Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 26 : Cobaan


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah keluarga Nami.


Pagi ini Nami membuat kopi di pantry perusahaan. Dia lagi sendiri. Saat itu Rico yang melintas menemukan dirinya. Pria ini berhenti dan mencoba berbelok ke pantry. Sepertinya memang ingin bicara dengan Nami.


"Selamat pagi, Nami," sapa Rico. Nami yang sedang mengaduk kopi, menoleh.


"Pagi," sahut Nami singkat.


"Kamu enggak apa-apa?" tanya Rico. Nami yakin itu karena kekakuan di rumah mama.


"Enggak."


"Aku khawatir saat suami kamu bilang kamu sakit. Aku pikir akan bertemu dengan kamu lagi di sana, ternyata tidak. Kamu sudah pulang dengan Yugi," kata Rico panjang.


Nami tidak bereaksi banyak. Dia hanya menyesap kopinya perlahan. Setelah itu dia menoleh pada Rico.


"Tidak perlu susah payah mengkhawatirkan aku, Rico. Sudah ada Yugi untuk melakukan itu. Yang perlu kamu lakukan adalah, lebih peduli pada Vera yang sedang mengandung anakmu," desis Nami.


"Aku tahu itu," ujar Rico kemudian menghela napas berat.


“Kalian hebat. Bisa menyembunyikan kebusukan itu dariku. Aku salut.” Bibir Nami tersenyum sinis.


Saat itu Mila dan Ina juga muncul di pantry. Rico urung untuk menanggapi kalimat dingin Nami. Mereka terkejut dengan adanya Rico di tempat ini. Apalagi hanya ada mereka berdua di sini.


"Pagi, Pak Rico."


"Oh, pagi juga. Kalian mau bikin kopi?" tanya Rico ramah.


"Iya, Pak," jawab Ina. Mila hanya mengangguk saja.


"Silakan. Saya sudah selesai. Saya mau kembali ke ruangan. Aku duluan Nami," pamit Rico. Nami mengangguk pelan. Kemudian mengangguk pada kedua perempuan yang baru datang.


"Iya, Pak."


Semua memperhatikan punggung pria itu hingga lenyap. Setelahnya mereka langsung mendekat ke Nami.


"Eh, ngapain dia ke sini?" tanya Ina.


"Kalian enggak lihat dia ngapain?" tanya Nami balik.


"Ih, enggak basa-basi nih," ujar Ina gemas sama Nami. Setelah membuat kopi, mereka kembali ke ruangan.

__ADS_1


"Gimana kabar kalian?" tanya Mila ke Nami.


"Kalian siapa maksud kamu?" tanya Nami.


"Kamu dan Yugi." Mila menjawab.


"Oh, baik."


"Hanya baik?" tanya Ina ingin tahu lebih banyak.


"Terus?" tanya Nami tidak paham.


"Gimana malam pertama kalian?" tanya Ina teman paling jahil di antara lainnya. Mila senyum. Nami menipiskan bibir.


"Apa sih yang kalian tanyakan? Malam pertama apaan? Kalian kan tahu sejarah kita. Dasar pernikahan ini bukan cinta," kata Nami.


"Walaupun begitu, bukannya Yugi juga laki-laki. Masa sih dia enggak tertarik buat begituan." Kalimat Mila benar.


"Benar. Masa dia lihat kamu tidur pulas diam aja. Pasti ada waktunya dia nerkam juga, kan?" tanya Ina menggerakkan alisnya.


Nami melirik mereka dengan sebal.


"Yugi itu bukan seperti yang kalian pikirkan. Mungkin dia memang laki-laki. Juga punya naluri liar seperti yang kalian pikir tadi, tapi dia itu baik. Dia tahu dan mengerti kalau dasar pernikahan ini bukan cinta, jadi dia enggak sembarang mau begituan. Yugi itu tahu keadaan." Nami meluruskan.


"Jelas lah." Nami nyolot.


"Cie ... yang enggak setuju suaminya di ejek. Cie ... cie ...," ledek Mila dan Ina bersamaan. "Di belain nih ye ... Katanya enggak cinta, tapi saat ada orang yang ngatain Yugi buruk, enggak terima."


"Terserah. Yang penting aku tahu dia itu enggak asal nyosor aja. Meskipun kemarin sempat ..." Nami diam. Dia tidak harus cerita soal Yugi yang memeluknya. Namun dua manusia itu sudah terlanjur fokus pada kalimatnya. Nami jadi tertangkap basah.


"Sempat ngapain, Nami?" tanya Mila.


"Iya. Lanjutin aja." Ina semangat. Nami menggaruk keningnya. Jika berhadapan dengan dua manusia ini, dia harus hati-hati saat bicara.


“Kalian sudah ehem-ehem, ya ... tapi enggak ngaku karena malu sama kita.” Ledekan dua manusia itu makin menjadi saja. Ini membuat Nami ingin membungkam mulut mereka.


“Kita enggak lakuin apa-apa. Dia hanya memelukku.” Nami menggeram saat mengatakannya.


"Memeluk? Benarkah? Wahhh ..." Mila dan Ian langsung heboh. Bahkan Ina memukul-mukul lengan Mila karena gemas. Nami tersenyum canggung melihat reaksi teman-temannya. Bagaikan anak kecil, mereka kegirangan mendengar cerita Nami.


"Memeluk pun itu awal yang bagus. Karena apa? Karena kamu tipe perempuan yang sulit menerima seseorang. Jadi saat kalian sudah berpelukan, itu berarti kamu menerima dia." Mila bicara.

__ADS_1


Nami tersenyum tipis mendengarkan Mila bicara. Mungkin ia memang menerima keberadaan Yugi. Karena pria muda itu mulai membuatnya nyaman.


Obrolan ini membuat Nami teringat pria itu. Dia sedang apa ya sekarang?


...***...


Di tempat kerja Yugi.


Plok! Plok!


Semua orang di ruang rapat ini bertepuk tangan. Presentasi yang di tunjukkan Sifa terlihat bagus dan mumpuni. Dia memang kebanggaan di perusahaan advertising ini.


"Untuk menangani iklan kecantikan memang Sifa yang paling cocok," kata Reno mengacungkan jempol pada perempuan itu. Sifa tersenyum puas. Lalu ia melihat ke arah Yugi yang diam tidak berkomentar. Pria itu menunduk melihat ke ponsel. Sepertinya dia sedang menanti pesan dari seseorang.


"Lalu bagaimana pendapatmu, Yugi? Aku belum mendengarnya." Sifa tidak ingin hanya Reno yang berpendapat. Dia ingin pendapat pria ini. Yugi mendongak. Pria ini diam sejenak. "Tidak mungkin kamu tidak mendengarkan presentasi ku, kan?" tanya Sifa dengan bola mata melebar. Seakan dia akan marah kalau Yugi benar-benar tidak mendengarkannya tadi.


"Aku dengar. Aku juga melihat. Bukannya  di layar laptop ku juga ada presentasi mu." Yugi membalikkan layar laptop miliknya pada Sifa. Semua orang melihat ke arah monitor itu sekilas. Sifa menipiskan bibir melihat itu.


"Sifa tidak ingin kamu melewatkan presentasinya, Yugi." Reno memperjelas. Yugi mengangguk.


"Aku tidak melewatkan. Ide kamu soal iklan kosmetik ini sangat bagus. Seperti biasa, kamu memang orang terbaik Expose adv," jelas Yugi. Sifa tersenyum senang mendengar pujian itu.


Setelah menyelesaikan presentasi terakhir, mereka pun beristirahat. Sebelum keluar untuk makan siang, mereka ngopi dulu di pantry perusahaan.


"Gimana soal proyek kamu, Ren?" tanya Yugi pada Reno.


"Sebenarnya aku ada janji siang ini, tapi sepertinya orang itu membatalkan."


"Kamu enggak jadi mendapat proyek itu?" tanya Sifa.


"Bukan. Dia membatalkan karena ada urusan penting. Sepertinya orang itu akan menikah dekat waktu ini. Jadi rencana pertemuan kita di undur." Reno menyesap kopinya.


"Oh, menikah ya. Itu memang penting sih." Yugi mengerti.


"Jika penting, kenapa kamu bisa tiba-tiba saja menikah Gi?" tanya Sifa mengejutkan. Reno dan Yugi menoleh pada perempuan itu bersamaan. "Bukannya itu perlu pemikiran yang matang karena begitu penting. Kamu sendiri menikah mendadak." Sifa mengatakan itu seakan keputusan Yugi menikah adalah terburu-terburu.


"Kenapa jadi bicara tentang Yugi ..." Reno tergelak mendengar itu. Namun Yugi tidak menganggap itu sebuah lelucon. Dia diam.


"Bukankah sudah aku katakan jangan membahas soal pernikahanku, Sifa. Kamu tahu, itu pertanyaan di luar batas kamu sebagai temanku. Cukup kamu melihat saja tanpa bertanya. Apapun yang terjadi padaku, itu urusanku," tutur Yugi membuat senyum Reno yang menganggap itu lelucon terdiam.


..._____...

__ADS_1



__ADS_2