Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 76 : Nasehat dokter


__ADS_3

Perut Nami mulai sangat kelihatan. Besar dan penuh. Kini menjalani waktu kehamilan sekitar tujuh bulan. Bahkan bayi di dalam perut Nami lebih banyak bergerak daripada biasanya. Ini mengundang Yugi untuk selalu ingin mencium dan mengelus perut buncit itu.


"Aduh, sayang ... Kamu aktif sekali ya. Mirip siapa ini?" tanya Yugi mengajak bayinya berdialog. Nami tersenyum.


"Apa aku boleh jalan-jalan dengan Sifa besok, Mas?" tanya Nami.


"Kemana?" Yugi tetap mengajak bayi dalam perut Nami bicara. Jadi ia bertanya tanpa menoleh pada istrinya.


"Mal yang tidak jauh dari perusahaan kita itu," jawab Nami. Memang ada mal dekat perusahaan. "Karena aku bilang dokter menyarankan untuk sering jalan kaki, Sifa mengajakku jalan-jalan."


"Wah, dia jadi orang baik sekarang ..." Yugi terdengar menyindir.


"Jangan begitu. Bukannya dia salah satu penggemar mu," canda Nami. Yugi mendongak.


"Penggemar?"


"Iya. Bukannya suamiku ini di sukai banyak wanita?" Nami mengusap rambut Yugi dengan lembut. "Bahkan semuanya cantik cantik."


"Semua itu siapa? Jangan membuat gosip." Yugi menarik tubuhnya ke atas agar sejajar dengan istrinya. Karena sejak tadi ia merunduk mengelus perut besar itu.

__ADS_1


"Benar kan. Ada Sifa. Ada Vera. Semuanya ingin memiliki mu awalnya."


"Itu terserah mereka. Yang penting hatiku hanya tertarik pada perempuan di depan ku ini." Cup! Yugi mengecup bibir Nami. Jika tadi Yugi sibuk mengajak bayi dalam perut berinteraksi dan dialog, kini Yugi memesrai istrinya. Mencumbu dan mencubit mesra.


"Jadi boleh?"


"Boleh. Asal hati-hati," nasehat Yugi.


"Tentu." Nami mengusap pipi suaminya.


**


Di kantor.


"Hmmm mungkin baju bayi. Juga buah. Juga makan," kata Nami.


"Ya. Kalau makan, wajib itu." Sifa menjentikkan jarinya puas. Mereka tertawa. "Jadi dokter memang menyarankan sering jalan kaki kan?" selidik Sifa takut keliru.


"Iyaaa .... Yugi juga mengijinkan. Berarti aku enggak bohong." Nami menarik pipi Sifa gemas.

__ADS_1


"Oke. Itu artinya kita bolos pas jam kerja siang nanti dong," kata Sifa.


"Enggak apa-apa. Kamu kan sedang menemani istri bos. Bolos dikit saat jam kerja enggak apa-apa," kata Nami membuat Sifa tergelak.


Jalan kaki bagi ibu hamil begitu banyak manfaatnya. Jadi saran ini tepat. Apalagi untuk usia seperti ini. Salah satunya untuk mengurangi resiko preeklampsia.


Sekitar jam makan siang. Nami berangkat dengan Sifa naik mobil wanita ini.


"Kan perut kamu sudah besar, kenapa masih saja bekerja, suami kamu kan pemilik perusahaan?" Sifa bertanya sambil menyetir.


"Aku tidak biasa diam di rumah. Sejak dulu kan terus kerja tuh, jadinya pas keluar dari perusahaan yang lama, rasanya hampa. Diam di rumah saja bosan. Jadinya aku terus meminta pada mas Yugi untuk memperbolehkan aku bekerja," jelas Nami.


"Buat istri pemilik sih, bukan kerja itu," ejek Sifa.


"Orang lain tidak boleh iriii ...," cibir Nami. Mereka tergelak bersama.


Karena tidak begitu jauh, tidak perlu lama mereka sudah sampai di pelataran parkir mal.


Sungguh menjengkelkan bahkan di tempat ini, Nami harus bertemu mama dan Vera. Sifa sudah melirik tajam ke arah mereka.

__ADS_1


"Kenapa harus bertemu dengan dua orang menyebalkan itu?" Sifa menipiskan bibir geram.


...____...


__ADS_2