
Nami keluar dari ruangan Rico di sambut dua pasang mata milik Ina dan Mila yang tidak sengaja melihat. Mereka berdua langsung berhambur mendekati Nami dengan heboh seperti perkiraan Yuli tadi.
"Nami ... Kamu berhenti bekerja? Iya?" tanya Ina sembari memegang kedua tangan Nami. Kepala perempuan ini mengangguk.
"Aku pikir kamu enggak masuk karena mungkin sakit setelah kejadian kemarin. Kenapa tiba-tiba muncul terus bilang berhenti? Gimana sih, kok mendadak sekali. Kan kita jadi syok ..." Mila menunjukkan raut wajah sangat terkejut memang.
"Kamu nggak ingin ketemu kita lagi?" rengek Ina.
"Kenapa begitu? Meskipun aku berhenti aku kan masih bisa ketemu kalian kalau kita bikin janji ..."
"Ih, tapi kamu jahat mendadak begini." Ina mengguncang-guncangkan lengan Nami.
"Apa ini perintah Yugi?" selidik Mila. Ina menyoroti Nami.
"Dia memang mengusulkan ini, supaya aku tidak lagi bertemu Vera. Ini semua demi kebaikan aku. Aku tidak harus terus menerus mendapat serangan dari dia. Yugi tidak setuju karena Vera sudah mulai melakukan hal yang keterlaluan," jelas Nami.
Kedua teman Nami mengangguk mengerti. Namun tetap saja rasanya berat jika Nami harus berhenti. Mereka pun memeluk Nami bersamaan. Mirip Teletubbies. Setelah beberapa detik mereka melepas pelukan.
"Tapi kamu tetap bisa dihubungi kan?" tanya Ian berharap.
"Tentu saja. Memangnya aku kenapa sampai tidak bisa di hubungi." Nami bicara dengan setengah bercanda.
"Oke. Aku akan sering telepon kamu nanti." Mila bertekad.
"Silahkan." Nami mempersilakan.
**
Yugi keluar dari mobil saat menunggu Nami keluar. Ponsel di sakunya bergetar. Itu Reno.
"Hei, kamu tidak muncul di kantor dan tanpa kabar."
"Maafkan aku. Aku lupa memberitahu."
"Sebenarnya itu bukan masalah karena kamu pemiliknya, tapi ada apa? Apa ada hal mendesak? Aku sempat cemas. Ini tidak biasanya."
"Aku sedang mengantarkan istriku ke kantor untuk mengundurkan diri."
"Mengundurkan diri? Ini mendadak? Kenapa aku belum mendengar sama sekali dari kamu?"
"Ya. Memang ada sesuatu yang mendesak. Aku akan datang siang. Jadi katakan apa saja saat ada yang mencariku."
"Oke baiklah. Semoga tidak ada hal yang buruk terjadi." Klik! Reno menutup teleponnya. Saat itu muncul Nami dari lorong perusahaan. Tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, perempuan terus saja berjalan lurus.
"Nami. Nami!" Yugi mengeraskan suaranya sedikit karena wanita itu tidak mendengar panggilannya. Nami langsung menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
__ADS_1
"Mas Yugi?"
Yugi berjalan mendekat ke istrinya.
"Cepat sekali jalannya?"
"Aku takut Mas Yugi kelamaan nunggu. Bukannya Mas Yugi harus kerja?"
"Iya. Aku sudah mengatakan pada Reno agak siang baru datang," kata Yugi tenang. "Kita pulang?" Yugi menyodorkan lengannya pada Nami. Perempuan ini meraih lengan Yugi dan menggandengnya.
"Ya." Nami tersenyum.
**
Yugi lanjut berangkat kerja, sementara Nami berdiam di rumah. Kali ini ada bibi yang bersih-bersih dan Pak satpam yang berjaga di depan. Itu semua di siapkan Yugi demi keamanan Nami dari keluarga angkatnya. Dia tidak ingin kecolongan lagi.
Terdengar suara mobil Yugi di luar. Nami yang baru saja selesai mandi langsung keluar menyambut suaminya.
"Wahh ... ada apa ini? Kenapa penyambutan seperti ini?" tanya Yugi heran.
"Ini pertama kalinya aku ada di rumah saat kamu pulang kerja. Apa ini berlebihan?" tanya Nami. Yugi tersenyum sambil mengusap kepala istrinya.
"Tentu saja tidak. Aku hanya terkejut saja karena ini pertama kalinya. Aku senang," ujar Yugi mengutarakan isi hatinya. Nami tersenyum sambil memeluk pria ini.
"Sepertinya ... Jika aku di rumah saja, aku merasa makin lelah," kata Nami memulai pembicaraan penting.
"Lelah? Apa kamu membantu bibi bersih-bersih?" tanya Yugi heran.
"Bukan itu. Bukan lelah fisik sebenarnya. Aku bosan di rumah saja." Nami mengatakannya dengan hati-hati. Ia meringis mengatakan itu.
"Bosan?" Yugi mengamati ekspresi istrinya. "Kamu ingin menginginkan sesuatu?"
Nami menganggukkan kepala. Tangannya berhenti membuka kemeja.
"Coba katakan, apa itu?"
"Mmm ... aku ingin bekerja lagi."
"Kamu tidak berpikir untuk kembali ke perusahaan itu kan? Aku tidak bisa memantau jika kamu kembali ke sana, sayang ..."
"Aduh ... bukan. Aku bukan ingin kembali ke perusahaan itu. Itu tidak mungkin meskipun aku mau." Nami mencoba menenangkan pria ini.
"Lalu?" tanya Yugi penasaran. Jari Nami melambai. Ingin pria ini mendekat padanya. Yugi menuruti. Ia merundukkan tubuh untuk mendengar apa yang akan di katakan istrinya. Nami berjinjit mencoba berbicara di dekat telinga Yugi.
"Aku ingin kerja di perusahaan mu," bisik Nami membuat Yugi tersentak kaget.
__ADS_1
"Kamu ingin bekerja di sana?" tanya Yugi tidak percaya. Nami menganggukkan kepala. "Serius?" tanya Yugi. Dia ingin meyakinkan lagi.
"Iya. Aku serius." Nami memeluk tubuh suaminya.
"Mmmm ..."
"Enggak boleh ya?" tanya Nami sambil menjauhkan wajahnya dari Yugi. Tangannya masih memeluk tubuh pria ini.
"Bukan. Hanya saja jika satu tempat kerja denganmu itu ..." Yugi mencoba mencari kata yang tepat.
"Apa aku merepotkan?" tebak Nami. Kepala Yugi menggeleng. "Apa suami istri tidak boleh satu kantor?"
"Aku pemiliknya. Jadi aku bisa membuat peraturan apapun," bantah Yugi tegas.
"Oh, iya. Lalu apa?" tanya Nami penasaran.
"Mungkin ... Aku tidak bisa fokus ke pekerjaan karena ingin terus memandang mu," ucap Yugi membuat Nami merona. "Juga tidak tahan untuk mencium kamu seperti ini ..." Yugi langsung mendaratkan ciuman di bibir istrinya. "Aku takut konsentrasi ku buyar," lanjut Yugi setelah ciuman selesai.
Bibir Nami tersenyum.
"Bukannya itu bagus Mas? Jadi Mas Yugi enggak akan suntuk karena ada aku di sana." Nami menepuk pipi suaminya pelan dengan gemas. Yugi tergelak.
"Begitu ya ... "
"Aku janji enggak akan ganggu pekerjaan Mas kalau ada di sana. Jadi mas tidak akan terganggu. Boleh ya ... Aku bosan di rumah," kata Nami merajuk. Untuk dia yang memang sudah terlalu lama bekerja, saat santai justru jadi melelahkan dan membosankan.
"Baiklah, baik. Aku mengerti. Besok aku bicarakan pada Reno. Kamu akan di letakkan di mana."
"Walaupun aku enggak mau ganggu, Mas ... bukan berarti aku minta kerja di tempat yang jauh sama Mas ya ... Aku tetap harus dekat dengan Mas Yugi. Aku enggak mau jika beda tempat," ancam Nami. Dia langsung memberi kriteria tempat kerja untuknya.
"Hahaha ... Mana ada orang yang baru mau bekerja sudah meminta tempat seenaknya seperti itu."
"Mau gimana lagi? Suamiku kan pemilik perusahaan itu." Nami memeluk tubuh Yugi erat. Yugi mengelus kepala istrinya.
"Ough ...," keluh Nami.
Yugi terkejut. "Ada apa sayang?"
"Aku merasa perutku tidak nyaman." Nami menegakkan tubuhnya seraya mengelus perutnya. "Tiba-tiba merasa mual."
"Apa kamu belum makan karena menunggu aku datang?" tanya Yugi. Nami menganggukkan kepala. "Aku akan mandi cepat. Sebaiknya kita segera makan malam. Tunggu di sana. Kamu bisa makan lebih dulu."
..._______...
__ADS_1