya.
"Baiklah. Kita bicara di luar," kata Nami sambil beranjak berdiri. Dia berjalan keluar. Mama Vera akhirnya mengikutinya.
__ADS_1
Saat itu Sifa yang tidak tenang, muncul di lobi. Semua orang mengangguk sopan.
"Mana Nami?" tanya Sifa pada gadis di meja resepsionis.
"Bu Nami ada di luar."
"Di luar?" tanya Sifa heran. "Siapa tamu Nami?"
"Orangtua Bu Nami. Mamanya," kata gadis di meja resepsionis.
"Mama?!" Sifa terkejut setengah mati. Melihat perangai Vera waktu itu, Sifa langsung berjalan keluar. Dia cemas.
Sampai di luar, Sifa melihat Nami berbincang dengan mama Vera. Ternyata ada sekuriti yang berpura-pura sibuk di sana untuk menemani.
Sifa kembali ke dalam. Namun dia tetap di lobi. Dia tidak tenang. Akhirnya menelepon Reno.
"Sifa, ada apa? Kamu mau mengajakku makan siang?" tanya Reno dengan suara renyah. Sepertinya dia senang Sifa meneleponnya.
"Yugi bersama mu?"
"Aku kecewa ternyata kamu bertanya tentang Yugi." Reno menunjukkan kekecewaannya dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Bukan soal itu. Aku tidak lagi tertarik dengan pria itu." Topik melenceng. Sifa jadi terpengaruh oleh Reno.
"Benarkah?"
"Jangan membahas itu Reno," geram Sifa. "Ada hal penting. Yugi dengan kamu?" tanya Sifa lagi.
"Ya. Dia ada di kursinya."
"Dengarkan aku. Jangan bicara dulu pada Yugi. Ada mama Vera di sini. Aku sedang mengawasinya," kata Sifa.
"Ma ..." Reno menoleh pada Yugi yang serius dengan ponselnya. "Lalu?"
"Sebelum ada sesuatu, pastikan Yugi jangan turun."
"Reno! Aku akan turun!" kata Yugi membuat Reno terkejut.
"Mau makan siang?" tanya Reno.
"Ada mama Vera di bawah. Aku harus ke sana untuk menjaga Nami. Ibu dan anak itu sungguh merepotkan," kata Yugi geram. Tanpa bicara lagi, Yugi pergi. Reno segera ikut.
"Yugi mau turun?" tanya Sifa yang mendengar suara Yugi.
__ADS_1
"Ya. Mungkin lebih baik. Untuk menjaga Nami dari dua manusia jahat itu," kata Reno.
...____...