Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 79 : Mereka tidak pernah merasa salah


__ADS_3

"Aku sudah mencoba bersikap baik dengan berbakti dan menuruti semua keinginan mama untuk menutupi kesalahan Vera. Meskipun mama tahu Vera mendekati kekasihku, mama diam. Bahkan mendukung untuk menikahkan mereka tanpa tahu perasaanku."


Mama dan Vera mendengus mendengar itu.


"Huh. Bukannya akhirnya kamu menikah dengan Yugi?" sembur Vera.


"Aku juga terpaksa mau menikah dengan pria yang menjadi tunangan Vera karena aku masih berpikir untuk berbakti pada mama sebagai orang tuaku. Itu ketika aku tidak mengenal dengan baik siapa pria itu, bahkan tidak ada kata cinta di antara kita." Nami mengingat lagi kisah itu. Sifa mengelus lengan Nami.


"Tapi akhirnya kamu senang kan? Karena Yugi ternyata lebih banyak uang daripada Rico," dengus Vera. Bibirnya mencibir. Inilah yang membuat Vera uring-uringan. Dia salah membuang Yugi yang ternyata jauh lebih baik dari kekasihnya itu. Bahkan dia juga gagal bersama dengan Rico yang seharusnya bisa membiayai hidupnya.


"Itu juga bukan keinginanku. Aku tidak pernah memilih Yugi. Kalian lah yang menyodorkan Yugi padaku. Jadi itu adalah ulah kalian sendiri, bukan aku," bela Nami. "Tidak salah aku mendapatkan Yugi. Itu bonus untukku." Nami sedikit menyombongkan diri.

__ADS_1


Semua tahu persis kalau memilih Yugi bukan keputusannya. Namun Vera dan mama seakan terus saja menuduh Nami yang merencanakan semua ini. Mereka enggan menyalahkan diri sendiri. Dua orang jahat itu ingin mencari kambing hitam dari semua kesialan yang sebenarnya karena mereka sendiri.


"Alah ... kamu itu sok lugu, Nami. Sekarang saja kamu masih menggoda Rico. Lihatlah ulah mu. Rico sudah tidak peduli lagi padaku. Karena kamu dia menceraikan ku. Ini semua karena kamu!” tuding Vera tidak peduli pada Kamu itu pembawa sial. Mulai dari papa yang meninggal, lalu sekarang Rico yang pergi meninggalkan aku. Semua kesialan ini berasal dari kamu!" ujar Vera marah dan mendorong tubuh Nami dengan kuat.


Karena tidak siap, tubuh Nami terdorong ke Belakang. Badan itu limbung. Terhuyung menabrak papan promo yang ada di depan outlet baby dan akhirnya jatuh ke lantai.


"Nami!" teriak Sifa yang gagal menahan tubuh perempuan itu.


“Ughh ...,” keluh Nami seraya memegangi perutnya.


Orang-orang yang ada di sana mulai berdatangan dan mendekat. Seseorang berteriak meminta tolong pada sekuriti untuk membawakan kursi roda. Melalui Handy talkie (HT) yang di pegang sekuriti itu, kursi roda datang dengan cepat.

__ADS_1


Tubuh Sifa gemetar saat melihat ada jejak darah dari balik rok Nami. Itu terlihat saat sekuriti membantu mengangkat tubuh Nami untuk duduk di atas kursi roda.


Vera mundur sejenak karena terkejut. "Ma," lirih Vera yang terlihat takut melihat keadaan Nami. "Ma." Tangan Vera mencengkeram lengan mamanya yang diam saja dengan keras.


"Kenapa bisa jadi begini?" keluh mama akhirnya. "Sebaiknya kita cepat pergi. Ayo, Vera. Kita segera menjauh." Mama menarik lengan Vera yang masih panik untuk segera pergi.


Dengan tangan gemetar, Sifa mencoba mengubungi Yugi. Untung saja pria itu cepat menerima telepon Sifa.


"Ya, Sifa ada apa?"


"Na-nami. Nami." Sifa terbata-bata.

__ADS_1


"Nami? Ada apa dengan Nami?!"


..._____...


__ADS_2