
"Kamu kan pernah telepon Mbak pakai nomor dia. Pas itu mbak save nomor dia."
Nami hanya mendengarkan.
"Kenapa dia memberi tahu Mbak Yana ...," gumam Yugi pelan.
"Sebenarnya Bunda yang nyariin kamu, tapi ternyata kamu enggak bisa di telepon. Bunda minta tolong aku untuk menghubungi kamu. Jadi aku mencoba menelepon Reno. Namun ternyata yang menerima teman kamu yang perempuan, itu. Sifa. Dia cerita tentang keadaan Nami pada Mbak," terang Mbak Yana seraya menoleh pada Nami. Perempuan ini tersenyum tipis saat Mbak Yana mengelus wajahnya.
Yugi menghela napas berat.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa bisa ada seorang wanita melakukan hal itu pada Nami?" tanya Bunda membuat Nami menunduk. Ia malu karena ini menyangkut keluarganya.
"Mereka hanya salah sasaran saja, Ma." Yugi menyembunyikan fakta. Nami diam membiarkan Yugi berkreasi dengan berbagai alasan.
"Benarkah? Kenapa ada orang yang begitu jahat?" tanya Bunda menyayangkan kejadian itu. "Untung saja Nami dan anak kalian tidak apa-apa." Kini Bunda menoleh lagi pada Nami. Melihat dengan iba.
__ADS_1
Ini sungguh memalukan, batin Nami.
"Apa sudah kamu tuntut mereka?" tanya Mbak Yana sambil melipat tangan.
Hah?! Nami terkejut. Dia mendongak dan menoleh pada Mbak iparnya itu dengan cepat.
"Nami dan anakku belum pulih dengan benar." Yugi memberi jawaban ambigu. Entah sudah atau belum.
"Ini sudah termasuk penyerangan, Yugi. Bahkan sampai membuat bayi kalian harus terlahir secara prematur." Mbak Yana mengatakannya dengan emosional. Dia begitu menyayangi adik iparnya.
"Aku tahu," sahut Yugi ingin kakaknya segera berhenti mengatakan itu. Karena sejak tadi Nami menatap kakaknya dengan tatapan tidak nyaman. Ya, itu menyangkut keluarganya.
"Tidak menuntut mereka? Itu harus, Nami. Mereka itu sudah melakukan penyerangan," kata Yana.
"Aku tidak bisa membiarkan mereka di tuntut karena mereka keluargaku, Mbak," ungkap Nami mengejutkan. Yugi menatap istrinya dengan sedih. Dia benar. Nami tidak akan setuju soal menuntut Vera dan mamanya ini.
__ADS_1
"K-keluarga?" tanya Yana terkejut. Sampai-sampai dia terbata ketika menanyakan lagi karena takut Indra pendengarannya keliru. Bunda mengerjapkan mata.
"Ya. Dia adik dan mamaku," ungkap Nami setelah menelan ludah lebih dulu karena rasa malu dan miris secara bersamaan. Yana dan Bunda menoleh pada Yugi.
"Apa itu benar, Yugi?" tanya Bunda masih bicara dengan lembut. Nami menatap Yugi. Ia ingin pria ini juga jujur. Yugi tahu arti tatapan itu. Ia sedang memohon.
"Ya. Itu benar," sahut Yugi akhirnya mengatakan kebenarannya. Yana langsung menutup mulutnya karena takut menganga karena sangat syok. Mama menatap Yugi dan Nami bergantian. Memastikan bahwa itu benar sekali lagi.
Tidak ada penjelasan yang mengatakan mereka salah bicara, berarti itu benar. Keluarga Nami sendirilah yang melakukan penyerangan seperti itu.
Mama menatap menantunya iba. Semua diam tidak mengatakan apa-apa. Beberapa detik hening karena begitu terkejutnya mendapatkan fakta.
"Kamu tidak apa-apa, Nami?" tanya Bunda memacahkan keheningan yang menyerang barusan.
"Ya, Bund." Nami menyahut dengan pelan. Jika tadi beliau bertanya tentang keadaan tubuhnya, sekarang pertanyaan itu untuk keadaan hatinya. Bagiamana kondisi jiwa Nami setelah di perlakukan seperti itu oleh keluarganya sendiri.
__ADS_1
Bunda mulai mengulurkan tangan dan memeluk Nami.
..._____...