
Acara jalan-jalan mereka terlaksana selesai sarapan.
"Kapan kita ke rumah, bunda?" tanya Nami sambil menyuapkan es campur durian kesukaannya ke dalam mulut.
"Kenapa? Kamu ingin kesana?"
Kepala Nami mengangguk. "Ya. Aku ingin makan masakan bunda. Mau?" tawar Nami menunjukkan es campur miliknya. Yugi menganggukkan kepala. Lalu mendekatkan mulutnya pada sendok Nami. "Enak kan?" tanya Nami ingin tahu.
"Lumayanlah. Mau menginap juga?" tawar Yugi.
"Boleh." Nami tersenyum. Menurutnya ia juga harus memperhatikan mertua. Bagaimanapun mereka sudah berbaik hati menerima dirinya sebagai menantu padahal itu semestinya adalah Vera.
Saat itu, ada dua orang yang sedang berjalan sambil menoleh ke arah mereka.
"Kalian di sini?" tanya Rico. Vera yang ada di sampingnya menoleh. Namun bukan wajah ramah yang ia tunjukkan. Wanita itu menunjukkan wajah tidak suka. Tentu saja begitu.
"Ya, kita di sini." Yugi menyahuti dengan ramah. Meskipun dia sejujurnya tidak senang dengan mereka berdua, tapi dia tidak langsung menunjukkan rasa bencinya.
"Kita pesan es di sini juga. Kamu kan lagi nyari es campur," kata Rico menunjuk tempat Nami dan Yugi. Vera meringis tidak setuju.
"Kenapa di sini? Kita kan bisa beli minuman di gedung itu. Resto yang ada di lantai lima itu," tunjuk Vera pada gedung tinggi dengan eksterior mewah. Perempuan ini selalu menginginkan hal yang mewah.
__ADS_1
"Di sini lebih bagus. Kita bisa gabung juga dengan mereka."
"Gabung? Kita kan datang sendiri sendiri, kenapa tiba-tiba saja harus gabung?" sungut Vera kesal. Apapun tentang Nami selalu membuat Vera kesal setengah mati.
"Ayolah Vera. Lagipula Nami itu Mbak kamu. Kan kita akan lebih akrab kalau berkumpul seperti ini," kata Rico memaksa.
"Mbak? Itu hanya alasan mas Rico saja kan? Mas Rico pasti ingin dekat dengan Mbak Nami," bantah Vera.
"Hei, Vera. Nami itu istriku. Dia itu perempuan ku. Jadi kata-kata kamu itu sungguh merendahkan dia," kata Yugi yang mulai tidak sabar mendengar Vera bicara. Nami terkejut. Dia menoleh pada Yugi. Begitu pula dengan Rico.
"Merendahkan?" tanya Vera seraya mencibir.
"Kamu pikir Nami mau di dekati begitu saja oleh Rico? Selain aku yang akan melarang Rico mendekati Nami, istriku ini juga pasti menolak jika Rico mau mendekatinya. Dia bukan wanita tidak tahu posisi. Nami mengerti dia harus menghindar saat ada pria yang ingin dekat dengannya, karena dia sudah menjadi istri orang," jelas Yugi membela istrinya.
"Yahhh ... Mbak Nami kan memang bisanya itu. Makanya kan dia enggak cepat dapat jodoh karena bisanya ya hanya menunggu satu pria saja," kata Vera seraya melirik kakaknya. Sengaja menyindir.
"Benar. Karena aku menunggu satu pria bodoh, aku pun ikutan bodoh. Makanya aku di beri pria baik ini untuk jadi suamiku," sahut Nami seraya tersenyum savage ke Vera dan Rico. Bahkan dia membelai pipi Yugi yang tersenyum padanya.
"Benar. Karena aku menunggu satu pria bodoh, aku pun ikutan bodoh. Makanya aku di beri pria baik ini untuk jadi suamiku," sahut Nami seraya tersenyum savage ke Vera dan Rico. Bahkan dia membelai pipi Yugi yang tersenyum padanya.
"Sebaiknya kita cari tempat sendiri saja." Vera memaksa untuk pergi. Namun entah kenapa Rico justru ingin menetap. Padahal melihat jari-jari Nami menyentuh pipi Yugi dengan mesra, dia kesal.
__ADS_1
"Gabung saja dengan mereka." Rico mengambil keputusan.
Rico?!! teriak Vera di dalam hati. Dia tidak menyangka Rico tetap memilih gabung dengan mereka meski kalimat tadi mencibir dia dan dirinya.
Rico bersikap tidak peduli. Dia melepas tangan Vera dan memilih duduk di kursi yang sama dengan Yugi dan Nami. Keduanya saling pandang. Kenapa Rico memaksa Vera untuk tetap bergabung kalau nyatanya dia tidak setuju?
Akhirnya Vera juga ikut duduk di sana.
Suasana terlihat memanas di antara mereka berdua. Yugi dan Nami memperhatikan. Namun mereka mencoba mengabaikan. Rupanya Vera pintar sekali mengambil hati. Dia tetap berusaha memedulikan Rico meskipun hatinya dongkol karena harus gabung dengan Nami.
"Mbak Nami kenapa langsung pulang waktu pesta Vera? Mama nyariin, lho," kata Vera.
"Jadi kalian itu pulang lebih awal?" tanya Rico.
"Ya. Kita kelelahan. Jadi aku menyarankan padanya untuk pulang." Yugi menjawab. Rico menganggukkan kepala mengerti.
"Iya, tapi Mbak Nami enggak pamit sama mama. Sampai mama sempat bingung saat mau foto. Jadinya acara kita enggak ada foto Mbak Nami sama sekali," kata Vera.
"Tidak apa-apa. Jadi kalian enggak perlu canggung saat foto karena harus ada aku di sana," sahut Nami. Vera mendengus.
...______...
__ADS_1